Berbagi Sebening Hati

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Friday, 3 June 2016

Termasuk Kelompok Mana Bentuk Wajah Anda: Teroris, Fedofil, atau Koruptor?



Bisakah Anda menentukan seseorang sebagai penjahat seperti teroris, pedofil, atau koruptor dari tengah kerumunan orang? Di situs resmi perusahaan teknologi Israel, Faception,  mengatakan bentuk wajah dapat digunakan untuk memprediksi kepribadian dan perilaku seseorang.

Klaim ini didasari pada kombinasi dari dua hal berikut:
1. Dipengaruhi oleh gen.
Gen dikatakan memainkan peran lebih besar dalam menentukan ciri-ciri kepribadian seseorang seperti keterampilan dan kemampuan sosial ketimbang cara dia dibesarkan oleh orang tua, peneliti mengklaim.

Para peneliti dari Universitas Edinburgh mempelajari lebih dari 800 pasangan kembar identik dan non-identik untuk mengetahui apakah gen memiliki efek lebih besar membuat orang-orang sukses dalam hidup. Ditulis dalam Journal of Personality, para peneliti menemukan bahwa kembar identik dua kali lebih mungkin memiliki ciri-ciri kepribadian yang sama dari pada kembar non-identik. Itu menunjukkan bahwa karakter manusia sangat ditentukan oleh DNA.

2. Wajah adalah refleksi dari DNA kita.
Para peneliti telah mengidentifikasi lima gen yang membentuk wajah seseorang. Para peneliti sebelumnya menyadari bahwa genetika memainkan peran besar dalam menentukan bentuk wajah, setelah menemukan kembar identik berbagi DNA. Namun, hanya sedikit yang diketahui tentang kira-kira gen mana yang terlibat. Tiga gen dianggap memiliki peran dalam susunan fitur wajah, dan penelitian terbaru menegaskan keterlibatan gen-gen tersebut.

Dari percobaan yang dilakukan terhadap tikus, para peneliti mengidentifikasi ribuan daerah kecil DNA yang mempengaruhi perkembangan fitur wajah. Para peneliti mengatakan bahwa meskipun uji coba dilakukan pada hewan, wajah manusia adalah mungkin berkembang dengan cara yang sama. Bahkan, temuan diklaim sudah sangat mungkin menghasilkan beberapa kesimpulan tentang penampilan tersangka kejahatan dari DNA mereka sendiri.

Atas dua prinsip itulah Faception mengklaim dapat mengidentifikasi teroris hanya dengan mengidentifikasi wajah. Perusahaan sebagaimana dilansir dari laman Mirror, 25 Mei 2016, menggunakan 15 klasifikasi untuk menganalisis rincian wajah yang tidak dapat terdeteksi dengan mata telanjang, bahkan dengan tingkat akurasi 80 persen.

"Kami memahami manusia jauh lebih baik daripada manusia saling memahami," kata kepala eksekutif Faception Shai Gilboa. "Kepribadian kita ditentukan oleh DNA dan tercermin di wajah kita. Ini semacam sinyal."

Faception mengatakan teknologi tersebut telah sukses mengidentifikasi sembilan dari 11 tersangka teror Paris, tanpa diberi informasi apapun tentang keterlibatan mereka.

Teknologi ini tidak hanya dapat digunakan untuk mengidentifikasi teroris tetapi juga pedofil, jenius, penjudi (pemain poker) dan penjahat kerah putih.

Berikut adalah 8 dari 15 klasifikasi yang ditetapkan Faception untuk menentukan karakter seseorang:

Orang berkualitas unggul
Diberkahi dengan keterampilan penalaran, seperti logika, keterampilan spasial. Orang-orang ini bisa menghasilkan sesuatu sendiri, pemikir bebas dan pengusaha. Sangat berbakat, cenderung berorientasi kurang sosial, memegang teguh nilai kebenaran, dan berorientasi pada fakta dan logika lebih dari hubungan emosional. Mereka juga kreatif dan berpikiran independen, dengan kemampuan konsentrasi yang luar biasa, memiliki intelektualitas tinggi dan kapasitas mental yang memadai

Peneliti akademik
Diberkahi dengan pemikiran runut, kemampuan analisis yang tinggi, banyak ide, pemikiran yang mendalam dan serius. Kreatif, dengan kemampuan konsentrasi tinggi, kapasitas mental kuat, dansangat bergantung pada data dan informasi.

Pemain Poker Profesional
Diberkahi dengan kemampuan konsentrasi yang tinggi, ketekunan dan kesabaran. Berorientasi pada tujuan, analitis, dengan rasa humor yang kering. Diam, tanpa emosi dan ekspresi emosional. Berpikiran tajam, dengan persepsi kritis yang tinggi.

Pemain Bingo
Diberkahi dengan mental yang sangat kuat, konsentrasi tinggi, berjiwa petualang, dan kemampuan analisis yang kuat. Cenderung kreatif, dengan orisinalitas tinggi dan imajinasi, dan memiliki indera yang tajam.

Promotor Merek
Diberkahi dengan kepercayaan diri tinggi, kepribadian yang berwibawa, karismatik dan magnetik. Memiliki kecerdasan an kemampuan verbal yang tinggi. Cenderung untuk bersikap baik, ramah, langsung dan sangat praktis.

Penjahat Kerah Putih (antara lain koruptor, penggemplang pajak)
Cenderung memiliki harga diri yang rendah, IQ yang tinggi dan karisma. Sering cemas, tegang dan frustrasi, namun kompetitif, ambisius dan dominan. Biasanya suka mengambil risiko dan memiliki rasa humor yang kering.

Teroris
Cenderung agresif, aktif, mencari sensasi, kejam dan keadaan psikologis yang tidak seimbang. Biasanya menderita perubahan suasana hati, rasa rendah diri dan tidak tenang.

Pedofil
Menderita tingkat tinggi kecemasan dan depresi. Introvert, tidak memiliki emosi, sangat berhitung, cenderung pesimis, rendah diri, dan suasana hati yang terus berubah-ubah.

Sumber: Tempo.co
Share:

Wednesday, 1 June 2016

Bila Anak Anda Jadi Korban Kekerasan Seksual



Sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan, atau lelaki sekalipun, sekarang ini bisa jadi sering merasa cemas dan khawatir kalau suatu saat anak kita menjadi korban kekerasan seksual. Baik sekedar berupa pelecehan, maupun – Na’udzubillah, pemerkosaan yang diakhiri dengan  penghilangan nyawa korban. Apalagi di media – televisi dan koran, saban hari selalu saja ada pemberitaan terkait tindak kejahatan yang satu ini.

Kejahatan dalam mengumbar nafsu berahi tidak hanya dilakukan oleh mereka yang memang telah memiliki stigma buruk dalam hidup kesehariannya, orang yang di mata masyarakat sebagai sosok panutan, atau keluarga dekat sekalipun suatu saat tanpa disangka-sangka bisa saja berubah menjadi seorang maniak yang membabi-buta mengumbar nafsu syahwatnya dengan cara sadis dan di luar kewajaran.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah saya, seorang ibu dari kampung sebelah melaporkan kejadian yang menimpa anak gadisnya pada polisi. Berdasarkan pengaduannya, anak gadisnya telah dijadikan ‘model’ video esek-esek dengan cara-cara yang biadab oleh teman-teman prianya. Dan video itu belakangan ini telah beredar luas melalui telpon seluler (HP).

Konon setelah dilakukan penyidikan oleh pihak yang berwajib, ABG siswi sebuah SMA itu selama ini menjalin hubungan khusus dengan teman satu sekolahnya. Keduanya berpacaran sampai suatu saat terjadilah hubungan intim di tempat teman prianya itu.

Tanpa dinyana, hubungan intim ABG berlainan jenis itu ternyata diabadikan melalui HP oleh beberapa orang teman prianya tanpa diketahui anak perempuan itu.dan setelah hubungan intim kedua sejoli itu selesai, teman-teman pria dari kekasih si gadis pun muncul dari persembunyiannya sambil memperlihatkan hasil rekaman yang baru saja terjadi

Betapa kagetnya si gadis, sedangkan teman prianya hanya senyam-senyum saja. Karena berdasarkan pengakuannya kemudian di depan pihak kepolisian, hal itu telah direncanakan memang bersama ‘geng’-nya itu. Dan si gadis lebih terperanjat lagi tatkala teman-teman pacarnya meminta ‘jatah’ seperti yang telah dilakukan barusan bersama pacarnya tersebut. Apabila tidak mau, mereka mengancam bahwa hasil rekaman tadi akan diedarkan.

Apa boleh buat. Dengan terpaksa si gadis pun melayani hasrat bejat mereka. Yang penting kelakuannya tidak diketahui khalayak ramai. Akan tetapi harapan si gadis tidaklah seperti yang dijanjikan semula. Belakangan rekaman itu telah beredar luas. Hingga ibu si gadis pun ahirnya mengetahuinya pula

Dari kejadian itu, ibu si gadis itu pun ahirnya mengaku kalau selama ini dirinya kurang melakukan kontrol terhadap ananknya. Dirinya kadung percaya kalau anak gadisnya dianggap sudah dewasa, dan sudah mampu menjaga diri.

Begitulah. Ragam kejahatan seperti itu tidak menutup kemungkinan bisa saja menimpa anak kita juga. apabila hal seperti itu terjadi, sebagai orang tua kita sudah tentu merasa terpukul – seperti ibu si gadis itu. Betapa nama baik keluarga pun menjadi tercoreng hitam. Apalagi kondisi masyarakat kita yang masih mudah memberi stigma buruk terhadap korban. ***

Pernah Dimuat di Kompasiana


Share:

Di Bawah Pohon Sukun Itu, Pancasila Dilahirkan



Pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pidato dalam rapat besar Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Di dalam rapat itu Bung Karno secara berapi-api menyadarkan peserta rapat tentang perlunya Indonesia memiliki dasar negara yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lima prinsip dipaparkan Soekarno beserta relevansinya bagi bangsa Indonesia. Kelima butir itulah yang disebut Soekarno sebagai Pancasila.

Ini pula yang mendasari penetapan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.

Proses perenungan Bung Karno

Buah pemikiran Soekarno akan Pancasila tidak muncul secara tiba-tiba. Pancasila hadir sebagai hasil dari proses perenungan diri Bung Karno selama empat tahun diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende.

Kehidupan Soekarno dan keluarga di Ende serba sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik seperti di kota besar.

Dibuangnya Soekarno ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah memang sengaja dilakukan Belanda untuk memutus hubungan Soekarno dengan para loyalisnya.

Dikutip dari buku "Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara", Soekarno jadi lebih banyak berpikir daripada sebelumnya.

Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor di Ende.

Tak banyak yang bisa dilakukan Bung Karno di tempat pengasingan yang begitu jauh dari Ibu Kota itu.

Sehari-hari, Soekarno memilih berkebun dan membaca. Untuk membunuh kebosanannya dengan aktivitas yang monoton itu, jiwa seni Bung Karno kembali tumbuh.

Dia mulai melukis hingga menulis naskah drama pementasan.

Di sela kegiatan seninya, Soekarno berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama T. A. Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan pastor Pater Huijtink.

Dari sinilah Soekarno menjadi lebih relijius dan memaknai keberagaman secara lebih dalam.

Sebuah tempat favoritnya untuk berkontemplasi adalah di bawah pohon sukun yang menghadap langsung ke Pantai Ende.

Pohon sukun itu berjarak 700 meter dari kediaman Soekarno. Biasanya, Soekarno pergi sendiri ke tempat itu pada Jumat malam.

Di tempat itulah, Soekarno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

Ia memiliki cerita sendiri soal itu. Berikut yang dikisahkan Soekarno:

"Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari... Di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalangi, dengan langit biru yang tak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung.., di sanalah aku duduk termenung berjam-jam. Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti juga samudra luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu di waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada."

Ketika menjadi Presiden pertama Indonesia, Bung Karno kembali mengunjungi Ende pada tahun 1950.

Bung Karno tidak lupa pada pohon sukun favoritnya itu. Di sanalah Bung Karno bercerita proses pencetusan Pancasila yang kini ditetapkan sebagai dasar negara.

Sejak tahun 1980-an, pohon sukun itu kemudian dikenal menjadi Pohon Pancasila. Namun, pohon aslinya sudah mati pada tahun 1970-an.

Pemerintah setempat menggantinya dengan anakan pohon yang sama di lokasi yang sama.


 Sumber:  Kompas.com
Share:

Tuesday, 31 May 2016

Tulisan almarhum Gus Dur Tentang Laksamana Cheng Ho



Laksamana itu Seorang Penyebar Agama
Menuliskan riwayat singkat Cheng Ho (Ma Zeng He) bukanlah kerja yang mudah. Pertama, ia dikenal oleh dua kalangan yang berbeda sebagai muslim dan non-muslim. Dari sudut kemuslimannya, ia adalah seorang dari jutaan orang manusia Tionghoa yang dulunya beragama Islam. Baru kemudian, masjid yang didirikannya lalu digunakan sebagai klenteng (Bio). Dalam sebuah buku berbahasa Prancis yang terbit beberapa tahun lalu, Quatorze Neuf Deux, dinyatakan bahwa ada lima buah kejadian besar yang mengguncangkan dunia. Buku itu menceritakan bahwa pada bahwa tahun 1492, Vasco Da Gamma mencapai kepulauan Bermuda di Amerika Tengah. Dari peristiwa itu, di kemudian hari akan menyusul gelombang datangnya orang-orang Eropa utara (terutama Inggris, Prancis dan Jerman) ke Benua Amerika.

Di samping mereka, ada juga orang-orang Spanyol dan Portugis, yang sekarang membentuk bangsa-bangsa yang hidup di Amerika Tengah dan Selatan. Kedua-duanya sekarang ini dimudahkan penyebutannya menjadi Amerika Latin. Begitu pula, tidak dapat dilupakan orang-orang hitam, yang untuk menghormati mereka disebut sebagai Afro-America, dahulunya bernama Negro. Di kemudian hari, datang juga ke Amerika Serikat para imigran dari Italia, disusul imigran dari berbagai daerah terutama Russia, Armenia, Yunani, dan Lebanon. Sedang dari arah barat datanglah orang-orang Jepang dan Tionghoa, dan abad yang lalu orang-orang India (terutama Bangalore Hyderabad). 

Manusia Indonesia sendiri hanya berjumlah puluhan ribu orang, dan tidak perlu dimasukan ke dalam komponen para pembentuk Amerika Serikat. Oleh sementara orang, kesemuanya itu disebut sebagai ‘panci adukan’ (melting pot), yang sekarang disanggah oleh sementara pihak.

Pada waktu itu, kaum Tionghoa muslim telah berkembang pesat, setidaknya di pantai utara pulau Jawa. Mereka segera ‘berhadapan’ dengan pihak-pihak berbagai agama yang sudah ada terlebih dahulu, seperti kaum Hindu-Budha, terkenal dengan sebutan kaum Bhairawa (sekarang juga disebut Birawa). Dengan meninggalkan Candi Prambanan dan Borobudur, kaum Hindu-Budha itu pindah ke Jawa Timur dari kawasan Klaten sekarang di bawah pimpinan Mpu Sindok dan menirikan Kerajaan Medang dengan raja terakhir bernama Dharmawangsa. Setelah Medang dihancukan Sriwijaya, keturunan Dharamawangsa yaitu Raja Erlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan. Di akhir hayatnya Airlanga membagi dua Kahuripan menjadi Panjalu (Kediri) dengan ibukota Daha dan Jenggala beribukota di Kahuripan. Agama Hindu-Budha itu kemudian berkembang menjadi Kerajaan Singosari di sebelah utara Malang. Raja terakhirnya Prabu Kertanegara, mengambil menantu Raden Wijaya.

Ketika Raden Wijaya memberontak ia tidak mendirikan kerajaan di kawasan Gunung Bromo atau Pujon. Apa yang dilakukannya adalah mendirikan kerajaan baru di Terik, kawasan pinggiran sungai Brantas di daerah Krian. Dugaan penulis Terik adalah penyebutan lain dari kata Thariqah, artinya kalangan tarekat yang melaksanakan ajaran-ajaran tasawuf. Mengapakah mereka mendirikan Majapahit di Terik? Kemungkinan besar karena perlindungan angkatan laut Tiongkok yang sudah menjadi muslim itu. Raden Wijaya yang menurut penulis datang dari Marga Ui, memiliki penduduk beragama Islam dan agama Hindhu dan Budha. Kerajaan baru itu pada abad–abad berikutnya menampilkan Mpu Tantular dengan Negara Kertagama nya dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa ia menyerap salah satu semangat bangsa ini yang sejak dahulu -setidaknya 8 abad yang lalu sudah memiliki pluralitas/kemajemukan yang tinggi.

Di samping kejadian di atas, sekitar penghabisan Abad XV dan permulaan Abad XVI, ada empat kejadian penting yang menentukan jalannya sejarah dunia di kemudian hari. Terlebih dahulu adalah terjadinya sikap mengalah dari sebuah kerajaan Islam di daerah Pantai Barat Afrika Tengah. Ketika itu, sebuah kapal layar Eropa mendarat di pantai kawasan tersebut. Ketika terjadi pertempuran senjata antara mereka melawan penduduk setempat maka para pelaut itu menggunakan senjata api untuk bertahan. Segera saja mereka yang bersenjata api -penduduk setempat menamai mereka sebagai setan dengan senjata berlidah api- menguasai kawasan itu, dan memaksa kerajaan Islam itu berpindah dari daerah pantai ke kawasan hutan di tengah-tengah benua Afrika.

Hal ketiga adalah ketika keluarga Borgia berhasil menjadikan salah seorang warga mereka menjadi Paus Alexander VI. Wangsa Borgia menggunakan uang, jabatan dan wanita untuk “mengangkat” warga mereka itu menjadi Paus. Hal ini menjadi salah satu penyebab perbedaan pandangan di antara Gereja Katholik dan sebagian para pemrotes yang kemudian dinamai kaum Protestan terlibat dalam perselisihan besar (skisma). Skisma/perpecahan antara Gereja Katholik dan Gereja Protestan akhirnya, membawa kepada perpecahan formal antara Gereja Katholik dan Gereja Protestan dalam bentuk berbagai sinoda.

Kejadian lainnya pada era itu adalah, ketika wangsa Kazimierski di Polandia memenangkan pertempuran atas wangsa Muscovit di Russia. Segera mereka harus memecahkan masalah apakah wangsa Muscovit boleh menggunakan bahasa Russia sebagai bahasa resmi, dan bukannya bahasa Polandia. Wangsa Kazimierski tersebut memutuskan bahasa Russia, dan bukannya bahasa Polandia sebagai bahasa nasional orang-orang Russia. Keputusan fundamental ini berakibat setengah abad kemudian orang-orang Russia kembali menggumpulkan kekuatan, dan berhasil mengalahkan bangsa Polandia. Apalagi setelah kaum komunis (Bolshevik) di bawah pimpinan V.I Lenin mendirikan partai komunis Uni Soviet (PKUS) menjelang tahun 1917.

Kejadian besar kelima yang merubah jalannya sejarah, terjadi ketika seorang Kaisar cilik diangkat menggantikan ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Dan diangkatlah seorang wali negara, yang tadinya adalah menteri peperangan. Karena ia adalah seorang pemeluk agama Konghucu yang taat, maka ia sangat takut kepada kaum muslim di kawasan rantau (hoa kiau), yang umumnya sudah menjadi muslim. Begitu ia menjadi wali negara, maka diperintahkannya kapal-kapal laut kerajaan untuk kembali ke kawasan pesisir daratan Tiongkok dan dibakar.

Segera terputuslah segala jenis komunikasi antara kawasan Rantau tersebut dengan daratan Tiongkok. Penduduk rantau yang tadinya adalah kaum Tiongkok muslim, menjadi terserap sebagai penduduk bumiputra, dan angkatan laut Tiongkok, yang tadinya menguasai lautan antara pulau Madagaskar di kawasan timur Afrika dan Ascunsion di Pulau Tahiti (lautan Pasifik), juga menjadi penduduk bumiputra. Untuk dua abad lamanya hubungan antara kawasan-kawasan tersebut dengan daratan Tiongkok terputus sama sekali. Maka kejayaan Tiongkok itu lalu di klaim antara lain oleh Majapahit, dengan konsepnya yang sekarang dinamai persemakmuran (commonwealth). Cheng Ho pada permulaan abad ke-15, yang memimpin angkatan laut Tiongkok lalu harus melakukan ekspedisi laut tujuh kali saja, dan berakhir ketika ia meninggal dunia karena sakit di Kerala (India).


Kenyataan-kenyataan sejarah seperti ini memaksa kita untuk mengerti, bahwa dua abad berikut barulah orang-orang Belanda dapat mendatangkan orang-orang Tionghoa kemari. Mereka kemudian membawa agama Budha, Konghucu dan tentu saja agama Tao. Kemudian pemerintahan Orde Baru ‘menyatukan’ penganut Budha, Tao dan Konghucu dalam apa yang dinamakan kaum Tri Dharma, terutama dibawakan oleh Walubi (Perwalian Umat Buddha Indonesia). Bagaimana dengan jasa Cheng Ho? Setelah ia meninggal dunia di kawasan Kerala itu, kawasan-kawasan yang didirikannya lalu berkembang pesat, seperti Singapura. Dari sini ternyata, bahwa seseorang pemimpin dengan membawa peranannya yang besar, dapat menimbulkan perubahan-perubahan sangat besar dalam sejarah manusia. Sangat indah hal itu, bukan?

Sumber: Gus Dur
Share:

Monday, 2 May 2016

Awal Mula Munculnya Partai Komunis di Indonesia


Belakangan ini di negeri kita sedang ramai diperbincangkan mengenai munculnya tuntutan agar Presiden Jokowi menyampaikan permintaan maap kepada korban pelanggaran Ham pasca-1965. Tuntutan itu muncul dari kelompok pegiat hak asasi manusia, termasuk juga lembaga Komnas HAM. Bahkan baru-baru ini telah diselenggarakan sebuah simposium terkait hal itu.

Tragedi yang bermula dengan peristiwa pembantaian tujuh perwira TNI-AD, yakni enam perwira tinggi dan satu perwira pertama itu selama ini dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September, dan di belakangnya selalu ditambah dengan tulisan PKI (Partai Komunis Indonesia).

Sejarah Orde Baru menulis apabila peristiwa tersebut memang terkait dengan PKI yang selama awal kemerdekaan negara ini sampai tumbangnya rezim Orde Lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dilegalkan di Indonesia. Bahkan termasuk parpol yang memiliki basis massa lumayan banyak.

Terlepas dari pro dan kontra tuntutan permintaan maap pemerintah terhadap para korban pasca peristiwa G30S/PKI itu, penulis mencoba mencari tahu awal mula munculnya partai politik yang sejak rezim Orde Baru sampai sekarang dinyatakan terlarang itu.


Awal mula terbentuknya PKI  tak bisa dipisah dari untaian Sarekat Islam (SI) dan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Sedikit banyak rekam jejak Sarekat Islam sudah diulas dalam serial sebelumnya. Kini, giliran ISDV... 

Majalah De Indier, pimpinan Dr. Tjipto Mangunkusumo edisi Mei 1914 memuat berita lahirnya ISDV. Berikut cuplikannya: 

Dengan dipersiapkan terlebih dahulu oleh Tuan Reeser, seorang pemuda dari kaum sosial demokrat Hindia, pada hari Sabtu tanggal 9 Mei 1914 telah berlangsung di Gedung Marine Surabaya, rapat pertama kaum sosial demokrat Hindia di mana dihadiri oleh lebih dari 30 orang, sementara yang bertempat tinggal jauh mengirimkan telegram dan surat persetujuannya.

Sejak lahir, ISDV merumuskan 8 pasal programnya; 
1. Memperjuangkan kemerdekaan atas kehancuran kapitalisme. Kaum buruh dan tani karena senasib harus bersatu melawan.
2. Mempersatukan rakyat, buruh dan tani segala bangsa dan agama atas dasar perjuangan kelas. 
3. Mendidik rakyat dengan pengetahuan sosialisme.
4. Membangun koperasi untuk kaum tani.
5. Membangun serikat-serikat buruh.
6. Menerbitkan surat kabar-surat kabar.
7. Menyiarkan buku-buku sosialisme.
8. Turut memilih dalam pembentukan badan-badan perwakilan dan berjuang dalam badan-badan perwakilan ini.

"Dengan program 8 pasal tersebut, ISDV berusaha mengadakan persatuan dengan Sarekat Islam, Budi Utomo dan Indische Party," tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965)

Usaha ISDV membuahkkan hasil. Para jurnalis dari kelompok-kelompok tersebut bersatu membangun Inlandse Journalisten Bond (IJB) pada 1914. Sekadar catatan, masa itu sebuah organisasi normlanya punya surat kabar. 

Dalam kepemimpinan IJB, terdapat nama Dr. Tjipto Mangunkusumo dari Indische Party, Agus Salim dari Sarekat Islam, dan Marco dari ISDV.
Nama Tjiptomangunkusumo dan Haji Agus Salim cukup familiar. Bagaimana dengan Marco dari ISDV? 

Si Tajam Pena
Nama panjangnya Marco Kartodikromo. Bila Anda googling nama tersebut, maka akan didapat informasi bahwa dia adalah jurnalis dan penulis. 

Ada kisah Marco yang belum banyak diketahui orang, dan agaknya mbah gugel juga belum tahu. Khusus buat pembaca sekalian, kita akan ceritakan (sebenarnya ini rahasia)...

Marco anak nakal dari Cepu. Sangat nakal. Dia pandai main pisau. Lempar pisau memang keahliannya. Nah, suatu waktu dia dititipkan ke Tirto Adhi Soerjo, pemimpin redaksi Medan Prijaji--sekaligus pendiri Sarekat Dagang Islam, kemudian berganti Sarekat Islam (SI).

Di tangan Tirto, Marco yang tadinya si tajam pisau, berubah menjadi si tajam pena. Tirto menempahnya jadi jurnalis di Medan Prijaji. Saat Medan Prijaji digulung pemerintah Hindia Belanda, dia menulis untuk Sarotomo, korannya SI cabang Solo. Kemudian Marco menerbitkan Doenia Bergerak

Karena penanya yang tajam, tokoh IJB ini kerap keluar masuk penjara kolonial, terkena delik pers. 
Di ranah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, anak didik Tirto ini pernah menjadi pimpinan teras SI Solo, ISDV dan kemudian PKI. Dia ikut dibuang ke Boven Digul ketika meletus pemberontakan PKI 1926-1927.

Kongsi Para Jurnalis

Angin Revolusi Rusia 1917 sampai pula ke Hindia Belanda. Tjipto Mangunkusumo menaikkan tulisan Sneevliet, dedengkot ISDV tentang kemenangan Lenin dan kaum Bolshevik di surat kabar yang dipimpinnnya, De Indier

"Lonceng kemerdekaan kini terdengar di mana-mana...apakah suara lonceng kegembiraan juga sampai di kota-kota dan desa-desa negeri ini?..di sini hidup rakyat yang menghasilkan kekayaan yang telah berabad-abad mengalir ke lemari besi kaum yang berkuasa di Eropa Barat, terutama di negeri kecil yang menjalankan kekuasaan politik di sini..." --begitu cuplikan tulisan Sneevliet di De Indier, 19 Maret 1917. 

Seiring berjalan waktu, kongsi kaum pergerakan dari berbagai aliran tak lagi hanya di ranah jurnalistik. Sebab memahami bahwa organisasi hanyalah alat perlawanan, maka, tak sedikit aktivis yang rangkap organ dan rangkap jabatan.

Hal ini tercermin dalam perdebatan kubu Semaoen, Ketua SI Semarang dan kubu Hartogh, Ketua ISDV saat kongres VII ISDV di Semarang, 23 Mei 1920. 

Semaoen bersikeras merubah ISDV menjadi PKI. Sementara Hartogh menolak. Berikut cuplikan ringkas perdebatan kedua kubu tersebut, sebagaimana dilansir dari majalah ISDV, Het Vrije Woord, 25 Juni 1920: 

Semaun, Bergsma, csBanyak orang menamakan dirinya sosialis, tetapi sebetulnya mereka pengkhianat-pengkhianat sosialis. Di Hindia juga terdapat sosialis-sosialis palsu. Sosialisme palsu mematahkan kepercayaan-kepercayaan proletariat akan kemampuan dirinya sendiri dan terpaksa menggantungkan diri pada kapitalisme

HartoghSudahkah kita siap sekarang? Pergerakan sosialisme di Indonesia baru tumbuh. Masih ada orang yang merangkap keanggotaan Budi Utomo dengan ISDV dan sebagainya. Dan usul perubahan ini baru kemauan dari beberapa orang saja, belum kemauan anggota yang luas.
Pendeknya, kubu Semaoen berhasil memenangkan gagasannya. Itulah kongres terakhir ISDV, karena selanjutnya organ ini berganti nama jadi PKI.

PARTAI Komunis Indonesia lahir dari "persekawinan" Sarekat Islam (SI) dan Indische Societal Democratishe Veereniging (ISDV). Mari kita telusuri rekam jejak dua organ tersebut. Dimulai dari Sarekat Islam...

Pemimpin redaksi Medan Prijaji, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo mendirikan Sarekat Dagang Islamiah--kemudian menjadi Sarekat Dagang Islam--di Bogor, pada 1909. Tirto adalah kakek buyut dari penyanyi Dewi Yull.

"Maka R.M Tirto Adisuryo berkelilinglah seluruh Jawa tapi yang dikunjunginya hanya kota-kota besar saja. Di kota-kota besar itu masing-masing dianjurkan mendirikan Sarekat Dagang Islam. Akhirnya dia sampai di Solo," papar Dr. Moh. Hatta dalamPermulaan Pergerakan Nasional.
Apa yang diceritakan Bung Hatta berkesesuian dengan surat rahasia Residen Surakarta, F.F. van Wijk pada Gubernur Jenderal Idenburg, 11 Agustus 1912: 

Perhimpunan Sarekat Dagang Islam didirikan di sini (Solo--red) beberapa bulan yang lalu oleh redaktur kepala Medan Prijaji yang terkenal itu; Raden Mas Tirtoadisurjo. Juga di Buitenzorg sudah berdiri perhimpunan seperti itu juga pada 1909. Dalam waktu dekat jumlah anggota membengkak cepat.

Sekadar catatan, penulisan nama Tirto di atas berbeda-beda sesuai sumber rujukan literatur. 
Nama Sarekat Dagang Islam (SDI) tidak lama. Merujuk pasal I Peraturan Dasar yang disusun Tirto tanggal 9 November 1911, "Perkumpulan Sarikat Islam akan didirikan pada tiap-tiap tempat di mana terdapat anggota sekurang-kurangnya 50 orang...kalau anggotanya kurang dari 50 orang, tidak diadakan."

Setahun kemudian, persisnya 10 September 1912, Sarekat Islam dicatatkan di notaris. "Sifat perkumpulan itu disebutnya nasional demokratis. Ini berbau politik," kata Bung Hatta. 
Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dalam Naar Aanleiding van de Relletjes, menulis, "Tirto gaf de leiding over aan H. Samanhoedi van Solo. (Tirto menyerahkan kepemimpinan (SI--red) ke H. Samanhudi dari Solo."

Lima tahun lamanya Haji Samanhudi memegang tampuk kepemimpinan SI, "kemudian tersingkir sama sekali oleh Tjokroaminoto setelah ia membuat Central SI tandingan," tulis Pramudya Ananta Toer dalam Sang Pemula.

Tjokroaminoto kakek buyut penyanyi Maia Estianty. Di bawah kepemimpinannya, SI meluas. Dia tokoh legendaris SI. 

SI Merah

 Kongres SI V diadakan di Yogyakarta, 2 hingga 6 Maret (versi Semaoen 1921 dan versi Lembaga Sejarah PKI 1920. Keduanya menggunakan tanggal yang sama. Hanya beda tahun).   

Dalam kongres itu, dua kader terkemuka SI, Semaoen dan Haji Agus Salim menyusun dasar baru organisasi. Disimpulkan bahwa kapitalisme-lah pangkal bala penjajahan di lapangan kebangsaan dan perekonomian. Dan ini harus dilawan.   

Mengusung semangat yang sebetulnya sama, sama-sama melawan kapitalisme, Semaoen, Komisaris SI Daerah Jawa Tengah yang berkedudukan di Semarang, mendirikan dan terpilih menjadi ketua PKI pada 23 Mei 1920.

Ini membuat Abdul Muis, tokoh SI Bandung berang. Dia menyoal masalah rangkap keanggotaan. Maka pada Kongres SI VI, 10 Oktober 1921 di Surabaya, setelah melampui perdebatan sengit, diputuskan anggota SI yang komunis dan pro komunis keluar dari SI.

Kubu komunis tidak begitu saja menyerah. Mereka membentuk SI Merah dan mempengaruhi kongres SI 1923 di Madiun. Ratusan bendera merah bergambar palu arit bergantungan di dinding dan di meja podium. 


"Kongres ini berjalan dalam suasana ribut dan kacau, di mana podium digulingkan," tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah PKI (1920-1965).

Share:

Sunday, 1 May 2016

Proklamasi tanpa Bung Kecil


JALAN Maluku 19, Menteng, Jakarta, dua hari sebelum proklamasi. Soebadio Sastrosatomo, kala itu 26 tahun, bertamu ke rumah Sjahrir. Badio, begitu Soebadio biasa disapa, adalah pengikut Sjahrir yang setia. Kelak keduanya bersama-sama mendirikan Partai Sosialis Indonesia. Siang terik. Badio haus luar biasa. Sjahrir menawari anak muda itu minum, tapi Badio menolak. Itu hari di bulan Ramadan: Badio sedang puasa.

Ada yang tak biasa pada Sjahrir hari itu: rautnya sumpek. Sebelumnya, si Bung baru saja bertemu dengan Soekarno, yang mengajaknya bermobil keliling Jakarta. Di jalan, Soekarno mengatakan tak secuil pun ada isyarat Jepang akan menyerah. Soekarno ingin membantah informasi yang dibawa Sjahrir sebelumnya bahwa Jepang telah takluk kepada Sekutu.

Sjahrir mengatakan ini sebelum Soekarno-Hatta berangkat ke Dalat, Vietnam, untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi, Panglima Tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara. Sjahrir berkesimpulan tak ada gunanya berunding dengan Jepang. Pada 6 Agustus 1945, Jepang toh telah luluh-lantak oleh bom atom Sekutu.

Mengetahui Bung Karno tak mempercayainya, Sjahrir berang. Ia menantang Soekarno dengan mengatakan siap mengantar Bung Besar itu ke kantor Kenpeitai, polisi rahasia Jepang, di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, untuk mengecek kebenaran informasi yang ia berikan. Sjahrir mengambil risiko: di kantor intel itu ia bisa saja ditangkap.


Tapi Soekarno menolak. Ia yakin Jepang belum menyerah. Itulah yang membuat Sjahrir marah meski ia tak menyampaikannya secara terbuka kepada Bung Karno.

Kepada Badiolah murka itu dilampiaskan. "Sjahrir mengumpat Soekarno man wijf, pengecut dan banci," kata Badio dalam Perjuangan Revolusi (1987). Menurut Badio, itulah marah paling hebat Sjahrir sepanjang persahabatan mereka.

Soekarno tahu Sjahrir sering memakinya. Dalam biografi karya Cindy Adams, Soekarno mengatakan Sjahrir menyalakan api para pemuda. "Dia tertawa mengejekku diam-diam, tak pernah di hadapanku. Soekarno itu gila... kejepang-jepangan... Soekarno pengecut."

Sehari sebelum Badio berkunjung, 14 Agustus 1945, Sjahrir dan Hatta menemui Soekarno di rumahnya di Pegangsaan Timur 56 dan meminta Bung Karno segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Soekarno berjanji mengumumkan proklamasi pada 15 Agustus setelah pukul lima sore. Sjahrir segera menginstruksikan para pemuda mempercepat persiapan demonstrasi. Mahasiswa dan pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang, Domei, bergerak cepat menjalankan instruksi itu.

Tapi Sjahrir mencium gelagat Soekarno tak sepenuh hati menyiapkan proklamasi. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, badan yang bertugas menyiapkan kemerdekaan sesuai dengan permintaan Jepang, tak menunjukkan gelagat akan berhenti bekerja.

Panitia misalnya mengagendakan sidang pertama 19 Agustus 1945. Soekarno ketua dan Hatta wakil dalam panitia ini. "Ini akal-akalan Jepang," kata Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan. Sjahrir mengusulkan proklamasi tak menunggu Jepang. Proklamasi, kata Sjahrir, bentuk perlawanan terhadap Jepang. Inilah saatnya melancarkan aksi massa. "Aku penuh semangat. Aku yakin saatnya telah tiba. Sekarang atau tidak sama sekali," kata Sjahrir.

Pukul lima sore 15 Agustus itu, ribuan pemuda berkumpul di pinggir kota. Mereka siap masuk Jakarta segera setelah proklamasi. Begitu proklamasi disiarkan, pemuda akan langsung berdemonstrasi di Stasiun Gambir. Domei dan Gedung Kenpeitai akan direbut. Ternyata, pukul enam kurang beberapa menit, Soekarno mengabarkan belum akan mengumumkan proklamasi. Soekarno menundanya sehari lagi.

Kabar ini membuat ribuan pemuda pengikut Sjahrir marah. Sjahrir menduga polisi rahasia Jepang tahu rencana proklamasi. Para pemuda mendesak proklamasi diumumkan tanpa Soekarno-Hatta. Tapi Sjahrir tidak setuju. Ia khawatir konflik akan terjadi di antara bangsa sendiri.

Tapi kabar bahwa proklamasi batal diumumkan tak sempat dikabarkan ke Cirebon. Pemuda di Cirebon di bawah pimpinan dokter Soedarsono-ayah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono-hari itu juga mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri. Mereka mengatakan tidak mungkin menyuruh pulang orang yang telah berkumpul tanpa penjelasan.

Pada 15 Agustus tengah malam, Badio menemui Sjahrir. Badio mendesak Sjahrir membujuk Soekarno dan Hatta segera mengumumkan proklamasi. Sejam kemudian, Badio menemui kembali Sjahrir. Tapi, dari Sjahrir, kabar tak enak itu didengar Badio: Dwitunggal menolak menyampaikan proklamasi meski Sjahrir telah mendesak.

Pemimpin pemuda lalu pergi. Menurut Badio, mereka bertemu di Cafe Hawaii, Jakarta. Di sini mereka memutuskan untuk menculik Soekarno. Keputusan ini juga melibatkan kelompok lain, di antaranya Pemuda Menteng 31, seperti Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moewardi dari Barisan Pelopor.

Sekitar pukul dua dinihari, Badio datang lagi ke Sjahrir. Ia mengusulkan penculikan Soekarno. Sjahrir tak setuju. Ia menjamin, besoknya bisa memaksa Bung Besar membaca proklamasi.

Badio pergi. Tapi satu jam kemudian ia kembali, membangunkan Sjahrir, dan mengabarkan bahwa sekelompok pemuda nekat menculik Soekarno-Hatta. Sjahrir meminta, apa pun yang terjadi, di antara mereka jangan bertikai. Yang paling penting, kata Sjahrir, proklamasi harus diumumkan secepatnya. Soekarno dalam otobiografinya menyebut Sjahrir penghasut para pemuda. "Dialah yang memanas-manasi pemuda untuk melawanku dan atas kejadian pada larut malam itu," kata Soekarno.

Dalam buku Sjahrir karangan Rudolf Mrazek (1994), Sjahrir disebut-sebut sebagai orang yang menganjurkan Soekarno dibawa ke Rengasdengklok, Jawa Barat-markas garnisun pasukan Pembela Tanah Air.

Ahmad Soebardjo, yang dekat dengan Soekarno, memberi tahu pemimpin Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang Laksamana Tadashi Maeda tentang penculikan itu. Maeda memerintahkan anak buahnya, Nishijima, mencari Wikana di Asrama Indonesia Merdeka. Nishijima dan Wikana bertengkar hebat. Nishijima memaksa Wikana memberi tahu tempat Soekarno-Hatta disembunyikan. Imbalannya: Maeda dan Nishijima akan membantu proklamasi kemerdekaan. Wikana setuju.

Soebardjo, seorang Jepang, dan dua pemuda lainnya-Kunto dan Soediro-lalu menjemput Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Pukul delapan pagi, Kamis, 16 Agustus, dwitunggal itu tiba di Jakarta. Sepanjang hari hingga malam, Soekarno-Hatta dan Maeda berkunjung ke sejumlah perwira penting Jepang. Penguasa militer Jepang mengizinkan proklamasi disampaikan asalkan tak dikaitkan dengan Jepang dan tidak memancing rusuh. Soekarno, Hatta, Maeda, Soebardjo, Nishijima, dan dua orang Jepang lain menyusun teks proklamasi di ruang kerja kediaman Maeda di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta-kini Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Baca selengkapnya...
Share:

Friday, 29 April 2016

Naik Haji Berkali-kali Pengabdi Setan!


Inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun... Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub telah meninggal dunia . Beliau dikenal sebagai ulama besar yang kritis menjaga nilai-nilai Keislaman.

Salah satu kekritisannya adalah mengkritik orang yang naik haji dan umroh berkali-kali. KH Ali Mustafa heran mereka mencontoh siapa? Dia juga mengkritik para ustaz yang menjual program umroh dan naik haji berkali-kali. Menurutnya itu hanya konsumerisme, bukan lagi ibadah. Rasulullah tak pernah mencontohkan hal itu.

"Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang menonjol konsumtifnya, bukan infaknya. 

Simak wawancara yang pernah dilakukan merdeka.com dengan almarhum beberapa waktu lalu:

Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan. 

Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi." 

Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun surganya kelas dek, kelas ekonomi.

Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja. 

Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan. 

Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama Jawa Timur." 

Baca selengkapnya...
Share:

Tuesday, 26 April 2016

Benarkah Jati Diri Orang Sunda Identik dengan Si Kabayan?

SEORANG Jakob Sumardjo, budayawan Sunda kelahiran Klaten Jawa Tengah, dalam artikelnya yang pernah di muat dalam koran harian Pikiran Rakyat (5/01/2008) dengan judul Kabayan Sebagai Cerita Rakyat, menyebutkan tokoh Si Kabayan dalam cerita rakyat Jawa Barat bisa jadi simbol Sunda–air dan Sunda-gunung sekaligus, serta menjadi jati diri sunda secara budaya.

Dalam cerita rakyat Parahiyangan (nama lain dari tatar Sunda/Jawa Barat), tokoh Si Kabayan yang kerap disejajarkan dengan tokoh Abu Nawas dan Koja Nasrudin itu, digambarkan sebagai tokoh yang pintar-pintar bodoh. Maksudnya dari satu sisi begitu tampak kebodohannya, dan di sisi lain muncul pula kepintaran/kecerdasannya secara tidak diduga.

Misalnya saja kebodohan Si Kabayan dapat dilihat dalam kisah Si Kabayan Ngala Tutut . Karena airnya yang bening di sawah itu, sehingga bayang-bayang awan putih dan langit yang biru begitu jelas terlihat. Di mata Si Kabayan, sawah itu dilihatnya begitu dalam. Sehingga dia pun takut untuk turun. Dan tutut (Keong sawah) pun diambilnya dengan menggunakan ranting kayu.

Kebodohan si Kabayan, menurut Jakob Sumardjo, merupakan kebodohan yang merupakan simbolik rohani. Kita ini bodoh spiritual. Dalam hal ini bukan hanya jati diri Sunda, tetapi juga jati diri manusia sendiri.

Sementara pintarnya Si Kabayan, di dalam setiap kisahnya terkandung filosofi hidup yang memiliki bobot intelektual dan nilai sastera yang tinggi. Penuh dengan simbol kehidupan yang patut menjadi bahan perenungan. Hanya saja sayangnya, kita sebagai penikmat cerita rakyat itu cenderung  melihat dari sisi guguyonan (humor)-nya saja.

Sehingga lebih jauh Jakob Sumardjo menyebutkan,  bahwa tokoh Si Kabayan merupakan tokoh paradoks. Bodoh tapi pintar. Sebagaimana sikap hidup urang Sunda sendiri yang konon memiliki karakter ‘halus’, bukan kasar.  Kalau harus ‘kasar’, tetap ‘halus’. Tidak keras, tapi lembut. Tidak agresif, tapi diam.

Pada dasarnya, sikap hidup urang Sunda agak ganda dalam arti positif.  Paradoksal.

Akan tetapi masih relevankah pendapat Jakob itu untuk kondisi sekarang ini?

Seorang tokoh masyarakat Sunda, Ginanjar Kartasasmita, malah mengatakan kalau watak urang Sunda cenderung aing-aingan (Egois). Bila saja ada salah seorang yang tandang-makalangan ( maju untuk berjuang) demi kejayaan negeri, oleh yang lainnya diantep-karepkeun (dibiarkan), dan tak jarang ditertawakan. Bahkan sampai juga dijongklokeun (dijerumuskan).

Entahlah. Hal ini membutuhkan penelitian yang lebih dalam. Hanya yang jelas, mungkin saja bagi urang Sunda hidup ini serupa panggung sandiwara. Dalam sedih, ada tertawa. Dalam marah, ada pasrah. Dan untung saja tidak seperti film dari Boolywood sana, dalam kesedihan ada nyanyian yang dibarengi dengan tarian... ***
Share:

Monday, 25 April 2016

KH Wahid Hasyim: Ayahanda Gus Dur

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) yang di lahirkan pada Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Ayahandanya semula memberinya nama Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya. Namun, namanya kemudian diganti menjadi Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Dia anak kelima dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.

KH A. Wahid Hasyim adalah pribadi yang cerdas dan lihai dalam berpidato.Terutama sekali karena pidatonya selalu didukung dan dilengkapi dengan tema-tema yang disitir dari salah berbagai buku. Tentu tiada kesulitan bagi KH A. Wahid Hasyim untuk mencari referensi, karena KH A. Wahid Hasyim menguasai bahasa Arab, Belanda dan Inggris sebagai kunci utama dalam penguasaan buku-buku ilmiah saat itu.

Semenjak tahun 1939 KH. A Wahid Hasyim dipercaya menjabat sebagai Ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi NU, Muhammadiyah,PSII, PII, Al-Irsyad, Persis. Sehubungan dengan jabatannya di MIAI, KH A.Wahid Hasyim juga kemudian duduk pula dalam kepemimpinan Presidium Korindo (Kongres rakyat Indonesia), sebuah proyek perjuangan bersama GAPI (Gabungan Partai Politik Indonesia).

Para anggota MIAI adalah tokoh-tokoh top Indonesia seperti Abikusno Cokrosuyoso, Dr.Sukiman, Wondoamiseno, KH Mas Mansur, KH Abdul Kahar Muzakkir, Umar Habaisy, Muhammad Natsir, dan lain-lain.

Kedudukan Ketua MIAI ini dengan sendirinya menempatkan KH A.Wahid Hasyim sebagai pejuang politik menghadapi penjajahan.

Akan tetapi tatkala zaman pendudukan Jepang, kelompok MIAI bubar. Kemudian atas prakarsa KH A. Wahid Hasyim MIAI menjelma menjadi ”Majelis Syuro Muslimin Indonesia” (Masyumi). Melalui Masyumi ini, terbentukalah badan Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa, dekat Cibinong Bogor, Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dan penerbitan Majalah ”Suara Muslimin” yang mula-mula dipimpin oleh KH Saifuddin Zuhri dan kemudian beralih ke tangan Harsono Cokroaminoto.    

Selama zaman kependudukan Jepang KH A. Wahid Hasyim merupakan tokoh sentraldi kalangan Umat Islam. KH A. Wahid Hasyim juga menjabat sebagai anggota Chuuo Sangi In yakni semacam DPR ala Jepang. Dengan jabatan tersebut KH A. Wahid Hasyim dapat menyakinkan tentara Jepang untuk mendirikan sebuah badan yang menghimpun kalangan ulama. Maka terbentuklah Badan yang bernama Shumubu, yaitu Badan Urusan Agama Islam yang susunannya terdir idari: KH. Hasyim Asy’ari selaku Ketua, KH. Abdul Kahar Muzakir selaku Wakil Ketua dan KH A. Wahid Hasyim selaku Wakil Ketua.

Oleh karena KH HasyimAsy’ari tidak dapat aktif karena memangku Pesantren Tebuireng, maka jabatan ketua sehari-hari dipegang oleh KH A. Wahid Hasyim. Badan inilah yang menjelma menjadi Departemen Agama (setelah proklamasi 17 Agustus 1945)Taktik politik yang dijalani KH A Wahid Hasyim di zaman Jepang ialah, mengambil unsur kekuasaan Jepang yang Positif bagi perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. ”Kerja sama” dengan Jepang (pada tingkatan pertama) dipandang perlu sebab bangsa Indonesia yang tidak mempunyai kekuatan politik (kekuasaan ) di zaman Belanda tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Militer Jepang yang tengah berada di puncak kemenangan. Kezaliman-kezaliman pemerintahan Jepang kepada bangsa Indonesia, oleh KH A. Wahid Hasyim,dijadikan pupuk keyakinan bagi rakyat, bahwa sesuai dengan Al-Qur’an segalayang batil pasti akan sirna, kezaliman tak pernah mengalami kemenangan yang panjang.

Masa perang kemerdekaan antara tahun 1945-1950 menyebabkan KH A. Wahid Hasyim menyibukakan diri dalam gejolak revolusi. Meskipun sebagian besar waktunya dicurahkan kepada soal politik dan pertahanan, seperti dua kali menghadapi agresi Belanda atas Republik Indonesia dan kemelut politik yang penuh pertentangan di masyarakat, namun KH A.Wahid Hasyim tetap menjalin hubungan erat dengan para ulama dan dunia pesantren.

Wafat dalam usia belum 40 tahun menyebabkan dunia Ulama dan Pesantren menjerit dan meratap. Kaum politik dan masyarakat baik tua maupun muda merasa kehilangan yang besar. Yang patah akan tumbuh akan tetapi bukan lagi A. Wahid Hasyim. Abdul

Wahid hasyim hanya ada satu dalam sejarah ummat manuasia. Namun sekalipun sudah wafat, namanya harum tidak pernah akan mati.

Baca selengkapnya...
Share:

10 Fakta Menarik Tentang Tubuh Wanita

Menjadi wanita, adalah hal paling menyenangkan di dunia. Bersyukurlah telah terlahir ke dunia sebagai wanita, dunia tidak akan lengkap tanpa adanya wanita.
Kelemahlembutan, senyuman yang manis dan bersahaja, kerlingan mata, serta sifat yang manja, membuat dunia ini jauh lebih ramah dan lembut.
Dikenal sebagai makhluk yang indah, wanita punya keunikan sendiri yang terpancar lewat tubuhnya. Sudah tahukah Anda 10 fakta unik tentang tubuh Anda sendiri seperti dilansir glam.com berikut ini?
Fakta Wanita 1.
Klitoris adalah satu-satunya bagian tubuh wanita yang didesain hanya untuk mengalami rangsangan dan kenikmatan seksual, tanpa memiliki fungsi lainnya. Klitoris terdiri dari ratusan bahkan ribuan sel syaraf, dan jumlahnya dua kali lipat dibandingkan yang ada di dalam mr. P.
Fakta Wanita 2.
Selaput dara adalah membran tipis yang menutupi bagian miss V wanita. Selaput dara ini tidak hanya bisa robek karena hubungan seksual, namun juga karena jatuh, atau gerakan yang sangat ekstrim.
Mengapa pada saat malam pertama tidak selalu mengeluarkan darah?
Selaput dara yang robek kerap ditandai dengan adanya darah, namun selaput dara juga bisa elastis sehingga tidak akan terjadi perdarahan dalam penetrasi. Ilmuwan menyatakan bahwa selaput dara bukanlah tanda keperawanan yang mutlak, karena ia bisa robek dengan tanpa disebabkan penetrasi sekalipun.
Fakta Wanita 3.
Ternyata hamil itu tidak mudah ditentukan. Sekalipun seseorang berhubungan intim nyaris setiap hari, bila Anda tak tahu kapan hari tepat berovulasi, maka kecil kemungkinan sperma dapat membuahi sel telur. Menghitung hari kesuburan wanita, juga tidak dimulai dari hari terakhir haid, melainkan dari hari pertama menstruasi dimulai.
Fakta Wanita 4.
Rahim wanita sangatlah elastis. Saat tidak hamil, rahim berukuran kecil, setidaknya tiga inci. Namun, ketika sedang hamil, tepi luar rahim bisa mencapai tepi bawah tulang rusuk saat membawa janin di dalamnya.
Fakta Wanita 5.
Uniknya tubuh wanita adalah kemampuan menciptakan susu atau disebut juga Air Susu Ibu. Pria tidak bisa melakukan hal ini karena tubuhnya tidak dilengkapi dengan kelenjar susu. Kemampuan menyusui seorang wanita tidak ditentukan oleh ukuran payudara, karena sekalipun payudara berukuran kecil, tetap saja bisa menghasilkan ASI.
Fakta Wanita 6.
Wanita memiliki kemampuan mendengar yang berbeda dibandingkan pria. Menurut penelitian yang dilakukan Indiana University School of Medicine, pria hanya dapat mendengarkan dengan satu sisi otak saja, sedangkan wanita menggunakan keduanya. Inilah mengapa wanita disebut sebagai sosok pendengar yang jauh lebih baik ketimbang pria.
Fakta Wanita 7.

Di dalam tubuh wanita, bagian usus besarnya cenderung lebih panjang ketimbang pria. Hal ini diprediksi yang juga menyebabkan wanita jadi lebih mudah gemuk ketimbang pria. Wanita yang ingin berat badannya turun haruslah melakukan 1-2 kali pembuangan air besar setiap harinya.
Fakta Wanita 8.
Rambut kemaluan wanita akan tumbuh lebih panjang di saat musim dingin. Mereka kemudian tidak bertambah lebih panjang lagi karena cenderung akan mati dan rontok setelah tiga minggu lamanya.
Fakta Wanita 9.
Di musim panas, gairah wanita jauh lebih meningkat. Penulis sains Patricia Barnes, mengatakan bahwa wanita mudah sekali terangsang oleh wewangian seperti lavender, mawar dan mint yang akan membawa keluar perasaan manis dan meningkatkan libido seksual.
Fakta Wanita 10.
Bicara soal garis keturunan, secara ajaib DNA dari nenek moyang Anda akan terbawa terus menerus hingga setiap keturunan Anda. DNA ini selain merupakan identitas juga membawa beberapa hal yang bisa diturunkan secara genetik.
Hmm... ternyata sekalipun menjadi wanita bukan berarti semua hal sudah Anda ketahui ya. Mari tingkatkan pengetahuan terhadap diri Anda sehingga bisa memaksimalkan kecantikan dan kesehatan Anda.


Share:

Gerakan 30 September: Dari Menteng ke Pusaran Kekuasaan


PERISTIWA 42 tahun lalu itu tetap saja masih menjadi tanda tanya keluarga besar Aidit: apa sebenarnya peran Aidit dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu? Peran Aidit dalam "kup" 30 September 1965 memang masih misteri. Sejumlah sejarawan, juga sejumlah kalangan militer, yakin PKI dalang penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat. Karena PKI terlibat, maka Aidit pun, sebagai Ketua Committee Central, dituding sebagai otaknya.

Murad Aidit, adik kandung Aidit, berkisah. Pada "malam berdarah" itu tak ada tanda-tanda atau kesibukan khusus di rumah Aidit. "Malah saya dipesan mematikan lampu," kata Murad. Menjelang "peristiwa Gerakan 30 September" itu, Murad memang menginap di rumah Aidit di Pegangsaan Barat, Jakarta Pusat. Rumah Aidit sepi. "Sampai sekarang saya lebih bisa menerima tragedi itu karena ada pengkhianat dalam tubuh PKI," katanya. Dia tidak yakin abangnya yang memerintahkan pembunuhan para jenderal.

Aidit mengawali "karier politiknya" dari Asrama Menteng 31, asrama yang dikenal sebagai "sarang pemuda garis keras" pada awal kemerdekaan. Di tempat ini berdiam, antara lain, Anak Marhaen Hanafi (pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba), Adam Malik, dan Sayuti Melik (pengetik naskah Proklamasi). Para penghuni Menteng 31 sempat menculik Soekarno dan memaksa si Bung memproklamasikan kemerdekaan Indonesia-sesuatu yang kemudian ditolak Bung Karno. Di kelompok Menteng 31, Aidit sangat dekat dengan Wikana, seorang pemuda sosialis.

Aidit disebut-sebut juga berperan dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 1948. Pascapemberontakan yang gagal itu, ia sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogya. Ketika terjadi agresi Belanda, ia kabur dari penjara dan tinggal di Vietnam Utara. Tentang kepergiannya ke Vietnam ada pendapat lain. Ada yang menyebut bahwa sebenarnya ia hanya mondar-mandir Jakarta-Medan.

Yang pasti, pada pertengahan 1950, Aidit, yang saat itu berusia 27 tahun "muncul" lagi. Bersama M.H. Lukman, 30 tahun, Sudisman, 30 tahun, dan Njoto, 23 tahun, ia memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam kurun waktu inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai.

Momentum konsolidasi partai terjadi ketika meletus kerusuhan petani di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, 6 Juni 1953. Kerusuhan yang digerakkan kader PKI itu menjatuhkan kabinet Wilopo. Kesuksesan ini memompa semangat baru ke tubuh partai tersebut.

Bersama "kelompok muda" partai, Aidit menyingkirkan tokoh-tokoh lama partai. Pada Kongres PKI 1954, pengurus PKI beralih ke generasi muda. Tokoh partai semacam Tan Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Pada kongres itu, Aidit dikukuhkan menjadi Sekretaris Jenderal PKI. Aidit lantas meluncurkan dokumen perjuangan partai berjudul "Jalan Baru Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi".

Aidit juga membangun aliansi kekuatan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno yang bisa dipakai mengatasi tekanan lawan-lawan politik mereka. Puncak kerja sama terjadi pada masa Sidik Djojosukarto memimpin PNI. Saat itu disepakati bahwa PNI tidak akan mengganggu PKI dalam rangka membangun partai.

Menurut Ganis Harsono, seorang diplomat senior Indonesia dalam otobiografinya, Cakrawala Politik Era Sukarno, strategi ini berhasil "menyandera" Bung Karno. Ada kesan bahwa Bung Karno berdiri di depan PKI, sekaligus memberi citra PKI pendukung revolusi Bung Karno dan Pancasila.

Kerja keras Aidit membuahkan hasil. Pada Pemilu 1955, PKI masuk "empat besar" setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.

PKI terus maju. Pada tahun itu juga partai ini menerbitkan dokumen perjuangan "Metode Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan". Bentuk pertama, perjuangan gerilya di desa-desa oleh kaum buruh dan petani. Kedua, perjuangan revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota, terutama kaum buruh di bidang transportasi. Ketiga, pembinaan intensif di kalangan kekuatan bersenjata, yakni TNI.

Pada 1964, PKI membentuk Biro Khusus yang langsung dibawahi Aidit sebagai Ketua Committee Central PKI. Tugas biro ini mematangkan situasi untuk merebut kekuasaan dan infiltrasi ke tubuh TNI. Biro Chusus Central (demikian namanya) dipimpin Sjam Kamaruzzaman. Tak sampai setahun, Biro Chusus berhasil menyelusup ke dalam TNI, khususnya Angkatan Darat.

Pada Juli 1965, seiring dengan merebaknya kabar kesehatan Bung Karno memburuk, suhu politik Tanah Air makin panas pula. Sebuah berita dari dokter RRC yang merawat Presiden datang: Bung Karno akan lumpuh atau meninggal dunia. Di Jakarta bertiup rumor menyengat, muncul Dewan Jenderal yang hendak menggulingkan Bung Karno.

Dalam Buku Putih G-30-S/PKI yang diterbitkan Sekretariat Negara pada 1994, disebutkan bahwa Aidit kemudian menyatakan, gerakan merebut kekuasaan harus dimulai jika tak ingin didahului Dewan Jenderal. Gerakan itu dipimpinnya sendiri. Ada pun Sjam ditunjuk sebagai pemimpin pelaksana gerakan.

Saat diadili Mahkamah militer, Sjam mengaku dipanggil Aidit pada 12 Agustus 1965. Dalam pertemuan itu, ia diberi tahu bahwa Presiden sakit dan adanya kemungkinan Dewan Jenderal mengambil tindakan bila Bung Karno mangkat. Menurut Sjam, Aidit memerintahkan dia meninjau "kekuatan kita".

Sejak 6 September 1965, Sjam lantas menggelar rapat-rapat di rumahnya dan di rumah Kolonel A. Latief (Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya). Di rapat ini hadir Letnan Kolonel Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) dan Mayor Udara Sudjono (Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan Halim Perdanakusumah). Rapat terakhir, 29 September 1965, menyepakati gerakan dimulai 30 September 1965 dengan Untung sebagai pemimpinnya.

Dalam wawancara dengan majalah D&R, 5 April 1999, A. Latief menyatakan, Gerakan 30 September dirancang untuk menggagalkan upaya kup Dewan Jenderal. "Kami dengar ada pasukan di luar Jakarta yang didatangkan dalam rangka defile Hari Angkatan Bersenjata dengan senjata lengkap. Ini apa? Mau defile saja, kok, membawa peralatan berat," kata Latief. Karena merasa bakal terjadi sesuatu, para perwira tersebut, yang mengaku terlibat karena loyal pada Soekarno, memilih menjemput "anggota" Dewan Jenderal untuk dihadapkan ke Soekarno.

Menurut Latief gerakan itu diselewengkan oleh Sjam. "Rencananya akan dihadapkan hidup-hidup untuk men-clear-kan masalah, apakah memang benar ada Dewan Jenderal," katanya. Tapi, malam hari, saat pasukan Cakrabirawa pimpinan Letnan Dul Arief, anak buah Untung, akan berangkat menuju rumah para jenderal, tiba-tiba, ujar Latief, Sjam datang. "Bagaimana kalau para jenderal ini membangkang, menolak diajak menghadap Presiden," kata Dul Arief. Sjam menjawab, para jenderal ditangkap. Hidup atau mati.

Keesokan harinya, Dul Arief melaporkan kepada Latief dan Jenderal Soepardjo bahwa semua telah selesai. "Mula-mula mereka saya salami semua, tapi kemudian Dul Arief bilang semua jenderal mati. Saya betul-betul kaget, tidak begitu rencananya," kata Latief yang mengaku tidak kenal dengan Aidit.

Aidit sendiri belum pernah memberi pernyataan tentang hal ini. Ia ditangkap di Desa Sambeng, dekat Solo, Jawa Tengah, pada 22 November 1965 malam, dan esok paginya ditembak mati. Sebelum ditangkap pasukan pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto, Aidit dikabarkan sempat membuat pengakuan sebanyak 50 lembar. Pengakuan itu jatuh ke Risuke Hayashi, koresponden koran berbahasa Inggris yang terbit di Tokyo, Asahi Evening News.

Menurut Asahi, Aidit mengaku sebagai penanggung jawab tertinggi peristiwa "30 September". Rencana pemberontakan itu sudah mendapat sokongan pejabat PKI lainnya serta pengurus organisasi rakyat di bawah PKI. Alasan pemberontakan, mereka tak puas dengan sistem yang ada. Rencana kup semula disepakati 1 Mei 1965, tetapi Lukman, Njoto, Sakirman dan Nyono-semuanya anggota Committee Central-menentang. Alasannya, persiapan belum selesai. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Letkol Untung dan sejumlah pengurus lain pada Juni 1965, disepakati mulai Juli 1965 pasukan Pemuda Rakyat dan Gerwani dikumpulkan di Pangkalan Halim Perdanakusumah.

Pertengahan Agustus, sekembalinya dari perjalanan ke Aljazair dan Peking, Aidit kembali melakukan pertemuan rahasia dengan Lukman, Njoto, Brigjen Soepardjo, dan Letkol Untung. PKI mendapat info bahwa tentara, atas perintah Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Achmad Yani, akan memeriksa PKI karena dicurigai mempunyai senjata secara tidak sah. "Kami terpaksa mempercepat pelaksanaan coup d'etat," kata Aidit. Akhirnya, dipilih tanggal 30 September.

Dalam buku Bayang-bayang PKI yang disusun tim Institut Studi Arus Informasi (1999), diduga Aidit tahu adanya peristiwa G-30-S karena ia membentuk dua organisasi: PKI legal dan PKI Ilegal. Biro Chusus adalah badan PKI tidak resmi. Sjam bertugas mendekati tentara dan melaporkan hasilnya, khusus hanya kepada Aidit. Hanya, ternyata, tak semua "hasil" itu dilaporkan Sjam.

Tentang besarnya peran Aidit dalam peristiwa 30 September ditampik Soebandrio. Menurut bekas Wakil Perdana Menteri era Soekarno ini, G-30-S didalangi tentara dan PKI terseret lewat tangan Sjam. Alasan Soebandrio, sejak isu sakitnya Bung Karno merebak, Aidit termasuk yang tahu kabar tentang kesehatan Bung Karno itu bohong. Waktu itu, kata Soebandrio, Aidit membawa seorang dokter Cina yang tinggal di Kebayoran Baru. Soebandrio dan Leimena, yang juga dokter, ikut memeriksa Soekarno. Kesimpulan mereka sama: Bung Karno cuma masuk angin.

Soebandrio dalam memoarnya, Kesaksianku Tentang G-30-S, menyesalkan pengadilan yang tidak mengecek ulang kesaksian Sjam. Menurut Soebandrio, ada lima orang yang bisa ditanya: Bung Karno, Aidit, dokter Cina yang ia lupa namanya tersebut, Leimena, dan dirinya sendiri. Menurut Soebandrio, pada Agustus 1965 kelompok "bayangan Soeharto" (Ali Moertopo cs) sudah ingin secepatnya memukul PKI. Caranya, mereka melontarkan provokasi-provokasi untuk mendorong PKI mendahului memukul Angkatan Darat.

Njoto membantah pernyataan Aidit. Menurut Njoto, "Hubungan PKI dengan Gerakan 30 September dan pembunuhan Jenderal Angkatan Darat tidak ada. Saya tidak tahu apa pun, sampai-sampai sesudah terjadinya," katanya dalam wawancara dengan Asahi Evening News. Keterangan Njoto sama dengan komentar Oei Hai Djoen, mantan anggota Comite Central. "Kami semua tidak tahu apa yang terjadi," kata dia.

Presiden Soekarno sendiri menyatakan Gestok (Gerakan Satu Oktober)-demikian istilah Bung Karno-terjadi karena keblingernya pemimpin PKI, lihainya kekuatan Barat atau kekuatan Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme), serta adanya "oknum yang tidak benar".

Misteri memang masih melingkupi peristiwa ini. "Menurut kami, PKI memang terlibat, tapi terlibat seperti apa?" kata Murad. Setelah puluhan tahun tragedi itu berlalu, pertanyaan itu belum menemukan jawabannya. Setidaknya bagi Murad dan anggota keluarga Aidit yang lain.

Sumber
Share: