Berbagi Sebening Hati

Sunday, 1 May 2016

Inilah Pelajaran Berharga dari Yusril Ihza Mahendra


Postingan ini terkait dengan bahasan sebelumnya, yaitu bagaimana setiap jurnalis harus memiliki semangat dan sikap sebagai “cub reporter.” Karakter dari “cub”, yakni anak singa yang lincah loncat sana loncat sini sebagaimana telah saya jelaskan, harus dijadikan “ethos” kerja wartawan, bahkan bagi wartawan senior sekalipun.
Namun demikian, menjadi “cub reporter” saja tidaklah cukup. Lincah saja tidak cukup. Bagaimana mungkin kelincahan dimiliki tetapi saat berhadapan dengan narasumber si wartawan lincah itu langsung diam seribu bahasa? Jangan sampai prilaku memalukan ini terjadi saat bekerja di lapangan.
Apa yang harus dilakukan seorang jurnalis agar tidak terdiam seribu bahasa saat menghadapi narasumber yang berhasil dikejar atau ditangkapnya?
Pengetahuan! Ya, pengetahuan.
Izinkan saya menulis sebagaimana judul tulisan ini, yakni tentang pelajaran menulis berita dari Yusril Ihza Mahendra. Apa kaitannya Yusril dengan dunia jurnalistik? Apa kaitannya profesor hukum tata negara itu dengan pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang wartawan?
Izinkan saya bercerita.....
Pada kurun waktu 1997-1998, sesaat setelah pemerintah Soeharto tumbang, dipersiapkanlah seperangkat undang-undang oleh orang-orang orde reformasi. Bukan hanya itu, bahkan "babon"-nya undang-undang, yakni konstitusi yang dikenal sebagai Undang-undang Dasar 1945 (UUD 45) -yang sebelumnya “sakral” untuk disentuh (diubah) seperti halnya kitab suci— turut diubah juga. Sesuatu yang luar biasa saat itu.
Sebagai jurnalis, saya kemudian bersinggungan dengan draft perubahan atau amandment konstitusi ini. Demikian alot pergulatannya, sampai-sampai ada partai yang menghendaki 7 kata dalam Piagam Jakarta pun dimasukkan kembali. Sekadar mengingatkan, makna dari “tujuh kata” ini adalah, sistem politik dan pemerintahan NKRI dijalankan beradasarkan syariat Islam.
Pergulatannya memang ada di tingkat Panja maupun Pansus, tetapi kandas sebelum masuk Sidang Paripurna. Akan tetapi yang jelas, harapan ini kandas karena mayoritas anggota MPR belum menghendakinya. Sebagai sebuah perjuangan dari kalangan umat Islam, ini juga tercermin dalam amandment konstitusi itu.
Ups... tulisan ini tidak bermaksud berpanjang-panjang menjelaskan soal konstitusi, tetapi kembali ke cerita awal, bahwa pada kurun waktu itu, yakni 1997-1998, saya banyak bersinggungan dengan sejumlah pakar, khususnya hukum tata negara, dan dalam kaitan inilah saya mengenal Profesor Yusril Ihza Mahendra.
Saat kran pendirian parpol dibuka, tersebutlah 48 partai politik yang berhak ikut Pemilu 1999. Yusril adalah salah satu pendiri dan bahkan ketua Partai Bulan Bintang. Tetapi sekali lagi, persinggungan saya dengan Yusril lebih banyak soal hukum tatanegara tinimbang personanya sebagai petinggi partai politik.
Dari persinggungan itu, Yusril adalah pakar hukum tata negara yang secara tidak langsung mengajarkan saya tentang satu hal; PERSIAPAN!
Saya tidak tahu, mungkin juga tidak terlalu peduli, apakah rekan-rekan wartawan dari media lain yang berkerubung di Gedung MPR-DPR itu “ngeh” dengan “ajaran” Yusril yang tak nampak (invisible) ini, tetapi bagi saya itu nyata. Saya bahkan sampai ambil kesimpulan saat itu; jangan sekali-kali bertanya tentang hukum tata negara untuk kepentingan amandment konstitusi kalau kita tidak siap dan tidak punya persiapan!
Ciri khas Yusril sebagai pakar hukum tata negara adalah “balik bertanya” kepada wartawan yang mencecarnya tetapi dengan catatan, cecaran si wartawan itu dilihatnya sebagai peluru hampa. Yusril akan dengan mudah menangkap pertanyaan keliru wartawan, baik secara historis berupa gejala anakronisme, etika, maupun butir-butir pasal dan kaitannya dengan turunan Tap MPR dan Undang-undang.
Sebagai contoh, jangan bertanya apakah Tap MPR yang dianggap sebagai pembenaran rezim untuk hal-hal yang luput diatur konstitusi perlu didihapus atau tidak. Salah-salah Yusril akan balik bertanya, “Menurut Saudara sendiri (wartawan), apakah Tap MPR masih perlu dipertahankan atau dihapus?”
Inilah ciri khas Yusril. Kalau saya selaku wartawan tidak siap dengan jawaban itu, mau ditaruh di mana wajah saya ini! Ketika Yusril sebagai narasumber meminta wartawan menjawabnya, secara etis wartawan juga harus mampu menjelaskannya. Kepada Yusril, tidak bisa berapologi, “Lho saya ‘kan wartawan, tugas saya ‘kan bertanya!”
Tidak. Itu tidak berlaku bagi Yusril. Dia tahu wartawan sedang mencari isu. Lalu pertanyaan yang paling gampang disampaikan meski tanpa persiapan alias hanya berbekal “peluru hampa” adalah soal perlunya Tap MPR dipertahankan atau sebaliknya dihapus. Yusril tahu, jawaban “ya” atau “tidak” darinya akan disusul kembali oleh pertanyaan wartawan, “mengapa ‘ya’ atau mengapa ‘tidak’”.
Bagi Yusril, pekerjaan wartawan bukan jadi “penadah” muntahan omongan orang, kendati itu omongan profesor sekalipun. Wartawan bukanlah “ember” penampung omongan orang. Juga bukan “tape recorder” atau aplikasi perekam suara. Bagi Yusril, wartawan adalah “teman diskusi” dan hasil chit-chat itulah yang bakal dijadikan isu, kemudian ditulis di media pada keesokan harinya.
Inilah yang dimaksud isi kepala tidak boleh kosong, harus selalu terisi ilmu pengetahuan. Jadi “cub reporter” yang lincah saja tidaklah cukup. Jika kepala sudah terisi mengenai pengetahuan ketatanegaraan, misalnya, pertanyaan yang memancing jawaban “ya” atau “tidak” mungkin tidak akan disampaikan.
Format pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak” perlu dihindarkan. Berbeda misalnya jika pertanyaan wartawan dibungkus seperti dialog dengan sedikit memberi “repertoir” (pembuka) sebagai berikut:
“Tap MPR selama pemerintahan Orde Baru sering dijadikan alat kekuasaan. Ada wacana menghapus seluruh Tap MPR, padahal secara hierarkis Tap MPR berada di bawah konstitusi dan beberapa di antaranya diperlukan untuk mengatur ketatanegaraan sebagai penjabaran konstitusi. Apakah Tap MPR memang sudah tidak diperlukan lagi untuk kondisi sekarang ini?”
Sebagai pakar hukum tatanegara, Yusril akan menjelaskan konsekuensi kalau sebuah Tap MPR/MPRS dihapus. Misalnya Tap MPRS XXV/1966 tentang Pembubaran PKI dihapus, konsekuensinya PKI bisa hidup kembali di Indonesia. Bukankah ini berita besar?
Dari wawancara ini saja wartawan kira-kira bisa menangkap isu besar atas apa yang ditanyakannya kepada Yusril selaku narasumber. Isu PKI masih dianggap “seksi”, apalagi saat kran reformasi dibuka, seolah-olah partai politik berhaluan komunis itu bisa hidup lagi, apalagi dengan “mengakali” penghapusan Tap MPRS yang terkait pemburannya.
Sekarang, Yusril, pakar hukum tata negara yang sedang saya ceritakan ini, tengah berjuang untuk bisa menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Itu urusannyalah, yang pasti tulisan ini bukan mengenai politik.
Tulisan ini semata-mata mengenai dunia kepenulisan dan jurnalistik yang kebetulan sosok Yusril telah menginspirasi saya selaku jurnalis lapangan. Bahwa di luar ada sekelompok orang tidak menyukai sepak terjangnya, membenci sikapnya yang katanya "nyinyir", saya harus mengatakan “It’s none of my business”. Ini soal dunia tulis-menulis!
Okay... pada kesempatan berikutnya saya akan membahas bagaimana cara “mengisi” atau “men-charge” kepala jurnalis dengan “vitamin” yang bermutu itu, agar saat ditanya balik oleh narasumber seperti Yusril wartawan tidak gelagapan...
Share:

Proklamasi tanpa Bung Kecil


JALAN Maluku 19, Menteng, Jakarta, dua hari sebelum proklamasi. Soebadio Sastrosatomo, kala itu 26 tahun, bertamu ke rumah Sjahrir. Badio, begitu Soebadio biasa disapa, adalah pengikut Sjahrir yang setia. Kelak keduanya bersama-sama mendirikan Partai Sosialis Indonesia. Siang terik. Badio haus luar biasa. Sjahrir menawari anak muda itu minum, tapi Badio menolak. Itu hari di bulan Ramadan: Badio sedang puasa.

Ada yang tak biasa pada Sjahrir hari itu: rautnya sumpek. Sebelumnya, si Bung baru saja bertemu dengan Soekarno, yang mengajaknya bermobil keliling Jakarta. Di jalan, Soekarno mengatakan tak secuil pun ada isyarat Jepang akan menyerah. Soekarno ingin membantah informasi yang dibawa Sjahrir sebelumnya bahwa Jepang telah takluk kepada Sekutu.

Sjahrir mengatakan ini sebelum Soekarno-Hatta berangkat ke Dalat, Vietnam, untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi, Panglima Tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara. Sjahrir berkesimpulan tak ada gunanya berunding dengan Jepang. Pada 6 Agustus 1945, Jepang toh telah luluh-lantak oleh bom atom Sekutu.

Mengetahui Bung Karno tak mempercayainya, Sjahrir berang. Ia menantang Soekarno dengan mengatakan siap mengantar Bung Besar itu ke kantor Kenpeitai, polisi rahasia Jepang, di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, untuk mengecek kebenaran informasi yang ia berikan. Sjahrir mengambil risiko: di kantor intel itu ia bisa saja ditangkap.


Tapi Soekarno menolak. Ia yakin Jepang belum menyerah. Itulah yang membuat Sjahrir marah meski ia tak menyampaikannya secara terbuka kepada Bung Karno.

Kepada Badiolah murka itu dilampiaskan. "Sjahrir mengumpat Soekarno man wijf, pengecut dan banci," kata Badio dalam Perjuangan Revolusi (1987). Menurut Badio, itulah marah paling hebat Sjahrir sepanjang persahabatan mereka.

Soekarno tahu Sjahrir sering memakinya. Dalam biografi karya Cindy Adams, Soekarno mengatakan Sjahrir menyalakan api para pemuda. "Dia tertawa mengejekku diam-diam, tak pernah di hadapanku. Soekarno itu gila... kejepang-jepangan... Soekarno pengecut."

Sehari sebelum Badio berkunjung, 14 Agustus 1945, Sjahrir dan Hatta menemui Soekarno di rumahnya di Pegangsaan Timur 56 dan meminta Bung Karno segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Soekarno berjanji mengumumkan proklamasi pada 15 Agustus setelah pukul lima sore. Sjahrir segera menginstruksikan para pemuda mempercepat persiapan demonstrasi. Mahasiswa dan pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang, Domei, bergerak cepat menjalankan instruksi itu.

Tapi Sjahrir mencium gelagat Soekarno tak sepenuh hati menyiapkan proklamasi. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, badan yang bertugas menyiapkan kemerdekaan sesuai dengan permintaan Jepang, tak menunjukkan gelagat akan berhenti bekerja.

Panitia misalnya mengagendakan sidang pertama 19 Agustus 1945. Soekarno ketua dan Hatta wakil dalam panitia ini. "Ini akal-akalan Jepang," kata Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan. Sjahrir mengusulkan proklamasi tak menunggu Jepang. Proklamasi, kata Sjahrir, bentuk perlawanan terhadap Jepang. Inilah saatnya melancarkan aksi massa. "Aku penuh semangat. Aku yakin saatnya telah tiba. Sekarang atau tidak sama sekali," kata Sjahrir.

Pukul lima sore 15 Agustus itu, ribuan pemuda berkumpul di pinggir kota. Mereka siap masuk Jakarta segera setelah proklamasi. Begitu proklamasi disiarkan, pemuda akan langsung berdemonstrasi di Stasiun Gambir. Domei dan Gedung Kenpeitai akan direbut. Ternyata, pukul enam kurang beberapa menit, Soekarno mengabarkan belum akan mengumumkan proklamasi. Soekarno menundanya sehari lagi.

Kabar ini membuat ribuan pemuda pengikut Sjahrir marah. Sjahrir menduga polisi rahasia Jepang tahu rencana proklamasi. Para pemuda mendesak proklamasi diumumkan tanpa Soekarno-Hatta. Tapi Sjahrir tidak setuju. Ia khawatir konflik akan terjadi di antara bangsa sendiri.

Tapi kabar bahwa proklamasi batal diumumkan tak sempat dikabarkan ke Cirebon. Pemuda di Cirebon di bawah pimpinan dokter Soedarsono-ayah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono-hari itu juga mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri. Mereka mengatakan tidak mungkin menyuruh pulang orang yang telah berkumpul tanpa penjelasan.

Pada 15 Agustus tengah malam, Badio menemui Sjahrir. Badio mendesak Sjahrir membujuk Soekarno dan Hatta segera mengumumkan proklamasi. Sejam kemudian, Badio menemui kembali Sjahrir. Tapi, dari Sjahrir, kabar tak enak itu didengar Badio: Dwitunggal menolak menyampaikan proklamasi meski Sjahrir telah mendesak.

Pemimpin pemuda lalu pergi. Menurut Badio, mereka bertemu di Cafe Hawaii, Jakarta. Di sini mereka memutuskan untuk menculik Soekarno. Keputusan ini juga melibatkan kelompok lain, di antaranya Pemuda Menteng 31, seperti Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moewardi dari Barisan Pelopor.

Sekitar pukul dua dinihari, Badio datang lagi ke Sjahrir. Ia mengusulkan penculikan Soekarno. Sjahrir tak setuju. Ia menjamin, besoknya bisa memaksa Bung Besar membaca proklamasi.

Badio pergi. Tapi satu jam kemudian ia kembali, membangunkan Sjahrir, dan mengabarkan bahwa sekelompok pemuda nekat menculik Soekarno-Hatta. Sjahrir meminta, apa pun yang terjadi, di antara mereka jangan bertikai. Yang paling penting, kata Sjahrir, proklamasi harus diumumkan secepatnya. Soekarno dalam otobiografinya menyebut Sjahrir penghasut para pemuda. "Dialah yang memanas-manasi pemuda untuk melawanku dan atas kejadian pada larut malam itu," kata Soekarno.

Dalam buku Sjahrir karangan Rudolf Mrazek (1994), Sjahrir disebut-sebut sebagai orang yang menganjurkan Soekarno dibawa ke Rengasdengklok, Jawa Barat-markas garnisun pasukan Pembela Tanah Air.

Ahmad Soebardjo, yang dekat dengan Soekarno, memberi tahu pemimpin Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang Laksamana Tadashi Maeda tentang penculikan itu. Maeda memerintahkan anak buahnya, Nishijima, mencari Wikana di Asrama Indonesia Merdeka. Nishijima dan Wikana bertengkar hebat. Nishijima memaksa Wikana memberi tahu tempat Soekarno-Hatta disembunyikan. Imbalannya: Maeda dan Nishijima akan membantu proklamasi kemerdekaan. Wikana setuju.

Soebardjo, seorang Jepang, dan dua pemuda lainnya-Kunto dan Soediro-lalu menjemput Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Pukul delapan pagi, Kamis, 16 Agustus, dwitunggal itu tiba di Jakarta. Sepanjang hari hingga malam, Soekarno-Hatta dan Maeda berkunjung ke sejumlah perwira penting Jepang. Penguasa militer Jepang mengizinkan proklamasi disampaikan asalkan tak dikaitkan dengan Jepang dan tidak memancing rusuh. Soekarno, Hatta, Maeda, Soebardjo, Nishijima, dan dua orang Jepang lain menyusun teks proklamasi di ruang kerja kediaman Maeda di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta-kini Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Baca selengkapnya...
Share:

Friday, 29 April 2016

Kisah Putri Basoeki Abdullah Ketemu Nyi Roro Kidul

Cicilia Sidhawati, putri kedua pelukis Basoeki Abdullah, membeberkan pengalamannya  sudah terjadi lebih dari 30 tahun lalu.  Kata perempuan berusia 42 tahun ini, pengalaman pribadinya itu belum pernah ia ungkapkan kepada media massa. 


“Hanya saya ceritakan ke teman-teman saja. Itu pun karena terpancing setelah mendengar cerita mistis mereka,” kata Cicilia saat ditemui di Museum Basoeki Abdullah, Selasa 27 Januari 2015 lalu.


Ceritanya,  ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia diajak ayah dan ibunya, Nataya Nareerat, menginap di Hotel Samudra Beach (kini Inna Samudra Beach) di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Dia mengaku lupa kapan waktu persis kejadian ini. Ketika ayah dan ibunya sedang berada di meja penerima tamu untuk check-in, Cicilia yang sedang bermain di sekitar lobi didatangi seorang perempuan.


“Cantik sekali, ayu khas Indonesia, kulitnya putih, rambutnya panjang dan memakai syal hijau,” ujar Cicilia mendeskripsikan sosok perempuan tersebut. Yang membuat Cicilia heran, perempuan itu tidak takut mengenakan syal berwaran hijau. Padahal, dia dan semua anggota keluarga dan rombongan yang datang ke hotel itu dilarang keras mengenakan pakaian berwarna hijau.
“Perempuan itu bertanya, 'Bapakmu mana?',” kata Cicilia menirukan perempuan itu yang bertutur dengan logat Jawa yang kental. Tanpa menjawab, Cicilia berlari ke arah ayahnya untuk memberitahukan kalau ada yang mencari. Tapi, belum selesai Cicilia mengatakan kepada Daddy---panggilan sayang Cicilia untuk Basoeki Abdullah---perempuan tersebut telah menghilang.  “Daddy sih sudah paham kalau itu Ratu Kidul yang sudah menanti kedatangannya,” ujar Cicilia.

Kedatangan Basoeki Abdullah ke hotel yang pembangunannya bersamaan dengan Hotel Indonesia itu memang untuk melukis Nyai Roro Kidul atau Ratu Kidul penguasa Laut Selatan. “Daddy memang mengatakan mau melukis Ratu Kidul. Dalam bayangan saya yang masih anak-anak waktu itu, Ratu Kidul itu semacam dewi laut, yang pasti bukan berwujud manusia,” kata perempuan kelahiran Bangkok, 13 Oktober 1972 ini.

Cicilia mengaku melihat ayahnya keluar dari kamar tempat mereka menginap dan menuju kamar nomor 308 yang dipercaya sebagai kamar yang dihuni Ratu Kidul “Saya kan mau tahu jadi saya ikut saja Daddy keluar, tapi ibu saya melarang karena sudah tengah malam. Tapi saya sempat melihat Daddy sujud di depan pintu kamar itu, bukannya mengetuk pintu,” ujarnya.

Ia mengatakan tidak tahu lagi apa yang dilakukan ayahnya di dalam kamar 308 itu. “Yang pasti setelah itu Daddy kembali ke kamar dan langsung melukis. Cepat sekali selesainya dan perempuan yang ada di lukisan itu, ya perempuan yang menemui saya di lobi tadi,” ujar Cicilia sambil mengusap lengannya. “Nih, saya masih merinding, lho,” dia menambahkan...


Share:

Naik Haji Berkali-kali Pengabdi Setan!


Inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun... Imam Besar Masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub telah meninggal dunia . Beliau dikenal sebagai ulama besar yang kritis menjaga nilai-nilai Keislaman.

Salah satu kekritisannya adalah mengkritik orang yang naik haji dan umroh berkali-kali. KH Ali Mustafa heran mereka mencontoh siapa? Dia juga mengkritik para ustaz yang menjual program umroh dan naik haji berkali-kali. Menurutnya itu hanya konsumerisme, bukan lagi ibadah. Rasulullah tak pernah mencontohkan hal itu.

"Saat saya berkunjung ke masjid Sunda Kelapa pada Ramadan, ada orang mendekati saya dan bilang, "Pak Ustad, saya baru pulang dari Makkah." Saya langsung balas, "Saya tidak tanya." Dikira ke Makkah saat Ramadan itu bagus. Kalau itu bagus, Rasulullah akan mencontohkan itu. Bila perlu setiap hari akan umrah, bila itu bagus. Yang dicontohkan Rasul justru berinfak sebanyak-banyaknya. Hingga kemudian infak itu dibelokkan ke perilaku konsumtif. Akhirnya yang menonjol konsumtifnya, bukan infaknya. 

Simak wawancara yang pernah dilakukan merdeka.com dengan almarhum beberapa waktu lalu:

Saya kadang banyak mengecam. Saya menulis buku Haji Pengabdi Setan, maksudnya untuk orang berhaji ulang. Itu niatnya ikut siapa, sementara kondisi negara masih terpuruk. Indonesia kalau mengikuti indikator PBB, masih ada 117 juta orang miskin. Nabi berkata, "Tidak beriman orang pada malam perutnya kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan." Berapa juta orang Indonesia masih kelaparan. 

Saya tanyakan kepada ustad-ustad yang merekomendasikan haji ulang atau umrah itu. Tidak bisa menjawab, malah dia larut dalam arus konsumerisme itu. Melihat hal ini, perlu ada revolusi moral. Saya kadang merasa sendirian dalam memberitahukan hal ini. Saya sering mengatakan berhaji ulang itu rugi. Saya katakan itu dilawan banyak kalangan dan bilang, "Berhaji kok rugi." 

Coba bandingkan biayanya itu untuk infak sebanyak-banyaknya. Padahal nanti itu jelas ganjarannya, surga bersama nabi. Kita menyantuni anak yatim, jaminannya surga bersama nabi dalam satu kompleks. Coba berhaji, itu kalau mabrur. Itu pun surganya kelas dek, kelas ekonomi.

Ini lebih kepada yang berhaji ulang. Menurut saya, itu bermasalah, sementara kewajibannya masih banyak. Kewajiban itu tidak hanya ibadah, kewajiban sosial juga banyak sekali. Tapi pura-pura buta saja. 

Siapa yang diikuti untuk berhaji ulang. Mana ada ayat Alquran dan hadis menyuruh berhaji ulang, sementara kewajiban sosial lain masih banyak. Mau mengikuti Rasulullah, sebutkan hadis yang menyatakan itu, tidak ada, maka kamu hanya mengikuti bisikan dan keinginan nafsu. Meski begitu masih banyak alasannya, ada yang bilang masih belum puas. Saya katakan, sejuta kali kamu berhaji, tetap kamu belum puas. Setan masuknya dari situ kok. Ada yang bilang masih belum sempurna, terus dan terus naik haji. Makanya itulah yang disebut sebagai haji pengabdi setan. 

Mulanya mendengar itu, banyak yang menentang, tapi setelah membaca dan memahami yang saya maksud, banyak juga yang mendukung. Opini itu pertama kali saya tulis di Majalah Gatra. Ada Kiai dari Jawa Timur dikasih orang untuk membaca itu dan berkomentar, "Ini apa-apaan, haji penyembah setan." Sama orang yang memberi opini itu disuruh baca buku saya tentang hal itu, dia bilang, "Pak Kiai, komentarnya nanti saja setelah baca buku ini." Setalah baca buku itu, dia langsung bilang, "Ini yang saya cari, ayo disalin seratus, bagi ke ulama-ulama Jawa Timur." 

Baca selengkapnya...
Share:

Tuesday, 26 April 2016

'Amoy' Itu Istri Saya Koq...

Karena masalah pekerjaan jugalah kami, saya dan istri tercinta harus hidup berjauhan. Saya di kota metropolitan, dan dia di kampung halaman.

Memang pernah saya mencoba memintanya untuk pindah  kerja di Jakarta, dan tinggal bersama, sebagaimana layaknya orang berumah tangga. Tapi alasan yang ia sodorkan cukup sederhana, dan saya pun mafhum adanya. Jakarta terlalu sumpek dan panas. Sementara ia sudah terbiasa di kampung halaman yang udaranya masih bersih dan segar. Dan yang paling utama, sebagai seorang guru, ia memiliki tanggung jawab moral yang tinggi memang. Ia ingin mengabdikan diri untuk membangun kampung halaman kami yang saat itu  masih tertinggal. Hal itu telah jadi komitmennya sejak kami belum menikah, memang. Untuk melepas kerinduan, ahirnya dua minggu sekali saya mudik, menjelang Jumat petang. Dan hari minggu sore saya kembali ke Jakarta. Hanya apabila tiba musim liburan sekolah, istri saya datang mengunjungi, dan tinggal menemani saya di kota metropolitan.

Ketika baru pertama kali datang di Jakarta, sengaja saya mengundang para tetangga untuk memperkenalkan istri yang baru beberapa bulan dinikahi. Kebetulan sebagian besar tetangga saya banyak warga keturunan chinese, bahkan di antaranya, terutama yang sudah lansia, masih ada yang masih totok berbahasa mandarin.

Mereka ribut bertanya kepada saya dan  istri ,  Enci marga-nya apa?  Koq bisa ya menikah sama orang Sunda? Dan yang lucu, adalah engkong-engkong tua yang nyerocos mengajak bicara bahasa mandarin kepada istri saya. Tentu saja istri saya hanya melongo saja dibuatnya.

Betapa tidak. Istri saya yang dianggap amoy, sama sekali bukan warga keturunan. Asli lho orang Sunda, sama seperti saya. Hanya kebetulan dia memiliki kulit kuning langsat, dan mata sipit seperti mereka. Setelah saya jelaskan kepada mereka, ahirnya merekapun mafhum adanya.

Akan tetapi, hubungan kami dengan tetangga warga keturunan terasa menjadi istimewa. Setiap istri saya ada di Jakarta, para tetangga banyak yang menganggap saudara kepada istri saya. Bahkan jika perayaan Imlek tiba, walau istri saya sedang ada di kampung sekalipun, kami banyak menerima angpau dari mereka. "Untuk si Enci," katanya. Terlebih jika kebetulan istri di Jakarta, kami selalu larut ikut merayakan hari Imlek bersama mereka.

Demikian juga halnya apabila  kami sekeluarga merayakan hari besar agama kami. Terutama kalau Hari Raya Iedul Adha (Karena kalau Hari Raya Iedul Fitri, sehari sebelum tiba waktunya,  saya sudah pamit pada tetangga untuk merayakannya bersama keluarga di kampung halaman), istri saya yang kebetulan sedang liburan, memasak makanan sebagaimana kebiasaan di kampung halaman, kemudian dibagi-bagikan kepada para tetangga bersama penganan oleh-oleh yang dibawa dari kampung...


Sekarang hal itu tinggal kenangan saja. Saya telah lama tinggal bersama istri di kampung halaman. Dan jika perayaan Imlek tiba, seringkali saya dan istri tertawa, "Enci masih cantik juga ya biar sudah tua juga..." Dan istri saya pun mencubit saya dengan mesranya...


Share:

Benarkah Jati Diri Orang Sunda Identik dengan Si Kabayan?

SEORANG Jakob Sumardjo, budayawan Sunda kelahiran Klaten Jawa Tengah, dalam artikelnya yang pernah di muat dalam koran harian Pikiran Rakyat (5/01/2008) dengan judul Kabayan Sebagai Cerita Rakyat, menyebutkan tokoh Si Kabayan dalam cerita rakyat Jawa Barat bisa jadi simbol Sunda–air dan Sunda-gunung sekaligus, serta menjadi jati diri sunda secara budaya.

Dalam cerita rakyat Parahiyangan (nama lain dari tatar Sunda/Jawa Barat), tokoh Si Kabayan yang kerap disejajarkan dengan tokoh Abu Nawas dan Koja Nasrudin itu, digambarkan sebagai tokoh yang pintar-pintar bodoh. Maksudnya dari satu sisi begitu tampak kebodohannya, dan di sisi lain muncul pula kepintaran/kecerdasannya secara tidak diduga.

Misalnya saja kebodohan Si Kabayan dapat dilihat dalam kisah Si Kabayan Ngala Tutut . Karena airnya yang bening di sawah itu, sehingga bayang-bayang awan putih dan langit yang biru begitu jelas terlihat. Di mata Si Kabayan, sawah itu dilihatnya begitu dalam. Sehingga dia pun takut untuk turun. Dan tutut (Keong sawah) pun diambilnya dengan menggunakan ranting kayu.

Kebodohan si Kabayan, menurut Jakob Sumardjo, merupakan kebodohan yang merupakan simbolik rohani. Kita ini bodoh spiritual. Dalam hal ini bukan hanya jati diri Sunda, tetapi juga jati diri manusia sendiri.

Sementara pintarnya Si Kabayan, di dalam setiap kisahnya terkandung filosofi hidup yang memiliki bobot intelektual dan nilai sastera yang tinggi. Penuh dengan simbol kehidupan yang patut menjadi bahan perenungan. Hanya saja sayangnya, kita sebagai penikmat cerita rakyat itu cenderung  melihat dari sisi guguyonan (humor)-nya saja.

Sehingga lebih jauh Jakob Sumardjo menyebutkan,  bahwa tokoh Si Kabayan merupakan tokoh paradoks. Bodoh tapi pintar. Sebagaimana sikap hidup urang Sunda sendiri yang konon memiliki karakter ‘halus’, bukan kasar.  Kalau harus ‘kasar’, tetap ‘halus’. Tidak keras, tapi lembut. Tidak agresif, tapi diam.

Pada dasarnya, sikap hidup urang Sunda agak ganda dalam arti positif.  Paradoksal.

Akan tetapi masih relevankah pendapat Jakob itu untuk kondisi sekarang ini?

Seorang tokoh masyarakat Sunda, Ginanjar Kartasasmita, malah mengatakan kalau watak urang Sunda cenderung aing-aingan (Egois). Bila saja ada salah seorang yang tandang-makalangan ( maju untuk berjuang) demi kejayaan negeri, oleh yang lainnya diantep-karepkeun (dibiarkan), dan tak jarang ditertawakan. Bahkan sampai juga dijongklokeun (dijerumuskan).

Entahlah. Hal ini membutuhkan penelitian yang lebih dalam. Hanya yang jelas, mungkin saja bagi urang Sunda hidup ini serupa panggung sandiwara. Dalam sedih, ada tertawa. Dalam marah, ada pasrah. Dan untung saja tidak seperti film dari Boolywood sana, dalam kesedihan ada nyanyian yang dibarengi dengan tarian... ***
Share:

Manusia Kamar


Cerpen Seno Gumira Ajidarma
Pada umurnya yang ke-20 ini, ia mulai memasuki periode sinis kepada dunia. Aku telah mengenalnya semenjak ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia muak melihat kepalsuan-kepalsuan di sekelilingnya. Aku bilang padanya, dalam kehidupan itu semua biasa. Ia bisa mengerti, tapi tak bisa menerima.Lima tahun yang lalu ia masih hidup dengan penuh harapan. Tapi yang penting mungkin bukan sekadar harapan. Yang penting adalah kenyataan, dan kenyataan telah membuatnya kecewa. Ia mulai jenuh dengan basa basi. Sikapnya mulai kasar dan terang-terangan. Banyak kawan mulai sakit hati, dan akhirnya ia tersingkir.Aku hanya sekali-sekali saja berjumpa dengannya, karena kau tahu, kesibukan makin hari makin bertambah. Mungkin cuma aku yang mengerti persoalannya. Ia menghindari persahabatan, aku maklum, persahabatan terkadang bisa membunuh. Ia terasing dan kesepian. Tampaknya ia lebih suka demikian karena telah jadi pilihannya. Ia bahagia dalam ketidakbahagiaannya  atau ia tidak bahagia dalam kebahagiaannya.Iamemang suka berfilsafat. Aku sering bingung mendengar kata-katanya, tapi tetap mencoba melayaninya. Jika sudah kenal, berbicara dengan dia amat menyenangkan. Pengetahuannya luas dan apa yang dikatakannya sering tidak terbantah. Kawan-kawan yang lain agak segan terhadapnya, karena ia terlalu sering menelanjangi kebebalan mereka di muka umum. Mereka bilang ia terlalu asyik sendiri, suka berkhayal, nyentrik dan tidak bisa bergaul.
Aku sendiri menganggap ia manusia biasa, yang sedang menjalani tahap-tahap kehidupannya. Tapi tahap itu dilaluinya dengan amat serius dan penuh makna. Aku sendiri heran kenapa bisa demikian. Selama beberapa tahun terakhir, gejala itu memang mulai tampak.
“Aku bosan lihat orang-orang itu.”
“Kenapa?”
“Munafik, penjilat, tukang onani jiwa.”
“Wah, jangan begitu dong. Itu manusiawi kan?”
“Memang, tapi sebal melihatnya. Jenuh.” Ia sangat serius, sementara banyak orang di sekelilingnya makin hari makin mencari kemudahan dan kesantaian. Ia tak mendapat tanggapan, dan marah.
Untung ia bisa menyalurkannya dalam latihan teater atau menulis puisi, namun ini tidak berlangsung lama. Rupanya dunia kesenian pun tak memuaskan. Ia ketemu lagi dengan pemimpi, pembual dan juga penjilat. Semenjak ia keluar dari perguruan tinggi dan rombongan sandiwara itu dua tahun yang lalu, aku tak pernah lagi melihatnya.
Aku teringat ketika untuk terakhir kalinya berpapasan dengan dia di jalan.
“He kampret, dari mana saja kamu?”
“Bertapa,” katanya dengan lesu.
Dalam remang senja itu, perlahan-lahan kemudian menjadi jelas, bajunya begitu kumal meskipun termasuk mahal. Juga celananya. Sepatunya sih normal, tapi heh rambutnya itu, wah seperti sapujagat: kusut dan kaku, dan entah berapa bulan tidak disisir. Dulu, meskipun ia termasuk seniman yang urakan, pakaiannya termasuk rapi dan mengikuti mode.
Pasti perubahan-perubahan semacam ini disebabkan oleh suatu hal yang sangat mempengaruhi dirinya. “Bertapa? Bertapa di mana? Gua Langse?”
“Bertapa kok di mana! Zaman sekarang orang bertapa di kamarnya
sendiri! Tahu nggak lu?” Busyet! Ketus amat.
Aku kurang bisa mengerti. Kebudayaan macam mana yang menghasilkan manusia ini. Dan apakah yang dikerjakannya selama ini? “Baca buku! Hanya baca buku! Tidak makan dan tidak minum!” Wah, wah, wah, ia memang sudah berubah rupanya. Semua kitab suci dilalapnya, mulai Zabur, Taurat, Injil, Qur’an sampai Goethe, Tao, Khonghucu, Wedhatama, Wulangreh, Upanishad, Bhagawadgita, Sartre, Heidegger, Karl Marx dan Ranggawarsita. Kini di tangannya kulihat pula bukunya Erick Fromm, Schumacher dan sebuah buku tentang Zen.
Rupanya ia barusan dari toko buku.
“Masih jenuh melihat manusia?”
“O tentu, tentu. Di toko buku tadi banyak orang sok pintar. Ada orang memborong ensiklopedi. Melihat tampangnya sih, cuma buat pajangan ruang tamu. Sialan! Dasar gombal semua orang-orang model begini!”
Aku mengajaknya nonton film. Ia bertanya dulu film apa. Ia benci film action. Maunya nonton film-film Ingmar Bergman, Werner Herzog atau Wim Wenders. Tapi tentu saja tidak ada. Aku bilang ini film Indonesia pemenang Citra, namun dengan hormat ia menolak, ada hal yang lebih
penting, katanya. Iseng-iseng kuajak ia ke tempat pelacuran. Lho, ia mau.
“Ini baru namanya hidup,” katanya setelah keluar dari kamar.
Ditenggaknya segelas bir. Dan sepanjang malam itu, di tengah alunan panas musik dangdut, aku mendengar kuliah-kuliahnya tentang individualisme, eksistensialisme, kapitalisme, ekosistem, religiusitas, dan kritik budaya. Sudah melayang aku dengan berbotol-botol bir, ditambah pula dengan pikiran-pikirannya yang tinggi di awan itu, aku tiba-tiba saja tergeletak di meja, tertidur pulas.
Esoknya ia sudah tidak ada. Dan tujuh hari pun menjadi seminggu. Empat minggu menjadi sebulan. Dua belas bulan menjadi setahun. Waktu begitu saja lewat tanpa terasa. Banyak orang merasa telah menjadi tua, sementara orang-orang lain malah merasa makin muda. Kehidupan masih berjalan seperti biasa. Ada orang jujur yang tak pernah mujur, dan orang yang berjiwa bunglon masih selamat. Dunia belum betul-betul kiamat. Sungai masih mengalir, dari gunung ke desa, ke kota, ke muara, ke laut, bersama sejumlah besar sampah.
Di jendelaku masih ada burung yang bulunya kuning, yang tiap pagi masih berkicau. Mungkin tiba saatnya nanti burung tidak bisa berkicau, kehilangan bahasa. Angin masih silir. Senja masih jingga.
Fajar masih ungu. Telepon itu berdering.
“Halo? Ya? He! Telepon dari mana kamu?”
“Dari rumah.” “Di mana? Aku pengin ketemu kamu.”
“Sorry saja bung! Rahasia! Sekarang tidak ada sistem ketemu. Kalau ada perlu, telepon saja, ini nomorku, 717375.”
“Tapi ini penting.”
“Takut disadap?”
“Soalnya ini masalah pribadi.”
“Apalagi itu, sorry.”
Kami bercakap sebagaimana layaknya dua kawan yang lama tidak berjumpa. Ia bertanya tentang segala macam hal dengan suatu urutan pertanyaan yang sistematis, sehingga kalau jawaban itu dikumpulkan, mungkin bisa merupakan laporan riset. Ha! Ini perkembangan baru. Ia haus informasi, tapi begitu pelit akan informasi dirinya sendiri. Ketika hubungan itu selesai, kembali lagi ia menjadi misteri bagiku. Apalagi bagi kawan-kawan yang lain.
Dengan bodoh aku masih bertanya sama mereka di mana alamatnya. Tentu saja tidak tahu. Kutanyakan pada orang tuanya, ini pun nihil. Ternyata selama ini mereka pun hanya berhubungan lewat telepon.
Telepon? Heh, tolol sekali aku. Kutelepon dia. “Halo?” Telepon segera diangkat.
“Di mana sih rumah kamu?”
“Lu ngga perlu tau gue punye rume. Kalok perlu telepon aje bung!”
“Gue ade perlu ni ame lu!” Eh, kenapa aku jadi ikut-ikutan bergaya Betawi?
“Sampaikan saja lewat telepon!”
Ia tampak terganggu.
“Pertemuannya yang penting!”
“Maaf, aku tidak terima tamu.”
Klak.
Nging.
Tut tut tut.
Bangkek orang ini. Sombong sekali dia.
Tapi aku jadi penasaran. Seperti detektif film seri televisi, kucoba menyelusuri jejaknya. Namun ia sungguh pintar. Berbagai tabir tidak bisa disingkapkan dengan segera. Banyak juga waktu terbuang untuk mencari batang hidungnya. Mula-mula kuhubungi kantor telepon. Nomor teleponnya memang ada alamatnya, kudatangi rumah itu, ternyata sebuah rumah kecil yang kosong. Pintunya terkunci dari luar, kudobrak. Dan tetap kosong. Apa artinya ini? Kutunjukkan pada kantor telepon, mereka bilang memang itu alamatnya, dan tiap bulan menerima uang ongkos telepon. Tapi siapa yang masang? Segera petugas dicari, tapi ke mana petugas itu? Ia sudah dipindahkan ke luar kota.
Aku benar-benar penasaran. Segala alamat rumah di kantor kotamadya kucek dan cek kembali, kalau-kalau ada namanya. Tapi sungguh rumit.
Biasa, administrasi yang kacau. Jadi? Nihil. Lantas bagaimana? Ha!
Malam hari! Ia suka keluar malam, aku harus begadang sepanjang malam menelusuri kota ini.Maka ketika malam dengan jubahnya yang hitam telah tengkurap menelungkupi kota.
Ketika dingin mulai menyerbu jalanan yang mulai basah oleh gerimis, dengan krah jas hujan yang tegak menutupi telinga, dengan topi model bandit Itali, lengkaplah aku sebagai intel Melayu yangamatiran.Tapi jadinya aku lebih mengenal kehidupan. Aku tahu apa yang terjadi di hotel-hotel, aku tahu dari desa mana pelacur jalanan itu berasal, aku bisa mengendus mobil pejabat siapa yang diparkir di motel itu. Kutelusuri segala tempat hiburan malam, perpustakaan, restoran, kompleks gelandangan, warung-warung kopi, tempat banci-banci mangkal, tempat homo-homo berkencan, mesjid, gereja, vihara, klenteng …
Bermalam-malam sudah dan hasilnya nol besar.
Tak terasa sebetulnya aku mendapatkan sesuatu yang lain, sesuatu yang berharga. Malam memang menyingkapkan kepalsuan. Di balik kekelaman itu topeng-topeng dibuka dan bentuk asli yang serba gombal itu pun bisa kutangkap, kekelaman seperti memberikan perasaan aman dan
terlindung. Bisa kudengar bisik-bisik sekongkol politik, kasak-kusuk para penyebar gosip. Bisa kulihat para penipu diri beraksi. Antara strip-tease dan lonceng gereja, antara penggarongan dan azan subuh, antara perzinahan terbuka dan perzinahan tertutup.Agaksulit mencari orang normal. sebagian terlalu fanatik, sebagian lain dekaden. Aku jadi maklum kenapa kawanku jadi jenuh. Ia tidak menerima mereka sebagaimana adanya. Ia mencari yang baik-baik saja, dan itu memang
sulit, dan bisa jadi malahan tidak ada. Sedangkan kalau ada, mungkin juga tidak menarik dan tidak menyenangkan. Kata orang, dunia memang mengecewakan. Dunia menjadi buruk karena ulah manusia. Dia memang makin lama makin pesimistis. Aku melihat ia agak kacau. Dan aku jadi
makin penasaran saja. Ke mana dia, kenapa tidak ada seorang pun yang tahu? Kenapa pula ia harus menghilang?

Jakarta, 1980
Share:

Eka Kurniawan Menjawab Pertanyaan: Darimana Datangnya Ide Menulis

Ia lahir di Tasikmalaya, 1975, menyelesaikan pendidikan di Fakultas Filsafat,
 Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tahun 1999.
 Pada tahun itu ia menerbitkan buku pertamanya yang berasal dari tugas akhir kuliah.
 Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Ia menulis cerita pendek, novel,
maupun esai di berbagai media.
Novel-novelnya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.
Eka berbagi tentang ide bahan tulisan untuk para calon penulis sebagai berikut:
Adalah seorang putri bernama Syahrazad yang menyerahkan dirinya untuk dinikahi sang raja lalim bernama Syahrial. Sang putri melakukan itu untuk menghindari kurban lebih banyak, sebab sang raja selalu membunuh pengantinnya selepas melewati malam pertama. Tapi dengan cara apa Syahrazad sendiri menyelamatkan nyawanya? Jawabannya: dengan bercerita. Setiap malam, Syahrazad menceritakan sederet kisah yang akan digantung ketika fajar menjelang. Sang raja akhirnya tak pernah memenggal kepada sang putri, sebab ia selalu ingin mendengar lanjutan kisah yang diceritakan Syahrazad, begitu pula besok paginya, dan besoknya, dan besoknya. Sekarang kita menyebut dongeng tersebut sebagai Kisah Seribu Satu Malam.

Sesungguhnya kita adalah pewaris Syahrazad. Tugas utama kita sebagai penulis cerita, sebagaimana Syahrazad, adalah memastikan bahwa pembaca kita akan terus mengikuti dongeng dari awal hingga akhir, atau kepala kita dipenggal sebagai taruhannya.
Selama bertahun-tahun saya mencoba menulis dan menjadi Syahrazad. Seperti sebagian besar yang lain, saya mencoba puisi, karena saya pikir lebih pendek dan lebih gampang. Belakangan saya tahu puisi tidaklah gampang, dan saya segera meninggalkannya. Lagipula saya ingin menulis cerita. Saya melirik cerita pendek, sebelum punya keberanian untuk membayangkan menulis sebuah novel.
Dan menulis cerita ternyata juga bukan perkara gampang. Saya tak tahu apa yang akan diceritakan. Saya membaca majalah dan mencoba mencari tahu apa yang mereka ceritakan. Setelah membaca lebih banyak cerita, saya mulai bisa membayangkan apa yang bisa saya ceritakan. Saya mulai menuliskannya. Tapi setelah selesai ditulis, saya baru menyadari, tulisan saya tak lebih dari ulangan dari satu atau dua cerita yang pernah saya baca. Memang tidak menjillak, tapi karena segalanya diambil dari tulisan orang lain, cerita itu segera jadi terasa basi.
Maka saya mulai berpikir tentang sesuatu yang, katakanlah, orisinil. Istilah ini sendiri sebenarnya membingungkan. Mungkin lebih baik kita sebut pura-pura orisinil. Saya mulai meninggalkan cerita-cerita di majalah, sebab saya tak ingin nanti kembali terpengaruh. Saya mencoba menjalankan nasihat-nasihat lama yang mengatakan, sumber cerita sejati adalah kehidupan ini sendiri. Saya mulai menjadi pengamat amatir. Saya memperhatikan ibu memasak di dapur, ayam jago berkokok di pagi hari, orang-orang pergi ke pasar, nenek mengantarkan rantang untuk kakek di sawah. Segala yang bisa saya lihat dan dengar saya perhatikan betul.
Tiba-tiba saya menyadari ada begitu banyak hal yang mungkin belum diceritakan orang. Begitu melimpah. Harap diingat waktu itu saya masih membaca majalah remaja, dengan cerita-cerita tentang anak sekolah jatuh cinta, bolos sekolah, berkelahi di toilet, atau bu guru yang judes. Kenapa harus menceritakan hal begitu terus-menerus? Lihat, kita bisa menceritakan ayah yang doyan pakai sarung, paman yang pergi menengok air di pagi buta, dukun beranak yang siap sedia setiap waktu, atau tukang reparasi arloji di ujung pasar.
Saya mulai memilih objek yang saya pikir paling unik, dan saya merasa ituorisinil. Saya merasa bahagia karena menemukan satu objek cerita yang belum pernah saya lihat ditulis orang lain. Segera saya ambil kertas dan mesin tik, dan mulai menulis. Begitu semangat, hingga segalanya berakhir menjelang akhir halaman pertama. Saya bingung, apalagi yang harus saya tulis? Saya mencoba berpikir lebih keras, tapi tak ada ide baru untuk melanjutkan cerita tersebut. Setelah lelah berpikir, kemudian saya mulai meragukan kehebatan objek cerita saya. Lama-kelamaan mulai tampak terlihat jelek. Saya menggulungnya dan segera membuangnya ke tempat sampah. Saya beralih ke objek lain, yang saya pikir lebih unik dan orisinil, tapi selalu menemui jalan buntu di paragraf menjelang akhir halaman pertama. Saya selalu tak tahu setelah menceritakan beberapa bagian, apalagi yang mesti saya ceritakan. Dalam kasus Syahrazad, seharusnya saya sudah dipenggal.
Setelah beberapa kali menyerah, saya kembali ke cerita-cerita yang ditulis orang lain. Saya kembali membaca mereka, kali ini bukan untuk tahu apa yang mereka ceritakan, tapi bagaimananya mereka menceritakannya. Satu cerita saya bandingkan dengan cerita lainnya. Saya mulai meraba-raba dan mulai merasa menemukan resepnya. Hmm, sesungguhnya semua cerita ternyata memiliki sturktur seperti sandiwara tiga babak di sekolah. Pertama, mesti ada masalah. Kedua, dari masalah kemudian datang konflik. Ketiga, setelah konflik mestinya ada penyelesaian. Belakangan saya baru tahu itu rumus yang sudah klasik, sudah dipikirkan sejak zaman Aristoteles!
Setelah merasa tahu, kini saya mengamati sekeliling saya dengan cara yang berbeda. Saya tak lagi mencoba melihat keunikan dan keorisinilan segala sesuatu. Saya mulai mencoba melihatnya sebagai suatu masalah. Ayam jago berkokok di pagi hari, apa masalahnya? Senja berwarna jingga, apa masalahnya? Saya kembali ke mesin tik setelah memperoleh beberapa masalah, yang saya pikir sangat menarik untuk diceritakan. Kali ini saya tak lagi memperoleh writer’s block, atau kemacetan, sebab setelah membeberkan segala masalah, saya tahu harus segera masuk ke konflik. Semua masalah pasti menimbulkan konflik! Dan kalau konfliknya sudah terpikirkan, tinggal mencari penyelesaiannya. Ah, kali ini menulis cerita tampak menjadi lebih gampang. Saya bisa menulis beberapa cerita, dari awal sampai akhir.
Tapi oh, ketika saya membacanya lagi, kembali saya menemukan fakta menyedihkan ini: cerita saya memang jalan, tapi tetap tak menarik. Ceritanya mungkin mudah ditebak. Atau kadang-kadang melelahkan, membosankan, menyebalkan. Tepatnya, sebagai penulisnya sendiri, cerita-cerita saya tak ada menariknya. Padahal saya sudah menulis berdasarkan resep yang benar, kan? Putus asa saya kembali ke cerita-cerita yang sudah ditulis orang lain, yang menurut saya berhasil dan asyik sebagai cerita. Saya mencoba mencari tahu, apa yang membuat mereka menarik. Objek cerita mereka kadang sederhana, masalahnya juga seringkali biasa saja, tapi kenapa ceritanya bisa menarik dibaca. Pasti ada resep-resep lain, pikir saya.
Begitulah, di luar semua itu, saya menemukan hal-hal lainnya. Saya menemukan di beberapa cerita, bahasanya memang begitu bagus. Kalimat-kalimat mereka demikian jernih. Peristiwa-peristiwa yang ditulis sangat terpilih. Karakter-karakter tokohnya mengagetkan. Semua itu membuat saya longsor dan menyadari, betapa masih panjang jalan yang harus saya tempuh untuk menaklukan seni menulis.
Saya juga kembali mengamati sekitar. Melihat bagaimana ayah makan, sebab cara makan ayah berbeda dengan ibu. Cara bicara penjual di pasar berbeda dengan cara bicara pak polisi. Saya belajar nama-nama binatang, nama-nama bunga. Saya belajar sejarah, filsafat, psikologi, antropologi, fisika, kimia. Tentu saja saya juga kembali ke karya-karya yang telah memperkenalkan saya dengan seni menulis ini. Saya belajar bagaimana Franz Kafka membuat kalimat pertama dalam novel-novelnya. Saya belajar bagaimana Gabriel Garcia Marquez membangun struktur novelnya, sebagaimana mencari tahu bagaimana Ernest Hemingway menyusun kalimat-kalimatnya.
Kini saya beranggapan, menulis cerita, dan kemudian menemukan dari mana cerita berawal, adalah suatu benturan tak ada henti dari apa yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, dan apa-apa yang telah diajarkan oleh para penulis terdahulu dalam karya-karya mereka. Dengan kata lain, bagi para pewaris Syahrazad, mengetahui sebanyak-banyaknya hal dalam kehidupan ini sama penting dengan terus membaca karya-karya terbaik yang telah dituliskan untuk kita.

Share:

Monday, 25 April 2016

KH Wahid Hasyim: Ayahanda Gus Dur

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) yang di lahirkan pada Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Ayahandanya semula memberinya nama Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya. Namun, namanya kemudian diganti menjadi Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Dia anak kelima dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.

KH A. Wahid Hasyim adalah pribadi yang cerdas dan lihai dalam berpidato.Terutama sekali karena pidatonya selalu didukung dan dilengkapi dengan tema-tema yang disitir dari salah berbagai buku. Tentu tiada kesulitan bagi KH A. Wahid Hasyim untuk mencari referensi, karena KH A. Wahid Hasyim menguasai bahasa Arab, Belanda dan Inggris sebagai kunci utama dalam penguasaan buku-buku ilmiah saat itu.

Semenjak tahun 1939 KH. A Wahid Hasyim dipercaya menjabat sebagai Ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi NU, Muhammadiyah,PSII, PII, Al-Irsyad, Persis. Sehubungan dengan jabatannya di MIAI, KH A.Wahid Hasyim juga kemudian duduk pula dalam kepemimpinan Presidium Korindo (Kongres rakyat Indonesia), sebuah proyek perjuangan bersama GAPI (Gabungan Partai Politik Indonesia).

Para anggota MIAI adalah tokoh-tokoh top Indonesia seperti Abikusno Cokrosuyoso, Dr.Sukiman, Wondoamiseno, KH Mas Mansur, KH Abdul Kahar Muzakkir, Umar Habaisy, Muhammad Natsir, dan lain-lain.

Kedudukan Ketua MIAI ini dengan sendirinya menempatkan KH A.Wahid Hasyim sebagai pejuang politik menghadapi penjajahan.

Akan tetapi tatkala zaman pendudukan Jepang, kelompok MIAI bubar. Kemudian atas prakarsa KH A. Wahid Hasyim MIAI menjelma menjadi ”Majelis Syuro Muslimin Indonesia” (Masyumi). Melalui Masyumi ini, terbentukalah badan Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa, dekat Cibinong Bogor, Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dan penerbitan Majalah ”Suara Muslimin” yang mula-mula dipimpin oleh KH Saifuddin Zuhri dan kemudian beralih ke tangan Harsono Cokroaminoto.    

Selama zaman kependudukan Jepang KH A. Wahid Hasyim merupakan tokoh sentraldi kalangan Umat Islam. KH A. Wahid Hasyim juga menjabat sebagai anggota Chuuo Sangi In yakni semacam DPR ala Jepang. Dengan jabatan tersebut KH A. Wahid Hasyim dapat menyakinkan tentara Jepang untuk mendirikan sebuah badan yang menghimpun kalangan ulama. Maka terbentuklah Badan yang bernama Shumubu, yaitu Badan Urusan Agama Islam yang susunannya terdir idari: KH. Hasyim Asy’ari selaku Ketua, KH. Abdul Kahar Muzakir selaku Wakil Ketua dan KH A. Wahid Hasyim selaku Wakil Ketua.

Oleh karena KH HasyimAsy’ari tidak dapat aktif karena memangku Pesantren Tebuireng, maka jabatan ketua sehari-hari dipegang oleh KH A. Wahid Hasyim. Badan inilah yang menjelma menjadi Departemen Agama (setelah proklamasi 17 Agustus 1945)Taktik politik yang dijalani KH A Wahid Hasyim di zaman Jepang ialah, mengambil unsur kekuasaan Jepang yang Positif bagi perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. ”Kerja sama” dengan Jepang (pada tingkatan pertama) dipandang perlu sebab bangsa Indonesia yang tidak mempunyai kekuatan politik (kekuasaan ) di zaman Belanda tidak akan sanggup menghadapi kekuatan Militer Jepang yang tengah berada di puncak kemenangan. Kezaliman-kezaliman pemerintahan Jepang kepada bangsa Indonesia, oleh KH A. Wahid Hasyim,dijadikan pupuk keyakinan bagi rakyat, bahwa sesuai dengan Al-Qur’an segalayang batil pasti akan sirna, kezaliman tak pernah mengalami kemenangan yang panjang.

Masa perang kemerdekaan antara tahun 1945-1950 menyebabkan KH A. Wahid Hasyim menyibukakan diri dalam gejolak revolusi. Meskipun sebagian besar waktunya dicurahkan kepada soal politik dan pertahanan, seperti dua kali menghadapi agresi Belanda atas Republik Indonesia dan kemelut politik yang penuh pertentangan di masyarakat, namun KH A.Wahid Hasyim tetap menjalin hubungan erat dengan para ulama dan dunia pesantren.

Wafat dalam usia belum 40 tahun menyebabkan dunia Ulama dan Pesantren menjerit dan meratap. Kaum politik dan masyarakat baik tua maupun muda merasa kehilangan yang besar. Yang patah akan tumbuh akan tetapi bukan lagi A. Wahid Hasyim. Abdul

Wahid hasyim hanya ada satu dalam sejarah ummat manuasia. Namun sekalipun sudah wafat, namanya harum tidak pernah akan mati.

Baca selengkapnya...
Share:

10 Fakta Menarik Tentang Tubuh Wanita

Menjadi wanita, adalah hal paling menyenangkan di dunia. Bersyukurlah telah terlahir ke dunia sebagai wanita, dunia tidak akan lengkap tanpa adanya wanita.
Kelemahlembutan, senyuman yang manis dan bersahaja, kerlingan mata, serta sifat yang manja, membuat dunia ini jauh lebih ramah dan lembut.
Dikenal sebagai makhluk yang indah, wanita punya keunikan sendiri yang terpancar lewat tubuhnya. Sudah tahukah Anda 10 fakta unik tentang tubuh Anda sendiri seperti dilansir glam.com berikut ini?
Fakta Wanita 1.
Klitoris adalah satu-satunya bagian tubuh wanita yang didesain hanya untuk mengalami rangsangan dan kenikmatan seksual, tanpa memiliki fungsi lainnya. Klitoris terdiri dari ratusan bahkan ribuan sel syaraf, dan jumlahnya dua kali lipat dibandingkan yang ada di dalam mr. P.
Fakta Wanita 2.
Selaput dara adalah membran tipis yang menutupi bagian miss V wanita. Selaput dara ini tidak hanya bisa robek karena hubungan seksual, namun juga karena jatuh, atau gerakan yang sangat ekstrim.
Mengapa pada saat malam pertama tidak selalu mengeluarkan darah?
Selaput dara yang robek kerap ditandai dengan adanya darah, namun selaput dara juga bisa elastis sehingga tidak akan terjadi perdarahan dalam penetrasi. Ilmuwan menyatakan bahwa selaput dara bukanlah tanda keperawanan yang mutlak, karena ia bisa robek dengan tanpa disebabkan penetrasi sekalipun.
Fakta Wanita 3.
Ternyata hamil itu tidak mudah ditentukan. Sekalipun seseorang berhubungan intim nyaris setiap hari, bila Anda tak tahu kapan hari tepat berovulasi, maka kecil kemungkinan sperma dapat membuahi sel telur. Menghitung hari kesuburan wanita, juga tidak dimulai dari hari terakhir haid, melainkan dari hari pertama menstruasi dimulai.
Fakta Wanita 4.
Rahim wanita sangatlah elastis. Saat tidak hamil, rahim berukuran kecil, setidaknya tiga inci. Namun, ketika sedang hamil, tepi luar rahim bisa mencapai tepi bawah tulang rusuk saat membawa janin di dalamnya.
Fakta Wanita 5.
Uniknya tubuh wanita adalah kemampuan menciptakan susu atau disebut juga Air Susu Ibu. Pria tidak bisa melakukan hal ini karena tubuhnya tidak dilengkapi dengan kelenjar susu. Kemampuan menyusui seorang wanita tidak ditentukan oleh ukuran payudara, karena sekalipun payudara berukuran kecil, tetap saja bisa menghasilkan ASI.
Fakta Wanita 6.
Wanita memiliki kemampuan mendengar yang berbeda dibandingkan pria. Menurut penelitian yang dilakukan Indiana University School of Medicine, pria hanya dapat mendengarkan dengan satu sisi otak saja, sedangkan wanita menggunakan keduanya. Inilah mengapa wanita disebut sebagai sosok pendengar yang jauh lebih baik ketimbang pria.
Fakta Wanita 7.

Di dalam tubuh wanita, bagian usus besarnya cenderung lebih panjang ketimbang pria. Hal ini diprediksi yang juga menyebabkan wanita jadi lebih mudah gemuk ketimbang pria. Wanita yang ingin berat badannya turun haruslah melakukan 1-2 kali pembuangan air besar setiap harinya.
Fakta Wanita 8.
Rambut kemaluan wanita akan tumbuh lebih panjang di saat musim dingin. Mereka kemudian tidak bertambah lebih panjang lagi karena cenderung akan mati dan rontok setelah tiga minggu lamanya.
Fakta Wanita 9.
Di musim panas, gairah wanita jauh lebih meningkat. Penulis sains Patricia Barnes, mengatakan bahwa wanita mudah sekali terangsang oleh wewangian seperti lavender, mawar dan mint yang akan membawa keluar perasaan manis dan meningkatkan libido seksual.
Fakta Wanita 10.
Bicara soal garis keturunan, secara ajaib DNA dari nenek moyang Anda akan terbawa terus menerus hingga setiap keturunan Anda. DNA ini selain merupakan identitas juga membawa beberapa hal yang bisa diturunkan secara genetik.
Hmm... ternyata sekalipun menjadi wanita bukan berarti semua hal sudah Anda ketahui ya. Mari tingkatkan pengetahuan terhadap diri Anda sehingga bisa memaksimalkan kecantikan dan kesehatan Anda.


Share: