Berbagi Sebening Hati

Showing posts with label Figur Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Figur Inspiratif. Show all posts

Sunday, 17 April 2016

Orang Tasikmalaya Ini Pernah Jadi Presiden di Korea


TUHAN tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali oleh dirinya sendiri. Demikian pesan guru ngaji yang masih terngiang di telinga Haris Pratama Ibrahim (40), tatkala kenyataan di depan matanya bagai sebuah tembok besar yang menghalangi langkahnya, saat itu. Tahun 1999 lalu.

Betapa tidak. Hidupnya telah menanggung beban tanggung jawab, saat akad nikah dengan Rita, gadis pilihan hatinya baru saja dilangsungkan. Sementara pekerjaan tetap sebagai sumber kehidupan seorang kepala rumah tangga, belum pula jelas. Dengan selembar ijasah SMA, paling banter ya hanyalah bisa jadi buruh pabrik.

Iklim lapangan pekerjaan di Indonesia hingga saat ini belum menjanjikan, memang. Ada terbersit untuk berwiraswasta. Namun itupun hanyalah impian belaka. Adik-adiknya masih membutuhkan perhatian Ibunya yang telah berstatus single parent, yang hanya mengandalkan pensiunan peninggalan almarhum ayahnya, menjadi pertimbangan lain untuk tidak jauh berpikir ke  arah sana.

Padahal Haris ingin membahagiakan istri tercinta. Dengan hidup layak, sebagaimana mimpi-mimpi pasangan muda yang baru mulai mengarungi bahtera rumah-tangga.

Tak ada pilihan lain. Untuk menggapai mimpinya, Haris pergi ke kota Metropolitan. Yang bagi sebagian besar warga kampungnya banyak memberi harapan. Berbekal tekad kuat ia memulai petualangan di rimba metropolitan untuk mencari lowongan pekerjaan, dengan melamar ke perusahaan-perusahaan besar. Hingga ahirnya terdampar di daerah Cakung - Bekasi.

Sebuah perusahaan otomotif , memberinya kesempatan untuk memulai langkahnya. Dan ia ditempatkan sebagai tenaga las, dengan gaji yang tidak cukup untuk hidup satu bulan. Namun dengan sedikit ‘kabisa’-nya sebagai tukang las, menjadi modal kelak yang akan membawa langkah hidupnya ke negeri ginseng.

Memang, di Bekasilah Haris berkenalan dengan sebuah perusahaan PJTKI, sehingga mimpinya kian melayang jauh.  Demi masa depan yang cerah, berpisah jauh dari istri tercinta pun mesti dilakoni, bisik hatinya.  Ya, Haris telah tergiur dengan gaji yang ditawarkan PJTKI.

Berpisah selama dua tahun, tidak mengapa, asal pulangnya kelak dapat membawa uang yang lumayan untuk dijadikan modal, tokh untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan harus ada pengorbanan, demikian kata hatinya.

Dan meski berat hati, sang istri tercinta pun akhirnya melepas kepergian Haris.  Saat itu, 12 Nopember 1999, sekitar dua minggu menjelang masuk bulan Ramadhan, Haris terbang menuju Korea selatan. Dan tiba di tujuan, disambut cuaca musim dingin yang menggigit sampai  tulang sum-sum.

Oleh agen Haris ditempatkan di Kota Chonju, dekat dengan perbatasan Korea utara, dan dipekerjakan sebagai tenaga welding sections (pengelasan) di Hyundai Industrial complex, dengan gaji pertama senilai Rp 3,5 juta.

Di sela-sela waktu luang, Haris aktip memperdalam agama yang dianutnya, Islam. Hal itu ia lakukan, selain untuk mempertebal keimanannya, juga untuk membendung godaan dari hal-hal yang dianggap bisa membuyarkan impiannya.

Di samping itu, selama kurun waktu kontrak kerjanya, Haris pun berhasil mengikuti tes bahasa Korea dengan baik. Sehingga tanpa terasa, setelah tiga tahun ia bergulat dengan pekerjaan dan berbaur dengan kerinduan , akhirnya Haris kembali ke pelukan istri tercinta.



Dengan modal dari hasil  bekerja selama itu, Haris membuka usaha ayam potong di kota Bandung. Dalam waktu singkat, omsetnya dapat mencapai Rp 10 juta per hari. Dan itu membuatnya semakin bersemangat untuk menggapai mimpinya yang belum semuanya terwujud.

Menginjak tahun ke tiga sebagai pengusaha ayam potong, ternyata takdir berkata lain. Wabah flu burung  menjungkir-balikan keadaan. Usahanya yang baru saja melesat naik, tiba-tiba secara drastis langsung anjlok ke titik nadir. Sampai modal pun secara perlahan mulai habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak ada pilihan lain. Haris yang dilahirkan  22 Maret 1971 itu akhirnya kembali menjadi TKI, dan terbang menuju Korsel, di tahun 2005 itu. Kali ini ia ditempatkan di kota Ansan, yang masuk Propinsi Seoul.

Dengan bekal pengalaman kontrak yang pertama, mejalani kehidupan sebagai pekerja migrant de negeri orang tidaklah sesulit sebagaimana kali pertama.

Bahkan tak lama tinggal di sana, Haris mendapat kepercayaan menjadi Presiden ICC (Indonesian Community in Corea), atau komunitas warga Indonesia di Korea,  khususnya yang berada di propinsi Seoul, dan tercatat sebanyak 33.000 pekerja migrant asal Indonesia menjadi tanggung jawabnya.

Ada pengalaman yang menarik, ungkapnya, pejabat BNP2TKI yang menjadi mitranya, selain pejabat kedubes dan konsulat di Seoul, tentu saja, untuk mendapatkan informasi seputar situasi dan kondisi pekerja WNI, cukup menghubungi pihaknya saja.

Begitu pula ketika ada rekan TKI yang bekerja di perusahaan pelayaran, yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sebagai pucuk pimpinan Komunitas Warga Indonesia, Haris bahu-membahu mengurus segala hak almarhum rekannya itu hingga mayatnya dapat kembali ke tanah air.

Sementara pihak BNP2TKI dan pejabat kedubes, hanya sebatas mendapat informasinya saja. Lucunya, kepada media, diklaim segala urusan terkait, merekalah yang mengurusnya.

Berkat aktifitas sebagai Presiden ICC itu pula, Haris memperoleh penghargaan dari Wali kota Ansan, sebagai tenaga kerja migrant teladan. Sehingga saat dia dianugrahi penghargaan itu, istri dan putra tercintanya mendapat kesempatan untuk datang menghadirinya, dengan biaya ditanggung pemerintah Korsel. Dengan itu juga, Wali kota Ansan memberik

Dengan itu juga, Wali kota Ansan memberikan fasilitas gedung untuk kegiatan ICC khususnya, dan seluruh WNI yang ada di wilayah Seoul, sehingga aktifitas mereka di luar jam kerja dapat terpantau dengan baik.

Adapun kegiatan yang rutin dilakukan para pekerja migrant di luar jam kerja, mereka dapat menyalurkan minat dan bakatnya, baik di bidang olah raga, seni, maupun hal yang lainnya. Seperti yang dilakukan Haris sendiri, ia membuka sebuah warung makan khas Indonesia, dan dikelola bersama beberapa orang temannya, secara bergantian.

Saat ini Haris, bapak dari dua orang anak ini telah kembali berkumpul bahagia dengan keluarganya di Desa/Kecamatan  Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dan aktifitas sehari-harinya ia memberikan les privat bahasa Korea kepada para pemuda yang berminat sebagai buruh migrant di negeri ginseng itu.

“Salah satu syarat utama untuk menjadi pekerja migrant di Korsel,” ungkapnya, “ Mereka harus menguasai bahasa Korea. “

Haris berani memberi pelajaran bahasa tersebut, akunya, karena sertifikat tingkat lanjutan (Intermediate) bahasa Korea telah dimilikinya.

Selain member les privat, ia pun membuka konsultasi bagi calon TKI di Korsel dari A hingga Z, sehingga mereka diharapkan, apabila telah  lolos tes, tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam menjalani kehidupan di negeri orang. ***


Dapat dibaca juga di: Kompasiana
Share:

Penggagas Awal Republik Indonesia


BERKELANA sebagai orang buangan di saat rekan-rekannya di Tanah Air berjuang melawan imperialis membuat Ibrahim Datuk Tan Malaka nelangsa. Ia kian kesal ketika permohonannya untuk kembali ke Jawa ditolak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dick Fock. Padahal keinginannya mengabdi kepada partai dan rakyat begitu menggebu-gebu.
Maka, di sela-sela tugasnya sebagai agen Komintern di Tiongkok, Tan pun menulis sebuah brosur panjang: Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Dalam kata pengantar, dia menulis: ”Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.”
Naar de Republiek terbit di Kanton pada April 1925. Tak jelas berapa eksemplar brosur ini dicetak. Yang pasti, cuma beberapa buah yang berhasil masuk ke Indonesia. Tan kembali mencetak tulisan panjang itu ketika dia berada di Filipina pada Desember 1925. Cetakan kedua inilah yang kemudian menyebar luas melalui jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia. Para pemuda bahkan mengetik ulang buku ini—setiap kali dengan karbon rangkap tujuh.
Para pemimpin perjuangan, termasuk Bung Karno yang kala itu memimpin Klub Debat Bandung, membaca buku Tan. ”Bung Karno selalu membawanya,” kata Sayuti Melik, seperti dikutip Hadidjojo Nitimihardjo dalam pengantar edisi terjemahan Naar de Republiek.
Buku kecil ini terdiri atas tiga bab, masing-masing mengulas situasi politik dunia, kondisi Indonesia, dan garis perjuangan Partai Komunis Indonesia. Pada subbab terakhir, ”Halilintar Membersihkan Udara”, Tan mengecam kaum terpelajar Indonesia yang, menurut dia, masa bodoh dengan perjuangan kemerdekaan. Tulisnya: ”Kepada kaum intelek kita seruhkan.... Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras?”
Bukan cuma Soekarno yang selalu membawa-bawa Naar ke mana-mana, Muhammad Yamin juga memuja Tan. Bagi Yamin—yang kemudian bergabung dengan Tan dalam kelompok Persatuan Perjuangan—Tan tak ubahnya Bapak Bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan George Washington: merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai.
Share:

Tan Malaka, Sejak Agustus Itu


Oleh: Goenawan Mohamad
SAYA bisa bayangkan pagi hari 17 Agustus 1945 itu, di halaman sebuah rumah di Jalan Pegangsaan, Jakarta: menjelang pukul 09:00, semua yang hadir tahu, mereka akan melakukan sesuatu yang luar biasa.
Hari itu memang ada yang menerobos dan ada yang runtuh. Yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik; Hindia Belanda sudah tak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikannya baru saja kalah. Yang ambruk sebuah wacana.
Share:

Saturday, 16 April 2016

Susi Pudjiastuti Memang Orang “Gila”


Sungguh. Saya sungguh-sungguh kaget dibuatnya membaca berita yang berjudul  Jokowi Sebut Menteri Susi Pudjiastuti “Orang Gila”. Tapi setelah dibaca isinya dengan cermat, barulah saya ‘ngeh’. Ternyata bukan ‘gila’ dalam arti sebenarnya. Bukan mengidap psikopat, atawa skizofrenia. Melainkan dalam artiout of the box. Lebih kurang maknanya adalah suka membuat ide-ide kreatif yang tidak biasa.
Padahal Susi tokh hanyalah tamatan SMP saja. Itu berarti sosok perempuan kelahiran Pangandaran, Jawa Barat 15 Januari 1965 ini memiliki isi kepala yang cemerlang. Terbukti dengan keuletan dan kegigihannya,  dalam kurun sekitar 30 tahun saja dia mampu mendirikan kerajaan bisnisnya.
Saya pribadi dibuat takjub ketika menyaksikan dia berbicara di depan wartawan. Tidak tampak sedikitpun ada kegagapan. Malahan begitu enak didengar, dan mudah untuk difahamkan. Sehingga bila dibandingkan dengan mereka yang menyandang gelar akademis yang seabrek saja – yang terkadang bicaranya tidak jelas, ditambah juga dengan selalu melihat teksbook, saya berani untuk mengadunya.
Apalagi sejak dilantik kemarin hingga saat ini – dalam kurun hitungan hari saja, Susi telah membuat beberapa ‘gebrakan’ dalam melaksanakan gawe nyata di Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berada di bawah kendalinya. Salah satunya dengan upaya untuk mendata dan mengawasi jumlah kapal penangkap ikan yang melaut di perairan Indonesia.
Hal tersebut terkait dengan illegal fishing yang terjadi selama ini memang. Di samping itu juga memberi ruang kepada para nelayan kecil yang menurut Susi dianggap masih termarjinalkan. Artinya dalam hal ini Susi di satu sisi termasuk Menteri yang memang pro rakyat, dan di sisi lain dirinya memiliki ambisi untuk mengembangkan potensi laut untuk meningkatkan devisa negara.
Jadi terlalu naif bagi mereka yang meremehkan, dan begitu sinis terhadap kemampuan Menteri yang satu ini. Apalagi ada di antara yang menyebut ‘ngaco’ pada Jokowi terkait pengangkatan Susi adalah seorang ‘pakar’ dengan gelar akademis yang segudang. Padahal ungkapan ‘ngaco’ yang terlontar dari mulutnya saja, dianggap anak kecil sebagai sesuatu yang tidak pantas keluar dari mulut seorang berpendidikan tinggi.
Sehingga akan lebih arif lagi jika sebelum mengkritik, meremehkan, dan menghujat  seseorang, lihat dulu dengan cermat rekam jejaknya. Bahkan akan lebih bagus lagi,  sekarangpun kita tunggu dan lihat saja barang beberapa waktu, bagaimana kinerja Susi sebagai Menteri. Dan seumpamanya Susi tidak becus melaksanakan tugas, tinggal ngomong saja sama Jokowi. Suruh pecat itu Susi. 
Susi memang ‘gila’, cuek, eksentrik, dan sekolahnya hanya tamat SMP saja. Tapi paling tidak Susi telah sukses dalam kehidupannya, khususnya dalam segi ekonomi – tentu saja.  Malahan dia pun kabarnya memiliki sekolah juga. Sekolah yang mendidik calon penerbang.
Sebetulnya kalau bicara masalah pendidikan para pejabat di negeri ini, sebetulnya masih mendingan Susi Pudjiastuti. Coba tengok almarhum Wakil Presiden ke-3, Adam Malik. Sekolah formalnya hanya sampai HIS (Hollandsch-Inlandsche School) saja. Kalau sekarang setara dengan SD. Tapi karena beliau ulet dan gigih dalam hidupnya, meskipun sekolahan rendah saja bisa juga jadi orang ke-2 di Republik indonesia ini.
Tetapi bukan berarti saya sendiri tidak menghargai pendidikan. Bukan. Apalagi bagi orang-orang kebanyakan, seperti saya ini. Pendidikan itu sesuatu yang wajib hukumnya. Hanya saja sepertinya bukan hanya di bangku sekolahan, dalam kehidupan sehari-hari saja sebetulnya banyak pelajaran yang dapat kita petik untuk bekal hidup ini.
Seperti membaca biografi Susi Pudjiastui dan Adam Malik misalnya. Paling tidak kita tahu bahwa untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan, modalnya adalah tekun, ulet, dan gigih.
Gitu aja koq repot… ***
Share:

Susi Pudjiastuti Tidak Tamat SMA Saja Bisa Jadi Menteri di Kabinet Presiden Jokowi


Sosok perempuan kelahiran 15 Januari 1965 dari Pangandaran, Jawa Barat ini cukup fenomenal memang. Betapa tidak, memulai bisnis sekitar 1983 lalu sebagai pengepul ikan dengan menjual sebuah perhiasan gelang, sekarang ini Susi memiliki 50 pesawat berbagai jenis di bawah bendera Susi Air, serta sebelumnya sebuah pabrik pengolahan ikan dengan nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product.  Kemudian saat Presiden Joko widodo mengumumkan Kabinet Kerja-nya, Susi pun dipanggil sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.
Perempuan ini  padahal sekolahnya hanya sampai kelas dua SMA, dan di tangannya hanya memiliki ijasah SMP saja.   Akan tetapi dia termasuk beberapa gelintir perempuan Indonesia yang sukses sebagai wirausaha. Terlebih bidang usahanya itu di bidang perikanan laut, dan jasa transportasi udara.  Suatu bisnis yang biasanya jarang dilirik oleh kaum perempuan di Indonesia.
Bisa jadi pertimbangan Jokowi mengangkat Susi Pudjiastuti sebagai punggawanya di bidang tersebut, karena pengalaman dan kesuksesan Susi sebagai pengusaha. Sementara masalah jenjang pendidikan formal yang hanya tamat SMP, sama sekali tidak dipersoalkan oleh Jokowi.
Tampaknya masalah ini pula yang saat ini ramai dibicarakan.  Bahkan sampai ada yang mengatakan Jokowi ‘ngaco’ karena mengangkat Susi Pudjiastuti sebagai menteri. Dan terkesan seolah Jokowi telah menyepelekan pendidikan itu sendiri. Malahan tidak menutup kemungkinan akan memunculkan conflict of interest.
Bagaimanapun Susi sebagai pengusaha di bidang eksploitasi hasil laut, mungkin saja urusan bisnisnya dicampurbaurkan dengan urusan negara.
Begitu.
Apalagi sebelumnya Jokowi begitu getol menggembargemborkan Revolusi Mental-nya.  Selain membasmi korupsi di birokrasi, program tersebut akan dimasukan ke dalam kurikulum pelajaran di setiap jenjang sekolah.  Artinya Presiden ke-7 ini masih menganggap penting masalah pendidikan. Bahkan sebagaimana saat menjabat Gubernur DKI, jokowi pun telah melunjurkan KJP (Kartu Jakarta Pintar) untuk mendorong generasi muda menggapai pendidikan tinggi.
Memang di satu sisi pemerintah dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 menegaskan bahwa : “pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.
Dalam hal ini mungkin saja Jokowi melihat sosok Susi sudah memiliki kemandirian, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, meskipun hanya lulusan SMP juga. Pengalaman sekitar 31 tahun dalam berwirausaha, ditambah dengan memimpin ratusan – bahkan mungkin ribuan karyawan di berbagai perusahaan miliknya, Jokowi meyakini Susi pun akan bisa mampu memimpin kementerian tersebut.
Akan lebih baik kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Walaupun sesungguhnya pekerjaan pemerintahan tidak bersifat coba-coba, tapi di dunia ini tokh tak pernah ada yang sempurna. ***
Share:

Tuesday, 1 March 2016

Calon Ustadz yang Berubah Haluan


Warga di kampung itu tiba-tiba menjadi heboh. Sepuluh tahun mondok di pesantren, Jang Ridwan bukannya pulang membawa peti yang berisi kitab-kitab kuning yang dipelajari seseorang yang biasanya sudah tamat belajar mengaji. Anak ini ternyata malah membawa sebuah peti besar yang berisi wayang golek. Bahkan dengan bangganya dia memaklumatkan dirinya telah berhasil lulus menjadi seorang dalang.

Yang paling terpukul dengan sikap anak ini, kedua orang tuanya tentu saja. Mereka mengantarkan anaknya ke pesantren, karena berharap agar menjadi seorang anak yang saleh. Paling tidak bisa mendo’akannya apabila telah meninggal dunia kelak. Syukur-syukur malah dapat menjadi seorang guru ngaji. Bagaimanapun seorang guru ngaji, guru agama, akan mendapat kedudukan lebih terhormat di tengah masyarakat.

Sungguh sayang seribu kali sayang. Jang Ridwan, anak semata wayangnya malah menjadi dalang. Ayah dan ibunya merasa kecewa, tentu saja.

Bagaimanapun sikap Jang Ridwan di mata keluarga maupun warga adalah sebagai sesuatu yang bertolak belakang memang. Seseorang yang yang menjadi santri di pesantren, biasanya akan pulang dengan mendapat sebutan ustaz, atawa guru agama yang di kampung itu lebih dikenal dengan sebutan ajengan. Seorang ajengan adalah sosok terhormat. Dalam bahasa Sunda, ajengan adalah kiayi yang memiliki ilmu agama yang tinggi, atawa secara harfiah bisa juga bermakna sebagai orang yang diajeng-ajeng (ditunggu-tunggu) dan dihormati. Dengan kata lain ajengan dianggap sebagai seorang penerang jalan bagi umat, dalam kehidupan di dunia ini dan kelak di akhirat. Sedangkan Jang Ridwan dianggap seolah telah mengobrak-abrik tatanan yang tertanam dalam kehidupan warga selama ini. Bahkan tak sedikit yang berbisik-bisik maupun dengan terang-terangan mengatakan kalau Jang Ridwan merupakan sosok Dajjal pembawa sial. Bagaimanapun seorang dalang berikut pertunjukan wayang goleknya dianggap sebagai penyebar kemaksiatan.

Betapa tidak. Dalam pertunjukan wayang golek yang biasanya berlangsung semalam suntuk, selain disuguhi lakon yang konon berasal dari keyakinan agama lain, juga senantiasa diiringi dengan kawih para pesinden yang melantunkan tembang kasmaran, ditambah pula dengan tingkah pesinden itu dengan menari jaipongan yang terkadang mengundang rangsang penontonnya membayangkan hal yang bukan-bukan. Ya, goyang pinggul dan kerling mata pesinden dengan dandanan menor itu seringkali dipandang sebagai pembangkit berahi lelaki.

Saya pun jadi penasaran dengan fenomena yang terjadi di kampung itu, dan suatu ketika berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Jang Ridwan. Mengorek lebih dalam motivasi calon ajengan yang malah menjadi dalang itu.

Adalah suatu kebetulan saat perayaan Agustusan, yaitu peringatan HUT kemerdekaan RI tahun lalu, remaja Karang Taruna kampung Margaluyu, desa Sukamaju, kecamatan Pagerageung, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat,  menggelar pertunjukan wayang golek dengan dalang salah satu anggota Karang Taruna itu sendiri, yaitu Jang Ridwan, atawa lengkapnya Muhammad Ridwan itu.

Dengan panjang lebar Jang Ridwan pun menjelaskan, saat menjadi santri dirinya biasa berziarah ke makam para Wali.  Bahwa menurut sahibu hikayat, pertunjukan wayang golek pertama kali digelar oleh para Wali yang dinamakan Walisanga. Tujuannya tidak lain merupakan upaya mereka dalam rangka menyebarkan syiar agama Islam di tengah penduduk Jawa, khususnya di tatar Sunda yang kala itu masih menganut agama lain.

Dengan dakwah melalui pendekatan seni budaya pertunjukan wayang golek itu pula warga tatar Sunda menjadi tertarik untuk berpindah keyakinannya, menjadi penganut agama Islam seperti yang kita saksikan sekarang.

Oleh karena itu, menurut keyakinan Jang Ridwan, apa salahnya kalau dirinya mengikuti jejak para pendahulunya, para Wali itu, berdakwah dengan wayang golek sebagai sarananya. Apa lagi kondisi masyarakat sekarang ini, dianggap Jang Ridwan membutuhkan sebuah pendekatan yang berbeda dari biasanya. Tidak hanya  dakwah yang berbentuk khotbah, orasi,  atawa pidato yang acapkali membuat pendengarnya jenuh. Dan menganggapnya suatu hal yang membosankan.

Disebutkannya kreasi dakwah melalui pertunjukan seni wayang golek telah dirintis oleh mendiang Asep Sunandar Sunarya, salah seorang dalang wayang golek terkenal di Jawa Barat, yang juga dianggap sebagai sosok yang mengilhami dirinya.

Akan halnya ada anggapan pertunjukan wayang golek dekat dengan maksiat, anak itu dengan bijak mengelak. sebab hal itu tergantung dari sudut mana memandangnya. Menurut keyakinannya semuanya kembali lagi kepada niat. Malah justru sebaliknya, melalui pertunjukan wayang golek pula, Jang Ridwan punya niat untuk merubah stigma yang berkembang di tengah masyarakat. Dia berharap dengan cara itu dakwahnya dapat diterima oleh semua kalangan. Baik mereka yang mengaku dirinya sebagai umat yang taat beribadat, maupun orang yang telah dicap sebagi penjahat.

“Selain itu, niat saya yang sudah bulat ini, paling tidak untuk melestarikan kebudayaan tradisional yang sekarang ini telah hampir dilupakan,” cetusnya dengan wajah sumringah.

Mendengar panjang lebar penuturan Jang Ridwan, terutama pada kalimat terahirnya, sungguh saya jadi malu sendiri. Sekarang ini jarang sekali mendengar orang yang merasa bangga dengan warisan leluhurnya. Mereka malah lebih tertarik dengan kebudayaan yang datang dari luar, padahal belum tentu sesuai dengan kepribadiannya.



Sungguh. Saya malu sekali dengan anak muda yang satu ini. ***

Postingan ini menjadi pemenang lomba Blog Figur Inspiratif di: https://indonesiana.tempo.co/lomba/figur-inspiratif/pemenang
dan menjadi headline di: http://www.kompasiana.com/arsudradjat/calon-ustadz-yang-berubah-haluan_56b93ce38e7a6163048b4570
Share: