Berbagi Sebening Hati

Wednesday, 1 June 2016

Bila Anak Anda Jadi Korban Kekerasan Seksual



Sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan, atau lelaki sekalipun, sekarang ini bisa jadi sering merasa cemas dan khawatir kalau suatu saat anak kita menjadi korban kekerasan seksual. Baik sekedar berupa pelecehan, maupun – Na’udzubillah, pemerkosaan yang diakhiri dengan  penghilangan nyawa korban. Apalagi di media – televisi dan koran, saban hari selalu saja ada pemberitaan terkait tindak kejahatan yang satu ini.

Kejahatan dalam mengumbar nafsu berahi tidak hanya dilakukan oleh mereka yang memang telah memiliki stigma buruk dalam hidup kesehariannya, orang yang di mata masyarakat sebagai sosok panutan, atau keluarga dekat sekalipun suatu saat tanpa disangka-sangka bisa saja berubah menjadi seorang maniak yang membabi-buta mengumbar nafsu syahwatnya dengan cara sadis dan di luar kewajaran.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di daerah saya, seorang ibu dari kampung sebelah melaporkan kejadian yang menimpa anak gadisnya pada polisi. Berdasarkan pengaduannya, anak gadisnya telah dijadikan ‘model’ video esek-esek dengan cara-cara yang biadab oleh teman-teman prianya. Dan video itu belakangan ini telah beredar luas melalui telpon seluler (HP).

Konon setelah dilakukan penyidikan oleh pihak yang berwajib, ABG siswi sebuah SMA itu selama ini menjalin hubungan khusus dengan teman satu sekolahnya. Keduanya berpacaran sampai suatu saat terjadilah hubungan intim di tempat teman prianya itu.

Tanpa dinyana, hubungan intim ABG berlainan jenis itu ternyata diabadikan melalui HP oleh beberapa orang teman prianya tanpa diketahui anak perempuan itu.dan setelah hubungan intim kedua sejoli itu selesai, teman-teman pria dari kekasih si gadis pun muncul dari persembunyiannya sambil memperlihatkan hasil rekaman yang baru saja terjadi

Betapa kagetnya si gadis, sedangkan teman prianya hanya senyam-senyum saja. Karena berdasarkan pengakuannya kemudian di depan pihak kepolisian, hal itu telah direncanakan memang bersama ‘geng’-nya itu. Dan si gadis lebih terperanjat lagi tatkala teman-teman pacarnya meminta ‘jatah’ seperti yang telah dilakukan barusan bersama pacarnya tersebut. Apabila tidak mau, mereka mengancam bahwa hasil rekaman tadi akan diedarkan.

Apa boleh buat. Dengan terpaksa si gadis pun melayani hasrat bejat mereka. Yang penting kelakuannya tidak diketahui khalayak ramai. Akan tetapi harapan si gadis tidaklah seperti yang dijanjikan semula. Belakangan rekaman itu telah beredar luas. Hingga ibu si gadis pun ahirnya mengetahuinya pula

Dari kejadian itu, ibu si gadis itu pun ahirnya mengaku kalau selama ini dirinya kurang melakukan kontrol terhadap ananknya. Dirinya kadung percaya kalau anak gadisnya dianggap sudah dewasa, dan sudah mampu menjaga diri.

Begitulah. Ragam kejahatan seperti itu tidak menutup kemungkinan bisa saja menimpa anak kita juga. apabila hal seperti itu terjadi, sebagai orang tua kita sudah tentu merasa terpukul – seperti ibu si gadis itu. Betapa nama baik keluarga pun menjadi tercoreng hitam. Apalagi kondisi masyarakat kita yang masih mudah memberi stigma buruk terhadap korban. ***

Pernah Dimuat di Kompasiana


Share: