Berbagi Sebening Hati

Showing posts with label Creative Writing. Show all posts
Showing posts with label Creative Writing. Show all posts

Sunday, 1 May 2016

Inilah Pelajaran Berharga dari Yusril Ihza Mahendra


Postingan ini terkait dengan bahasan sebelumnya, yaitu bagaimana setiap jurnalis harus memiliki semangat dan sikap sebagai “cub reporter.” Karakter dari “cub”, yakni anak singa yang lincah loncat sana loncat sini sebagaimana telah saya jelaskan, harus dijadikan “ethos” kerja wartawan, bahkan bagi wartawan senior sekalipun.
Namun demikian, menjadi “cub reporter” saja tidaklah cukup. Lincah saja tidak cukup. Bagaimana mungkin kelincahan dimiliki tetapi saat berhadapan dengan narasumber si wartawan lincah itu langsung diam seribu bahasa? Jangan sampai prilaku memalukan ini terjadi saat bekerja di lapangan.
Apa yang harus dilakukan seorang jurnalis agar tidak terdiam seribu bahasa saat menghadapi narasumber yang berhasil dikejar atau ditangkapnya?
Pengetahuan! Ya, pengetahuan.
Izinkan saya menulis sebagaimana judul tulisan ini, yakni tentang pelajaran menulis berita dari Yusril Ihza Mahendra. Apa kaitannya Yusril dengan dunia jurnalistik? Apa kaitannya profesor hukum tata negara itu dengan pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang wartawan?
Izinkan saya bercerita.....
Pada kurun waktu 1997-1998, sesaat setelah pemerintah Soeharto tumbang, dipersiapkanlah seperangkat undang-undang oleh orang-orang orde reformasi. Bukan hanya itu, bahkan "babon"-nya undang-undang, yakni konstitusi yang dikenal sebagai Undang-undang Dasar 1945 (UUD 45) -yang sebelumnya “sakral” untuk disentuh (diubah) seperti halnya kitab suci— turut diubah juga. Sesuatu yang luar biasa saat itu.
Sebagai jurnalis, saya kemudian bersinggungan dengan draft perubahan atau amandment konstitusi ini. Demikian alot pergulatannya, sampai-sampai ada partai yang menghendaki 7 kata dalam Piagam Jakarta pun dimasukkan kembali. Sekadar mengingatkan, makna dari “tujuh kata” ini adalah, sistem politik dan pemerintahan NKRI dijalankan beradasarkan syariat Islam.
Pergulatannya memang ada di tingkat Panja maupun Pansus, tetapi kandas sebelum masuk Sidang Paripurna. Akan tetapi yang jelas, harapan ini kandas karena mayoritas anggota MPR belum menghendakinya. Sebagai sebuah perjuangan dari kalangan umat Islam, ini juga tercermin dalam amandment konstitusi itu.
Ups... tulisan ini tidak bermaksud berpanjang-panjang menjelaskan soal konstitusi, tetapi kembali ke cerita awal, bahwa pada kurun waktu itu, yakni 1997-1998, saya banyak bersinggungan dengan sejumlah pakar, khususnya hukum tata negara, dan dalam kaitan inilah saya mengenal Profesor Yusril Ihza Mahendra.
Saat kran pendirian parpol dibuka, tersebutlah 48 partai politik yang berhak ikut Pemilu 1999. Yusril adalah salah satu pendiri dan bahkan ketua Partai Bulan Bintang. Tetapi sekali lagi, persinggungan saya dengan Yusril lebih banyak soal hukum tatanegara tinimbang personanya sebagai petinggi partai politik.
Dari persinggungan itu, Yusril adalah pakar hukum tata negara yang secara tidak langsung mengajarkan saya tentang satu hal; PERSIAPAN!
Saya tidak tahu, mungkin juga tidak terlalu peduli, apakah rekan-rekan wartawan dari media lain yang berkerubung di Gedung MPR-DPR itu “ngeh” dengan “ajaran” Yusril yang tak nampak (invisible) ini, tetapi bagi saya itu nyata. Saya bahkan sampai ambil kesimpulan saat itu; jangan sekali-kali bertanya tentang hukum tata negara untuk kepentingan amandment konstitusi kalau kita tidak siap dan tidak punya persiapan!
Ciri khas Yusril sebagai pakar hukum tata negara adalah “balik bertanya” kepada wartawan yang mencecarnya tetapi dengan catatan, cecaran si wartawan itu dilihatnya sebagai peluru hampa. Yusril akan dengan mudah menangkap pertanyaan keliru wartawan, baik secara historis berupa gejala anakronisme, etika, maupun butir-butir pasal dan kaitannya dengan turunan Tap MPR dan Undang-undang.
Sebagai contoh, jangan bertanya apakah Tap MPR yang dianggap sebagai pembenaran rezim untuk hal-hal yang luput diatur konstitusi perlu didihapus atau tidak. Salah-salah Yusril akan balik bertanya, “Menurut Saudara sendiri (wartawan), apakah Tap MPR masih perlu dipertahankan atau dihapus?”
Inilah ciri khas Yusril. Kalau saya selaku wartawan tidak siap dengan jawaban itu, mau ditaruh di mana wajah saya ini! Ketika Yusril sebagai narasumber meminta wartawan menjawabnya, secara etis wartawan juga harus mampu menjelaskannya. Kepada Yusril, tidak bisa berapologi, “Lho saya ‘kan wartawan, tugas saya ‘kan bertanya!”
Tidak. Itu tidak berlaku bagi Yusril. Dia tahu wartawan sedang mencari isu. Lalu pertanyaan yang paling gampang disampaikan meski tanpa persiapan alias hanya berbekal “peluru hampa” adalah soal perlunya Tap MPR dipertahankan atau sebaliknya dihapus. Yusril tahu, jawaban “ya” atau “tidak” darinya akan disusul kembali oleh pertanyaan wartawan, “mengapa ‘ya’ atau mengapa ‘tidak’”.
Bagi Yusril, pekerjaan wartawan bukan jadi “penadah” muntahan omongan orang, kendati itu omongan profesor sekalipun. Wartawan bukanlah “ember” penampung omongan orang. Juga bukan “tape recorder” atau aplikasi perekam suara. Bagi Yusril, wartawan adalah “teman diskusi” dan hasil chit-chat itulah yang bakal dijadikan isu, kemudian ditulis di media pada keesokan harinya.
Inilah yang dimaksud isi kepala tidak boleh kosong, harus selalu terisi ilmu pengetahuan. Jadi “cub reporter” yang lincah saja tidaklah cukup. Jika kepala sudah terisi mengenai pengetahuan ketatanegaraan, misalnya, pertanyaan yang memancing jawaban “ya” atau “tidak” mungkin tidak akan disampaikan.
Format pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak” perlu dihindarkan. Berbeda misalnya jika pertanyaan wartawan dibungkus seperti dialog dengan sedikit memberi “repertoir” (pembuka) sebagai berikut:
“Tap MPR selama pemerintahan Orde Baru sering dijadikan alat kekuasaan. Ada wacana menghapus seluruh Tap MPR, padahal secara hierarkis Tap MPR berada di bawah konstitusi dan beberapa di antaranya diperlukan untuk mengatur ketatanegaraan sebagai penjabaran konstitusi. Apakah Tap MPR memang sudah tidak diperlukan lagi untuk kondisi sekarang ini?”
Sebagai pakar hukum tatanegara, Yusril akan menjelaskan konsekuensi kalau sebuah Tap MPR/MPRS dihapus. Misalnya Tap MPRS XXV/1966 tentang Pembubaran PKI dihapus, konsekuensinya PKI bisa hidup kembali di Indonesia. Bukankah ini berita besar?
Dari wawancara ini saja wartawan kira-kira bisa menangkap isu besar atas apa yang ditanyakannya kepada Yusril selaku narasumber. Isu PKI masih dianggap “seksi”, apalagi saat kran reformasi dibuka, seolah-olah partai politik berhaluan komunis itu bisa hidup lagi, apalagi dengan “mengakali” penghapusan Tap MPRS yang terkait pemburannya.
Sekarang, Yusril, pakar hukum tata negara yang sedang saya ceritakan ini, tengah berjuang untuk bisa menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Itu urusannyalah, yang pasti tulisan ini bukan mengenai politik.
Tulisan ini semata-mata mengenai dunia kepenulisan dan jurnalistik yang kebetulan sosok Yusril telah menginspirasi saya selaku jurnalis lapangan. Bahwa di luar ada sekelompok orang tidak menyukai sepak terjangnya, membenci sikapnya yang katanya "nyinyir", saya harus mengatakan “It’s none of my business”. Ini soal dunia tulis-menulis!
Okay... pada kesempatan berikutnya saya akan membahas bagaimana cara “mengisi” atau “men-charge” kepala jurnalis dengan “vitamin” yang bermutu itu, agar saat ditanya balik oleh narasumber seperti Yusril wartawan tidak gelagapan...
Share:

Tuesday, 26 April 2016

Eka Kurniawan Menjawab Pertanyaan: Darimana Datangnya Ide Menulis

Ia lahir di Tasikmalaya, 1975, menyelesaikan pendidikan di Fakultas Filsafat,
 Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tahun 1999.
 Pada tahun itu ia menerbitkan buku pertamanya yang berasal dari tugas akhir kuliah.
 Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Ia menulis cerita pendek, novel,
maupun esai di berbagai media.
Novel-novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.
Eka berbagi tentang ide bahan tulisan untuk para calon penulis sebagai berikut:
Adalah seorang putri bernama Syahrazad yang menyerahkan dirinya untuk dinikahi sang raja lalim bernama Syahrial. Sang putri melakukan itu untuk menghindari kurban lebih banyak, sebab sang raja selalu membunuh pengantinnya selepas melewati malam pertama. Tapi dengan cara apa Syahrazad sendiri menyelamatkan nyawanya? Jawabannya: dengan bercerita. Setiap malam, Syahrazad menceritakan sederet kisah yang akan digantung ketika fajar menjelang. Sang raja akhirnya tak pernah memenggal kepada sang putri, sebab ia selalu ingin mendengar lanjutan kisah yang diceritakan Syahrazad, begitu pula besok paginya, dan besoknya, dan besoknya. Sekarang kita menyebut dongeng tersebut sebagai Kisah Seribu Satu Malam.

Sesungguhnya kita adalah pewaris Syahrazad. Tugas utama kita sebagai penulis cerita, sebagaimana Syahrazad, adalah memastikan bahwa pembaca kita akan terus mengikuti dongeng dari awal hingga akhir, atau kepala kita dipenggal sebagai taruhannya.
Selama bertahun-tahun saya mencoba menulis dan menjadi Syahrazad. Seperti sebagian besar yang lain, saya mencoba puisi, karena saya pikir lebih pendek dan lebih gampang. Belakangan saya tahu puisi tidaklah gampang, dan saya segera meninggalkannya. Lagipula saya ingin menulis cerita. Saya melirik cerita pendek, sebelum punya keberanian untuk membayangkan menulis sebuah novel.
Dan menulis cerita ternyata juga bukan perkara gampang. Saya tak tahu apa yang akan diceritakan. Saya membaca majalah dan mencoba mencari tahu apa yang mereka ceritakan. Setelah membaca lebih banyak cerita, saya mulai bisa membayangkan apa yang bisa saya ceritakan. Saya mulai menuliskannya. Tapi setelah selesai ditulis, saya baru menyadari, tulisan saya tak lebih dari ulangan dari satu atau dua cerita yang pernah saya baca. Memang tidak menjillak, tapi karena segalanya diambil dari tulisan orang lain, cerita itu segera jadi terasa basi.
Maka saya mulai berpikir tentang sesuatu yang, katakanlah, orisinil. Istilah ini sendiri sebenarnya membingungkan. Mungkin lebih baik kita sebut pura-pura orisinil. Saya mulai meninggalkan cerita-cerita di majalah, sebab saya tak ingin nanti kembali terpengaruh. Saya mencoba menjalankan nasihat-nasihat lama yang mengatakan, sumber cerita sejati adalah kehidupan ini sendiri. Saya mulai menjadi pengamat amatir. Saya memperhatikan ibu memasak di dapur, ayam jago berkokok di pagi hari, orang-orang pergi ke pasar, nenek mengantarkan rantang untuk kakek di sawah. Segala yang bisa saya lihat dan dengar saya perhatikan betul.
Tiba-tiba saya menyadari ada begitu banyak hal yang mungkin belum diceritakan orang. Begitu melimpah. Harap diingat waktu itu saya masih membaca majalah remaja, dengan cerita-cerita tentang anak sekolah jatuh cinta, bolos sekolah, berkelahi di toilet, atau bu guru yang judes. Kenapa harus menceritakan hal begitu terus-menerus? Lihat, kita bisa menceritakan ayah yang doyan pakai sarung, paman yang pergi menengok air di pagi buta, dukun beranak yang siap sedia setiap waktu, atau tukang reparasi arloji di ujung pasar.
Saya mulai memilih objek yang saya pikir paling unik, dan saya merasa ituorisinil. Saya merasa bahagia karena menemukan satu objek cerita yang belum pernah saya lihat ditulis orang lain. Segera saya ambil kertas dan mesin tik, dan mulai menulis. Begitu semangat, hingga segalanya berakhir menjelang akhir halaman pertama. Saya bingung, apalagi yang harus saya tulis? Saya mencoba berpikir lebih keras, tapi tak ada ide baru untuk melanjutkan cerita tersebut. Setelah lelah berpikir, kemudian saya mulai meragukan kehebatan objek cerita saya. Lama-kelamaan mulai tampak terlihat jelek. Saya menggulungnya dan segera membuangnya ke tempat sampah. Saya beralih ke objek lain, yang saya pikir lebih unik dan orisinil, tapi selalu menemui jalan buntu di paragraf menjelang akhir halaman pertama. Saya selalu tak tahu setelah menceritakan beberapa bagian, apalagi yang mesti saya ceritakan. Dalam kasus Syahrazad, seharusnya saya sudah dipenggal.
Setelah beberapa kali menyerah, saya kembali ke cerita-cerita yang ditulis orang lain. Saya kembali membaca mereka, kali ini bukan untuk tahu apa yang mereka ceritakan, tapi bagaimananya mereka menceritakannya. Satu cerita saya bandingkan dengan cerita lainnya. Saya mulai meraba-raba dan mulai merasa menemukan resepnya. Hmm, sesungguhnya semua cerita ternyata memiliki sturktur seperti sandiwara tiga babak di sekolah. Pertama, mesti ada masalah. Kedua, dari masalah kemudian datang konflik. Ketiga, setelah konflik mestinya ada penyelesaian. Belakangan saya baru tahu itu rumus yang sudah klasik, sudah dipikirkan sejak zaman Aristoteles!
Setelah merasa tahu, kini saya mengamati sekeliling saya dengan cara yang berbeda. Saya tak lagi mencoba melihat keunikan dan keorisinilan segala sesuatu. Saya mulai mencoba melihatnya sebagai suatu masalah. Ayam jago berkokok di pagi hari, apa masalahnya? Senja berwarna jingga, apa masalahnya? Saya kembali ke mesin tik setelah memperoleh beberapa masalah, yang saya pikir sangat menarik untuk diceritakan. Kali ini saya tak lagi memperoleh writer’s block, atau kemacetan, sebab setelah membeberkan segala masalah, saya tahu harus segera masuk ke konflik. Semua masalah pasti menimbulkan konflik! Dan kalau konfliknya sudah terpikirkan, tinggal mencari penyelesaiannya. Ah, kali ini menulis cerita tampak menjadi lebih gampang. Saya bisa menulis beberapa cerita, dari awal sampai akhir.
Tapi oh, ketika saya membacanya lagi, kembali saya menemukan fakta menyedihkan ini: cerita saya memang jalan, tapi tetap tak menarik. Ceritanya mungkin mudah ditebak. Atau kadang-kadang melelahkan, membosankan, menyebalkan. Tepatnya, sebagai penulisnya sendiri, cerita-cerita saya tak ada menariknya. Padahal saya sudah menulis berdasarkan resep yang benar, kan? Putus asa saya kembali ke cerita-cerita yang sudah ditulis orang lain, yang menurut saya berhasil dan asyik sebagai cerita. Saya mencoba mencari tahu, apa yang membuat mereka menarik. Objek cerita mereka kadang sederhana, masalahnya juga seringkali biasa saja, tapi kenapa ceritanya bisa menarik dibaca. Pasti ada resep-resep lain, pikir saya.
Begitulah, di luar semua itu, saya menemukan hal-hal lainnya. Saya menemukan di beberapa cerita, bahasanya memang begitu bagus. Kalimat-kalimat mereka demikian jernih. Peristiwa-peristiwa yang ditulis sangat terpilih. Karakter-karakter tokohnya mengagetkan. Semua itu membuat saya longsor dan menyadari, betapa masih panjang jalan yang harus saya tempuh untuk menaklukan seni menulis.
Saya juga kembali mengamati sekitar. Melihat bagaimana ayah makan, sebab cara makan ayah berbeda dengan ibu. Cara bicara penjual di pasar berbeda dengan cara bicara pak polisi. Saya belajar nama-nama binatang, nama-nama bunga. Saya belajar sejarah, filsafat, psikologi, antropologi, fisika, kimia. Tentu saja saya juga kembali ke karya-karya yang telah memperkenalkan saya dengan seni menulis ini. Saya belajar bagaimana Franz Kafka membuat kalimat pertama dalam novel-novelnya. Saya belajar bagaimana Gabriel Garcia Marquez membangun struktur novelnya, sebagaimana mencari tahu bagaimana Ernest Hemingway menyusun kalimat-kalimatnya.
Kini saya beranggapan, menulis cerita, dan kemudian menemukan dari mana cerita berawal, adalah suatu benturan tak ada henti dari apa yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, dan apa-apa yang telah diajarkan oleh para penulis terdahulu dalam karya-karya mereka. Dengan kata lain, bagi para pewaris Syahrazad, mengetahui sebanyak-banyaknya hal dalam kehidupan ini sama penting dengan terus membaca karya-karya terbaik yang telah dituliskan untuk kita.

Share:

Monday, 25 April 2016

Mengapa Saya Ngeblog ?


Bermula dari kebiasaan membaca dan menulis juga sebenarnya. Lalu saya berpikir, tulisan saya bisa diterbitkan. Paling tidak untuk berbagi dengan orang lain. siapa tahu ada manfaatnya. Bahkan selanjutnya ada juga keinginan seperti penulis-penulis yang sudah memiliki nama di dunia literasi. Dengan kegiatan menulis saya bisa menghasilkan uang seperti mereka.

Maka saya pun coba-coba mengirim tulisan ke berbagai media mainstreaman. Alhamdulillah, dari sekian banyak tulisan yang saya kirimkan ada beberapa yang diterbitkan... Dan mendapatkan honorarium, tentu saja.

Lalu seiring perkembangan jaman, sebagaimana belakangan ini tumbuh pesatnya berbagai media online, termasuk berbagai bentuknya, saya pun semakin getol, dan aktif dengan membuat Blog sebagaimana yang ada sekarang ini.

Bicara masalah nge-blog, saya sebenarnya mendapat panduan pertama kali dari wartawan senior harian Kompas, Pepih Nugraha. salah satu di antaranya melalui berbagai tulisan beliau. Di antaranya motivasi yang diberikan adalah sebagai berikut:

Senator Barack Obama, kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, tahu betul memanfaatkan kekuatan situs
atau blog pribadi untuk meraih simpati sekaligus kemenangan. Pada konvensi partai, Obama menyingkirkan saingan
terkuatnya, Hillary Rodham Clinton, dengan orasi kampanyenya yang mengena.

Di luar kemampuannya memikat calon pemilih yang amat rasional di dunia nyata, Obama juga unggul di dunia maya. Ia
pandai memanfaatkan kekuatan media online. Terlepas bahwa orang lain yang menggarap perwajahan dan isi situs
pribadinya, Obama tidak harus malu menyatakan diri sebagai blogger yang mengelola dan memelihara situs pribadinya
secara rutin.

Tengok situs www.barackobama.com atau www.my.barack- obama.com yang selalu di-update. Kedua situs itu tidak
semata-mata meminta dana dari para simpatisannya, tetapi juga menawarkan berbagai produk ”Barack Obama”. Tidak
kurang dari 400 produk ditawarkan, mulai dari kaus T-shirt, topi, pin, kancing, payung, jaket, cangkir, sampai stiker. Lebih
progresif, Obama memiliki armada pengiriman barang agar lekas sampai kepada pemesan.

Selain mengundang para blogger membuat testimoni, Obama juga menarik pemilih His- panik dengan membuat situs
versi bahasa Spanyol. Ini yang paling mencengangkan: Obama memiliki kanal untuk me- nyambut pemilih Hillary Clinton!

Di kanal bertajuk ”Welcome Hillary Supporters” yang dilengkapi foto Hillary itu, Obama menyilakan pendukung Hillary
segera beralih mendukungnya. Alasannya sederhana, setelah Hillary kalah dalam konvensi, para pendukung Hillary pun
merupakan orang-orang Demokrat yang amat diperlukan saat pemilihan presiden melawan kandidat Partai Republik,
John McCain.

Jelaslah, Obama tidak menganggap Hillary dan para pendukungnya sebagai ”pengkhianat” yang harus dijauhi hanya
karena tidak memilihnya. Lewat situs pribadinya, Obama mengajak mereka memperkuat dan memenangkan Demokrat
dalam pemilihan presiden dengan cara memilihnya.

Dari situs pribadinya pula, para netter simpatisan Obama bisa mengetahui di mana Obama berada di dunia maya. Jejak
Obama yang memanfaatkan ”ruang maya” tersebut bisa ditemui di sejumlah situs jejaring sosial, seperti Facebook,
MySpace, YouTube, Flickr, Digg, Twitter, Linkedin, Eventful, BlackPlanet, Faithbase, Eons, Glee, MiGente, MyBatanga, DNC
Partybuilder, dan AsianAve.

Pada 6 Juni 2008, pendukung Obama di Facebook baru 864.832 netter. Belum sampai dua minggu, pendukungnya sudah
satu juta! Jumlah ini jauh di atas Hillary yang meraih 158.234 pendukung dan McCain yang meraih 146.439. Demikian pula
di Twitter, pada 17 Juni pendukung Obama 998.901, yang apabila dihitung-hitung ada 135 pendukung baru setiap 20
menitnya.

Tak sekadar narsis

Blog sering dilecehkan sebagai media orang narsis, yakni orang- orang yang kelebihan hasrat menonjol-nonjolkan dirinya
sendiri, orang yang senang memuji-muji kehebatannya sendiri. Karena narsisme ingin selalu dilihat dan bahkan dipuji
orang, blogger terkena getah harus menanggung konotasi negatif.

Akan tetapi, kenyataannya, jumlah blogger terus membengkak. Technorati, situs penyurvei blog, menyebutkan, akhir
Desember 2007 terdapat 112 juta blogger ”menyesaki” jagat maya internet ini. Seiring dengan berkembangnya jenis-jenis
blog yang mengarah ke video blog (vlog), jumlahnya hingga sekarang boleh jadi sudah sampai 200 juta. Jika benar ada 1
miliar orang di dunia tersambung ke internet, artinya seperlima pengguna internet di jagat ini adalah blogger!

Penyedia blog gratisan, seperti Wordpress, saat tulisan ini diturunkan sudah mencatat 3.458.488 pengguna. Dari jumlah
itu, ada 143.266 posting atau konten yang diunggah (upload) setiap harinya. Padahal selain Wordpress, ada juga puluhan
situs penyedia web gratis. Sebut saja Blogspot, Blogsome, Blogdrive, Movable Type, LiveJournal, dan Dagdigdug. Situs
terakhir adalah penyedia blog milik orang Indonesia.

Perang blog pernah terjadi saat pemilihan presiden Perancis beberapa waktu lalu antara Nicolas Sarkozy melawan
saingan terkuatnya, Segolene Royal. Mulanya Royal, politisi perempuan, yang membuat blog. Tidak lama, Sarkozy
membuat blog pribadi dan ”memelototi” blog-nya setiap ada kesempatan karena tak mau kalah dari Royal.

Dekati konstituen

Blog dan situs jejaring sosial seperti Facebook sebenarnya bisa mendongkrak popularitas politisi lokal menjadi politisi
global. Contoh Perdana Menteri China Wen Jiabao. Di dunia nyata, namanya tidak dikenal. Orang mungkin lebih tahu Jet
Lie atau Jackie Chan. Meski Wen Jiabao orang ”jadul”, tetapi ia tidak terlalu malu untuk menjadi salah seorang digital
migrant dengan memajang dirinya di Facebook.

Berkat usahanya mengkapling ”ruangan” di Facebook, plus berkat kepedulian dan kehadiran Wen Jiabao mengunjungi
korban gempa bumi Sichuan, popularitasnya sebagai politisi meningkat dengan menduduki 10 besar politisi dunia. Meski
tidak sefantastis Obama di urutan pertama yang menggaet lebih dari 1 juta pendukung, Wen didukung 20.136 netter.

Di negeri sendiri, blog artis sinetron Sandra Dewi yang baru diluncurkan beberapa waktu lalu sudah menggaet lebih dari
8.000 anggota dengan ribuan pengunjung.

Sayangnya, blog tidak dimanfaatkan para politisi Indonesia, khususnya anggota DPR. Padahal, jika anggota DPR nge-
blog, ia akan lebih dekat dengan konstituen, toh internet sudah sampai ke desa-desa. Belum pernah terdengar anggota
DPR nge-blog seperti Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono. Sejumlah anggota DPR justru ramai dibicarakan di blog
karena kena co- kok KPK. Beberapa anggota lainnya malah menjadi ”bintang” blog karena ketahuan berbuat mesum.

Akan tetapi, percayalah, masih banyak politisi dan anggota DPR yang baik dan berakhlak mulia, yang mungkin siap-siap
nge-blog agar bisa berdekat-dekat dengan konstituen. Bukankah Pemilu 2009 sudah semakin mendekat?




Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/03/00133578/cerita.tentang.politisi.dan.blog

 Untuk selanjutnya saya pun banyak mencari tips dari para blogger lainnya di antaranya 


Begitu.






Share:

Saturday, 23 April 2016

Menciptakan Ketegangan Dalam Karangan


DAVID HARE adalah seorang penulis naskah dan sutradara film asal Inggris yang memiliki reputasi internasional sebagai dramatis modern paling berpengaruh di Amerika Serikat dan Inggris. Beliau juga dikenal sebagai penulis yang mengadaptasi novel The Hours serta The Reader menjadi naskah film dengan judul sama. Beliau telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk PEN/Pinter Prize yang bergengsi. Berikut adalah sejumlah tips atau wejangan dari beliau:
“Tulis tentang apa yang kalian ketahui, tapi pastikan kalian mengolah pengetahuan itu menjadi suatu cerita yang baik.”
________
“Irama tulisan kalian sama penting dengan arti dari tulisan kalian—irama yang saya maksud tidak hanya dialog, tapi juga ketukan pada bahasa yang kalian gunakan serta interaksinya dengan adegan dalam cerita.”
________
“Tujuan dari sebagian besar karya-karya saya: menunjukkan bagaimana keputusan moral dalam kehidupan nyata melibatkan motivasi yang sangat kompleks serta efek yang biasanya hanya bisa dilakukan dalam cerita fiksi. Saya tidak mau berusaha mengelabui reaksi pembaca dengan tulisan saya, atau untuk menuntut reaksi tertentu dari mereka—saya ingin pembaca bisa memutuskan sendiri apa yang mereka rasakan terhadap karakter dalam cerita saya serta sadar terhadap pilihan-pilihan yang bisa diambil oleh karakter tersebut dalam situasi tertentu.”
________
 “Idealnya, saya ingin menciptakan ketegangan dalam tulisan saya. Saat kita bercerita, mustahil rasanya bagi penulis untuk mencegah pembaca agar tidak menarik kesimpulan moral dari cerita tersebut. Saya paling tidak suka tulisan di mana penulis menawarkan diagram yang terlalu mudah ditebak. Saya benci melihat kesulitan-kesulitan nyata dalam kehidupan sehari-hari kemudian diprogram seenaknya oleh penulis sampai jadi tak masuk akal—seperti pada tulisan-tulisan melodrama. Penulis yang membuat pembacanya frustasi karena terlalu malas menghadirkan kejelasan pada setiap motivasi karakter dalam cerita lambat laun akan kehilangan pembaca.”
Share:

21 Cara Menjadi Penulis Andal ala Stephen King


Siapa yang tak mengenal nama Stephen King. Ya, ia adalah seorang penulis ternama asal Amerika Serikat. Karya tulisnya dikenal baik oleh masyarakat luas, seperti The ShinningChildren of The CornCarrie, dan masih banyak lagi. Beberapa di antaranya bahkan diadaptasi menjadi film. Dalam memoarnya yang berjudul On Writing, King berbagi pendapat tentang cara untuk menjadi seorang penulis andal. King secara terbuka menyatakan bahwa saat ini masih ada penulis yang kemampuan menulisnya kurang. "Aku tak bisa berbohong dan mengatakan tak ada penulis yang (kemampuan menulisnya) buruk. Maaf, tapi memang banyak penulis yang (kemampuan menulisnya) buruk."Nah, Anda tentunya ingin bukan menjadi seorang penulis yang baik? Berikut 21 tip untuk bisa menjadi seorang penulis andal dari Stephen King:

1. Berhentilah Menonton Televisi, dan Bacalah Buku Sesering MungkinJika Anda ingin mulai menulis, maka televisi adalah benda yang harus Anda jauhi. "Benda itu (televisi) bisa meracuni kreativitas Anda," ujar King. Penulis haruslah fokus pada apa yang akan ia tulis dan hidup di dalam alam imajinasi sepenuhnya. Untuk memperoleh imajinasi tersebut, penulis harus banyak membaca. "Jika Anda ingin menjadi seorang penulis, ada dua hal utama yang harus Anda lakukan: banyak membaca dan banyak menulis," tambahnya.

2. Persiapkan Diri untuk Kegagalan dan Kritikan Jika Anda memutuskan untuk menjadi seorang penulis, persiapkanlah mental Anda sebaik mungkin. "Anda akan sering mengalami yang namanya krisis kepercayaan diri," ucap King. Tidak hanya diri Anda saja yang akan meragukan kemampuan Anda, tapi juga orang lain. "Jika Anda menulis atau melukis, menari, menyanyi, atau memahat, pasti akan ada saja orang yang menilai Anda buruk," tambahnya. Sering kali, hal itu akan membuat Anda merasa canggung hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti dari kegiatan tersebut. Namun, menurut King, berhenti merupakan ide yang buruk. "Berhenti mengerjakan pekerjaan yang sedang kita lakukan, meski pekerjaan itu sulit, baik secara emosional maupun imajinatif, adalah ide yang buruk," sebaliknya, kita harus tetap positif pada apa yang sedang kita kerjakan.

3. Jangan Membuang Waktu demi Menyenangkan Orang LainKing memberi saran, hal-hal yang bersifat kasar atau tidak sopan sebaiknya Anda abaikan. King mencontohkan, sebagai penulis, ia acap kali menerima kiriman surat yang isinya bernada amarah dan ketidaksukaan terhadap dirinya. Bahkan, tak jarang ada yang menuduhnya tak memiliki bakat menulis. Menanggapi tuduhan-tuduhan itu, King berpendapat, "Jika Ada yang tidak suka (hasil karya saya), saya hanya bisa mengangkat bahu." Menurut King, kita tidak perlu khawatir. Tulislah apa yang ingin Anda tulis. Jangan terpengaruh untuk membuat tulisan seperti yang orang lain inginkan.

4. Utamakan Kegiatan Menulis untuk Diri Anda Sendiri
Sebaiknya, Anda menulis dengan alasan karena kegiatan menulis itu bisa mendatangkan kebahagiaan bagi diri Anda. "Aku melakukannya (menulis) untuk kesenangan. Jika Anda melakukannya untuk kesenangan, maka Anda bisa melakukannya sampai kapan pun,"

5. Angkatlah Isu-isu yang 'Berat' untuk Ditulis Ketika mengangkat isu-isu yang 'berat' untuk dijadikan bahan tulisan, pastikan Anda menggali informasi sebanyak dan sedalam mungkin. "Cerita layaknya benda hasil penemuan, seperti fosil yang ditemukan dari dalam tanah. Cerita layaknya benda peninggalan, bagian dari kehidupan masa lalu yang belum ditemukan." Penulis selayaknya seorang arkeolog, menggali sebanyak mungkin ide-ide cerita yang bisa mereka temukan.Baca selengkapnya ....


Share:

Dasar-Dasar Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)

Menyadari begitu pentingnya informasi bagi seseorang, seharusnya setiap manusia memiliki akses yang cukup memadai terhadap sumber-sumber informasi. Kualitas hidup seseorang akan amat ditentukan oleh kualitas informasi apa saja yang diaksesnya. Kualitas informasi (dan juga data) merujuk kepada akurasi dan ketepatan waktu informasi itu didapatkan.
Informasi yang tidak valid, tidak benar, bahkan menyesatkan, akan berdampak pada kesalahan pengambilan “keputusan hidup” bagi seseorang dan masyarakat. Sebaliknya, dengan didukung oleh informasi dan data yang benar, akurat, dan tersedia tepat pada saat diperlukan, kehidupan masyarakat akan meningkat. Pada sisi lain, setiap orang mempunyai kebutuhan dan ketertarikan yang berbeda terhadap informasi. Seorang insinyur akan lebih tertarik untuk membaca rubrik tentang rancang bangun gedung pencakar langit. Sementara seorang juru masak justru lebih memilih bacaan tentang masakan-masakan tradisional Dayak. Oleh karena itu, ada beberapa kalangan yang membangun media komunikasi massa yang hanya diperuntukan bagi kalangan internal komunitasnya.
Penyediaan dan sirkulasi informasi yang “steril” dari kepentingan pihak-pihak tertentu, benar, jujur dan faktual, tidak tendensius serta tidak bersifat provokatif-negatif, adalah hal yang mutlak. Untuk memenuhi kebutuhan informasi yang sesuai dengan kriteria ini, diperlukan kejujuran dari semua pihak, terutama sumber-sumber dan pelaku jurnalisme. Agar kondisi ini tercapai, seluruh komponen masyarakat perlu diberdayakan (bukan diperdayai) sebagai subyek informasi; penyedia informasi, pengolah dan pengguna informasi, sehingga berlaku idealisme demokrasi media: dari warga masyarakat, oleh warga masyarakat, dan untuk warga masyarakat. Pada poin penting inilah, keberadaan citizen reporter atau pewarta warga menjadi amat fundamental. Setiap orang difungsikan dan memfungsikan diri sebagai pemberi informasi yang sekaligus juga pengguna informasi itu sendiri. Warga masyarakat tidak lagi sebagai konsumen informasi belaka, tetapi juga sebagai penyedia informasi (produsen info) bagi orang lain.
Orang mungkin bertanya, bagaimana itu bisa terjadi? Mampukah warga masyarakat biasa menghasilkan sebuah tulisan yang memenuhi standar jurnalistik yang baku? Bagaimana pula mengontrol peredaran informasi yang mungkin saja bisa simpang-siur karena banyak pihak yang memberitakan sesuatu dengan versinya masing-masing? Bagaimana dengan validitas dan pertanggungjawaban informasi yang diberikan oleh seorang citizen reporter? Dan pertanyaan lanjutan lainnya.
Pewarta warga tidaklah dimaksudkan untuk membuat segalanya bebas tak terhalang apapun dalam mengekspresikan informasi yang dimiliki. Namun sistim ini lebih bertujuan untuk memberikan akses sepada masyarakat biasa, bukan profesional, kepada media massa dari mulai pencarian informasi, penyajian, hingga kepada penggunaannya. Oleh karena itu, dalam pengelolaannya, setiap individu memikul beban tanggung jawab terhadap semua informasi yang dimiliki dan dibagikannya melalui tulisan di media massa. Dalam tanggung jawab tersebut terkandung tugas-tugas untuk menghasilkan tulisan yang benar, jujur, informatif, serta bermanfaat bagi orang banyak. Para pekerja pers mengetahui prinsip ini: “suatu tulisan disebut berita jika ia memenuhi syarat kebermanfaatan bagi masyarakat”.
Menghasilkan sebuah tulisan yang benar, sesuai fakta, jujur, tanpa tendensi negatif, tidak provokatif-negatif, dan seterusnya, dapat dilakukan oleh semua orang tanpa harus memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan tertentu. Bertugas sebagai citizen reporter justru akan menjadi wadah strategis bagi setiap orang untuk menjadi pewarta warga yang jujur, berdedikasi, memiliki jiwa sosial yang tinggi, serta melatih diri untuk bertanggung jawab. Seluruh tulisan atau berita yang disampaikan kepada publik, tanggung jawab sepenuhnya berada pada si penulis pribadi. Karena redaksi setiap media pewarta warga manapun tidak bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari sebuah hasil karya para pewarta warga.


Share:

Friday, 22 April 2016

10 Tips Pedas Bagi Calon Penulis



  1. Bila kamu punya teman yang ingin jadi penulis, salah satu hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuknya adalah memberikan buku The Elements of Style. Namun hal yang paling penting untuk kamu lakukan adalah menembaknya, selagi ia masih bahagia. – Dorothy Parker
  2. Kamu perhatikan tidak betapa seringnya atlit Olimpiade berterima kasih kepada orangtua mereka atas segala kesuksesan yang telah mereka raih? ‘Ibu saya mengantarkan saya ke tempat latihan setiap subuh,’ dll. Menulis bukan cabang olahraga. Ibumu takkan menjadikanmu penulis hebat. Nasihat saya kepada para muda-mudi yang ingin jadi penulis adalah: keluar dari rumah orangtuamu. – Paul Theroux
  3. Aku menyarankan siapa saja yang ingin memiliki karier dalam bidang kepenulisan untuk menebalkan kulit mereka sebelum mengembangkan bakat mereka. – Harper Lee
  4. Inspirasi tidak bisa ditunggu. Kamu harus mengejarnya dengan pentungan. – Jack London
  5. Menulis buku adalah pergulatan yang mengerikan dan melelahkan, seperti pertarungan panjang yang disertai oleh rasa sakit berlebihan. Tak ada orang yang akan sudi melakukannya bila tidak didorong oleh iblis yang sulit untuk ditolak kehadirannya dan sulit untuk dimengerti keberadaannya. – George Orwell
  6. Ada tiga peraturan utama dalam menulis novel. Sayangnya, tak ada orang yang tahu apa peraturan tersebut. – Somerset Maugham
  7. Prosa adalah arsitektur, bukan dekorasi ruangan. – Ernest Hemingway
  8. Mulailah menuliskan cerita yang hanya bisa diceritakan olehmu, karena akan selalu ada penulis yang lebih baik dan lebih pintar darimu. Akan selalu ada orang yang lebih hebat darimu dalam melakukan berbagai hal, tapi tak ada di antara mereka yang bisa menjadi dirimu. – Neil Gaiman

Share:

Thursday, 21 April 2016

Dasar-Dasar Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)

Semua Orang adalah Pewarta Warga (Citizen Journalist)
Era ketertutupan sudah tamat. Sekarang eranya keterbukaan. Kalau puluhan tahun silam, orang yang bisa menulis di surat kabar hanyalah para wartawan dan penulis terkenal. Kalau dulu yang bisa menyiarkan berita di televisi hanyalah wartawan televisi. Jika dahulu kala yang hanya bisa menyiarkan berita di radio hanyalah para wartawan radio. Kini zaman telah berubah. Semua surat kabar, radio dan televisi sejak tahun 2005 silam memberikan ruang seluas-luasnya kepada setiap pembaca, pemirsa dan pendengar berbagai media cetak dan elektronik untuk menyiarkan informasi atau berita yang dimiliki.
Contoh sederhana, stasiun televisi swasta nasional bernama Metro TV memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk menayangkan video hasil rekaman mereka. Stasiun televisi milik Surya Paloh itu bahkan berani tampil dengan program acara “Wideshot” yang dihelat setiap hari Senin-Jumat pukul 13.00 – 17.00 WIB. Dan jauh hari sebelumnya, berbagai surat kabar juga memberikan ruang khusus kepada para pembaca untuk menuangkan gagasan mereka. Dan hal ini menjadi kesempatan emas bagi masyarakat menjadi pewarta warga alias pewarta rakyat.
Itulah tren bermedia dewasa ini. Di mana para pemilik modal media massa berlomba-lomba menggaet para pembaca, pemirsa dan pendengar dengan melibatkan mereka melalui pemuatan karya jurnalistik mereka. Harapannya, dengan cara demikian, loyalitas para pembaca, pemirsa dan pendengar terhadap sebuah media massa dapat terjaga dengan baik.
Nah, pelibatan masyarakat umum untuk menampilkan karya-karya jurnalistik di berbagai media massa cetak dan elektronik semacam itulah yang sesungguhnya disebut sebagai sistem jurnalisme warga. Di mana para pemilik modal memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk menyiarkan informasi atau berita yang dimiliki. Dan pada saat yang bersamaan, warga masyarakat juga memiliki kesadaran diri dalam menyiarkan informasi atau berita.
Sejatinya, siapakah pewarta warga alias citizen journalist bin citizen reporter atau ada juga yang menyebutnya grassroot journalist dan ada pula yang menamai participatory journalist, dan netizen itu? Apakah pewarta warga bisa juga dikatakan sebagai profesi, mata pencaharian dan bisa menghasilkan uang; sebagaimana profesi PNS, wartawan, polisi, guru, tentara, ustad dan lain sebagainya? Toh kalaupun pewarta warga bisa menjadi profesi, apakah hak dan kewajibannya sama dengan wartawan atau penulis profesional?
Jelaslah selama ini, publik masih banyak yang merasa asing dengan profesi wartawan, apalagi dengan profesi pewarta warga. Coba saja tanyakan pada sekian ribu anak SD di Jakarta sana atau di Papua sana sekalian, adakah satu anak SD saja dari sekian ribu anak itu yang bercita-cita ingin menjadi pewarta warta ataupun wartawan? Sebab profesi yang disebutkan di atas masih sangat asing di tengah mata masyarakat pedesaan, pegunungan, pinggiran kota; hingga anak-anak SD-SMA sama sekali belum pernah mendengar orang yang menyebutkan kata wartawan atau pewarta warga pada mereka.
Penulis amat yakin seyakin-yakinnya, dari sekain ribu anak SD itu, pastilah menjawab vulgar bahwa ia berkeinginan kelak jika besar akan lebih memilih cita-cita menjadi tentara, guru, pedagang, presiden, gubernur, pengusaha, polisi dan profesi yang tampak sudah baku lainnya. Propaganda mengenai apa itu pewarta warga di tengah masyarakat juga masih minus. Dengan demikian, butuh kesadaran banyak kalangan untuk mempublis urgensitas kehadiran pewarta warga bagi negeri tercinta ini.
Pada dasarnya, pewarta warga adalah jurnalisme akar rumput yang timbul dan tumbuh dari bawah ke atas (bottom-up) dan bukan dari atas ke bawah (top-down). Mereka bisa menuturkan secara menyeluruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan ini bukan sekedar dalam bentuk berita saja. Mereka menghayati dan menjiwai benar apa-apa yang mereka ceritakan, sebab hal itu adalah hasil pengamatan ataupun pengalaman mereka sendiri. Jadi bukan hanya sekedar berita yang ditawar melainkan berita yang ditulis dengan penuh perasaan, penuh data dan penuh analisa yang jeli.
Secara struktural, pewarta warga tak terikat dengan atau oleh media massa elektronik (online) dan atau media massa cetak jenis manapun juga. Dengan begitu, mereka bisa jauh lebih bebas (leluasa) mengungkapkan pendapat maupun pikiran mereka masing-masing. Dalam sistem pewarta warga, posisi pembaca adalah raja, karena merekalah juga yang sekaligus menjadi penulis.
Menurut pemikiran kritis penulis, pewarta warga adalah orang-orang biasa (sipil) yang berkomitmen serius ingin mencerdaskan masyarakat luas melalui sharing berbagai informasi. Ia lebih merupakan sebuah kegiatan ranah/bidang jurnalistik, di mana masyarakat (umum, dari berbagai strata sosial) yang secara formal bukanlah seorang jurnalis (konvensional-profesional), akan tetapi mereka secara aktif memainkan peran layaknya seorang wartawan atau melakukan kegiatan jurnalistik. Yakni berpartisipasi memberikan kontribusi untuk mengumpulkan informasi, menulis berita, mengeditnya, menganalisis, melaporkan, dan menyiarkannya agar bisa dikonsumsi oleh publik.
Penulis pribadi lebih nyamleng menamai pewarta warga adalah pewarta rakyat, sebuah profesi yang patut disandang oleh para relawan yang secara ikhlas turut aktif dalam mengembangkan model jurnalisme yang mengedepankan hati nurani dan kejujuran (the soul and honest journalism).
Menurut Jay Rosen, citizen reporter (pewarta warga) adalah kalangan masyarakat yang pada mulanya hanya sebagai pendengar an sich. Pihak yang hanya sebagai penerima pesan dari sistim media massa yang berlangsung satu arah saja, dalam bentuk media-media penyiaran dengan biaya tinggi dan media-media tersebut berlomba bersuara selantang-lantangnya, sementara para pendengar terisolasi satu sama lain.
Situasi itu saat ini telah berubah total, drastis. Kondisi masyarakat sudah berubah lebih progresif, masyarakat yang lebih dinamis dan memiliki kemampuan berpikir logis-analitis yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri. Intinya, kemajuan peradaban yang menyertai kemajuan zaman manusia dari masa ke masa telah melahirkan sebuah pola interaksi antar manusia yang berbeda antara zaman dulu dengan zaman sekarang. Hal ini tidak luput terjadi juga di dunia media massa cetak dan elektronik. Dari hanya satu arah menjadi multiarah, multidimensional. Dari hanya sebagai pembicara dan pendengar menjadi diskusi-interaktif, tanya-jawab, memberi-menerima (take and give) dan seterusnya.

Peran informasi, dalam bentuk yang sesederhana apapun adanya, tidak pelak merupakan penentu keberhasilan usaha apapun yang dilakukan manusia. Kemenangan dan kegagalan dalam sebuah peperangan amat ditentukan oleh kehandalan agen spionase dan intelijen yang tugas utamanya mengumpulkan informasi dari musuh masing-masing pihak yang bertikai. Kemajuan penjualan produk sebuah perusahaan, yang menjadi tumpuan mati-hidupnya perusahaan itu, sangat tergantung kepada peran promosi dan iklan yang tidak lain berisi informasi tentang produk dan proses menginformasikannya kepada calon konsumen. Keberhasilan pendidikan tiada terlepas dari kualitas informasi dan metode transformasi informasi tentang ilmu pengetahuan antara pengajar dan pembelajar di lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan keberhasilan pertanian di masyarakat tradisional di zaman prasejarah juga ditentukan oleh ketersediaan informasi yang umumnya didapatkan dari tanda-tanda alam seperti bintang, arah angin, bunga tumbuhan tertentu hingga suara dan gerak khusus binatang sekitar.... (Bersambung)

Sumber: Kompasiana

Share:

Wednesday, 20 April 2016

Nasihat Untuk Calon Penulis Dari Penulis Terkenal



Stephen King
Siapa sih yang gak kenal orang ini? Kejeniusannya menciptakan misteri dan dunia cerita yang paralel dalam buku-bukunya banyak bikin pembaca geregetan dan selalu mencari koneksi antara satu buku dengan lainnya.
Menurut Stephen King, untuk memulai menulis caranya mudah.  Banyak Membaca. Yep. Menurutnya, ketika kamu banyak membaca, kamu akan menemukan magic moment, yaitu ketika kamu berpikir “duh… begini doang ceritanya?! Gue juga bisa!”. Hehe…  

George RR Martin
Sama seperti Stephen King, menurut George RR Martin yang dibutuhkan seseorang untuk bisa jadi penulis adalah MEMBACA. Kemudian, mulailah MENULIS.
Menurut George, sebagai penulis, kamu harus banyak membaca banyak hal. Mulai dari novel, komik,  majalah, dan lainnya. Dan, gak Cuma genre yang kamu suka, atau dari buku yang bagus doang.  menurut George, bahkan buku atau cerita yang buruk, bisa kok bikin kamu belajar.
George RR Martin, yang terkenal dengan buku serial Game of Thrones ini juga menekankan pentingnya disipilin dalam menulis. Setiap hari, usahakan kamu menulis satu sampai dua halaman. Dan teruskan hingga tulisan kamu selesai.

John Grisham
Kalo  selama ini kamu mengeluh karena gak sempat menulis karena pekerjaan kantor, guys.. . kamu harus banget dengar pengalaman John Grisham.
John tidak langsung menentukan karirnya sebagai penulis. Ia memulai karir sebagai pengacara. Dan ternyata, pengalamannya menjadi pengacara ini memberikan pengetahuan yang sangat berharga untuk tulisannya.
Ketika John mulai menulis, dia masih bekerja full timesebagai pengacara. Tapi, karena  ketertarikannya yang besar untuk menulis cerita, John mengatur waktunya setiap hari supaya dia bisa menyelesaikan tulisannya. Disipilin mengatur waktu menulis dan komitmen.  Itu kuncinya. Setiap hari, John memaksa dirinya untuk bisa menyelesaikan satu atau dua halaman. Pengalamannya sebagai pengacara juga memberikan pengaruh dan kedalaman dalam cerita-cerita yang diangkat John Grisham. Kedalaman karena pengetahuan yang baik tentang dunia hukum dan kriminal, menjadikan cerita-cerita John Grisham sebagai benchmark bagi cerita hukum dan kriminal. Sekarang, ketika kita mau membaca cerita thriller hukum dan kriminal,  nama John Grisham lah yang akan muncul dalam pikiran kita. Cool!

James Patterson
Kalo tiba-tiba kamu buntu ide ketika mulai menulis, mungkin kamu bisa belajar dari James Patterson yang pake metode kayak gini:
                 “I’m always pretending that I’m sitting across from somebody. I’m telling them a story, and I don’t want them to get up until it’s finished.”
Simple. Dan kayaknya asik buat dicobain ;)

Haruki Murakami
Kamu gak kunjung berhasil menyelesaikan novel? Nah. Mungkin kamu bisa belajar dari Haruki Murakami. Murakami menganalogikan proses menulis novel seperti lari marathon. Menurutnya, mengandalkan bakat, tidak cukup bagi seseorang untuk mempu memulai dan menyelesaikan tulisan panjang seperti novel. Menulis novel, menurut Murakami diperlukan fokus dan ketahanan. 
Dua dispilin ini, Fokus dan ketahanan gak datang begitu aja, guys. Seperti halnya lari marathon, diperlukan latihan dan komitmen supaya kamu bisa mencapai garis finish. Latih fokus dan ketahanan menulis kamu secara rutin, dan perlahan tingkatkan target menulis kamu.
Selamat mencoba!

Sumber:

https://web.facebook.com/maria.g.soemitro/notes
Share:

9 Kiat Menulis

1. Rahasia kreativitas adalah mendekatkan tangan dengan otak. Tony Buzan menegaskan, segala sesuatu adalah soal pikiran. Jika kita betul-betul ingin menulis, beri tangan kita pena. Biarkan tangan itu menjalin kerjasama dengan otak. Tetaplah menulis. Albert Einstein pernah mengatakan, apa yang ditulis oleh tangan kita adalah langkah pertama yang akan mewujudkan apa yang ada di kepala kita.

2. Segeralah Menulis! William Blake (1757-1827), penyair klasik Inggris, mengatakan hasrat semata tanpa tindakan akan membiakkan penyakit. Mau jadi penulis, ya menulislah. Menulislah dalam keadaan apa pun. Tanpa ide pun orang bisa menulis. Yang tidak bisa adalah menulis tanpa kemauan. Menulis apa saja akan memancing datangnya ide. Jangan berhenti menulis lantaran tidak mood, sedang stres, sedih, tertekan. Sama saja dengan seorang bankir atau polisi, meski dirinya lagi sedih, ia tidak boleh melalaikan tugasnya. Demikian juga seorang penulis.

3. Menulis Buruk. Jangan terpaku untuk segera menghasilkan tulisan yang baik. Menulis apa saja tanpa takut jelek. Jangan biarkan kertas kita tetap kosong hanya karena memikirkan bagaimana menulis yang baik. Tulisan buruk jauh lebih baik ketimbang tulisan yang sempurna yang tidak pernah ada. Jangan bengong. Menulislah buruk kemudian editlah. Ingat, kita tidak pernah bisa mengedit tulisan yang tidak pernah ada. “Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, biasanya tidak melakukan apa-apa,” kata Edward John Phelps (1822-1900).

4. Menulis Cepat. Menulislah dengan cepat. Jangan biarkan diri kita dikuasai mood. Mood dan tidak mood adalah perkara pikiran. Singkirkan jauh-jauh. Menulis itu seperti orang bercakap-cakap. Jika kita merasa waktu teralu sempit untuk menulis, menulislah secepat-cepatnya. Isaac Asimov mengaku, “Saya menjadi produktif, saya rasa, karena saya menulis secara simpel dan apa adanya.” Penulis cepat adalah penulis yang baik. Penulis baik adalah penulis cepat. Ingat, kecakapan senantiasa berdampingan dengan kecepatan pengerjaan. Jangan terpaku dengan kata-kata dan gaya penulis-penulis besar. Tulislah cepat dengan gaya dan apa adanya diri kita. Ernerst Hemingway (1899-1961) mengatakan, “Apakah ia pikir kekuatan emosi lahir karena kata-kata besar?...ada kata-kata yang simpel, lebih baik, dan lebih lazim. Itulah yang kugunakan.” Menulislah cepat tanpa meyensor diri. Jangan berhenti hanya karena draft pertama.

5. Strategi tiga kata. Alat bantu menulis cepat adalah strategi tiga kata. Kita memerlukan tiga kata untuk membuat tulisan mengalir cepat. Gunakan tiga kata itu untuk menyusun paragraf. Gunakan salah satu kata untuk mengawali tulisan. Tiga kata itu akan merangsang otak melakukan keajaiban, yakni berasosiasi.

6. Jangan Menulis Sekaligus Mengedit. Jangan mengerjakan dua pekerjaan besar secara bersamaan, yakni menuangkan gagasan dalam tulisan dan mengedit. Kita sering terjebak untuk menulis sekaligus mengedit saat itu juga. Kita tidak sabar menghasilkan tulisan yang bagus. Akibatnya, kita sering mengapus tulisan kita, berhenti lama, dan tidak kunjung menulis.

7. Show, Don’t Tell. Untuk menggambarkan situasi dan kondisi, kita sebaiknya melakukan deskripsi sejelas-jelasnya agar pembaca sendiri tahu, kapan seorang lagi marah, berwajah cantik, sopan, dan sebagainya. Jangan katakan kepada pembaca kalau tokoh kita lagi marah, tapi gambarkanlah.

8. Konkretkan Konsep-konsep Abstrak. Gambarkan dengan jelas konsep-konsep abstrak seperti cinta, panas, pengap, dan sebagainya. Kreatiflah dalam menggambarkan itu semua agar tidak jatuh pada penggambaran yang itu-itu saja.

9. Deskripsi dengan Lima Indra. Deskripsi yang baik membuat cerita “hidup” di benak pembaca. Buatlah pembaca mampu melihat sesuatu, mencium baunya, merasakan persentuhannya, mendengar bunyinya, dan mencecap rasanya. Tulisan kita akan benar-benar hidup.

Bagaimana guys....? Yuk Menulis .. jangan cuma Omong doang. ***


Share:

Labels