Berbagi Sebening Hati

Tuesday, 1 March 2016

Calon Ustadz yang Berubah Haluan


Warga di kampung itu tiba-tiba menjadi heboh. Sepuluh tahun mondok di pesantren, Jang Ridwan bukannya pulang membawa peti yang berisi kitab-kitab kuning yang dipelajari seseorang yang biasanya sudah tamat belajar mengaji. Anak ini ternyata malah membawa sebuah peti besar yang berisi wayang golek. Bahkan dengan bangganya dia memaklumatkan dirinya telah berhasil lulus menjadi seorang dalang.

Yang paling terpukul dengan sikap anak ini, kedua orang tuanya tentu saja. Mereka mengantarkan anaknya ke pesantren, karena berharap agar menjadi seorang anak yang saleh. Paling tidak bisa mendo’akannya apabila telah meninggal dunia kelak. Syukur-syukur malah dapat menjadi seorang guru ngaji. Bagaimanapun seorang guru ngaji, guru agama, akan mendapat kedudukan lebih terhormat di tengah masyarakat.

Sungguh sayang seribu kali sayang. Jang Ridwan, anak semata wayangnya malah menjadi dalang. Ayah dan ibunya merasa kecewa, tentu saja.

Bagaimanapun sikap Jang Ridwan di mata keluarga maupun warga adalah sebagai sesuatu yang bertolak belakang memang. Seseorang yang yang menjadi santri di pesantren, biasanya akan pulang dengan mendapat sebutan ustaz, atawa guru agama yang di kampung itu lebih dikenal dengan sebutan ajengan. Seorang ajengan adalah sosok terhormat. Dalam bahasa Sunda, ajengan adalah kiayi yang memiliki ilmu agama yang tinggi, atawa secara harfiah bisa juga bermakna sebagai orang yang diajeng-ajeng (ditunggu-tunggu) dan dihormati. Dengan kata lain ajengan dianggap sebagai seorang penerang jalan bagi umat, dalam kehidupan di dunia ini dan kelak di akhirat. Sedangkan Jang Ridwan dianggap seolah telah mengobrak-abrik tatanan yang tertanam dalam kehidupan warga selama ini. Bahkan tak sedikit yang berbisik-bisik maupun dengan terang-terangan mengatakan kalau Jang Ridwan merupakan sosok Dajjal pembawa sial. Bagaimanapun seorang dalang berikut pertunjukan wayang goleknya dianggap sebagai penyebar kemaksiatan.

Betapa tidak. Dalam pertunjukan wayang golek yang biasanya berlangsung semalam suntuk, selain disuguhi lakon yang konon berasal dari keyakinan agama lain, juga senantiasa diiringi dengan kawih para pesinden yang melantunkan tembang kasmaran, ditambah pula dengan tingkah pesinden itu dengan menari jaipongan yang terkadang mengundang rangsang penontonnya membayangkan hal yang bukan-bukan. Ya, goyang pinggul dan kerling mata pesinden dengan dandanan menor itu seringkali dipandang sebagai pembangkit berahi lelaki.

Saya pun jadi penasaran dengan fenomena yang terjadi di kampung itu, dan suatu ketika berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Jang Ridwan. Mengorek lebih dalam motivasi calon ajengan yang malah menjadi dalang itu.

Adalah suatu kebetulan saat perayaan Agustusan, yaitu peringatan HUT kemerdekaan RI tahun lalu, remaja Karang Taruna kampung Margaluyu, desa Sukamaju, kecamatan Pagerageung, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat,  menggelar pertunjukan wayang golek dengan dalang salah satu anggota Karang Taruna itu sendiri, yaitu Jang Ridwan, atawa lengkapnya Muhammad Ridwan itu.

Dengan panjang lebar Jang Ridwan pun menjelaskan, saat menjadi santri dirinya biasa berziarah ke makam para Wali.  Bahwa menurut sahibu hikayat, pertunjukan wayang golek pertama kali digelar oleh para Wali yang dinamakan Walisanga. Tujuannya tidak lain merupakan upaya mereka dalam rangka menyebarkan syiar agama Islam di tengah penduduk Jawa, khususnya di tatar Sunda yang kala itu masih menganut agama lain.

Dengan dakwah melalui pendekatan seni budaya pertunjukan wayang golek itu pula warga tatar Sunda menjadi tertarik untuk berpindah keyakinannya, menjadi penganut agama Islam seperti yang kita saksikan sekarang.

Oleh karena itu, menurut keyakinan Jang Ridwan, apa salahnya kalau dirinya mengikuti jejak para pendahulunya, para Wali itu, berdakwah dengan wayang golek sebagai sarananya. Apa lagi kondisi masyarakat sekarang ini, dianggap Jang Ridwan membutuhkan sebuah pendekatan yang berbeda dari biasanya. Tidak hanya  dakwah yang berbentuk khotbah, orasi,  atawa pidato yang acapkali membuat pendengarnya jenuh. Dan menganggapnya suatu hal yang membosankan.

Disebutkannya kreasi dakwah melalui pertunjukan seni wayang golek telah dirintis oleh mendiang Asep Sunandar Sunarya, salah seorang dalang wayang golek terkenal di Jawa Barat, yang juga dianggap sebagai sosok yang mengilhami dirinya.

Akan halnya ada anggapan pertunjukan wayang golek dekat dengan maksiat, anak itu dengan bijak mengelak. sebab hal itu tergantung dari sudut mana memandangnya. Menurut keyakinannya semuanya kembali lagi kepada niat. Malah justru sebaliknya, melalui pertunjukan wayang golek pula, Jang Ridwan punya niat untuk merubah stigma yang berkembang di tengah masyarakat. Dia berharap dengan cara itu dakwahnya dapat diterima oleh semua kalangan. Baik mereka yang mengaku dirinya sebagai umat yang taat beribadat, maupun orang yang telah dicap sebagi penjahat.

“Selain itu, niat saya yang sudah bulat ini, paling tidak untuk melestarikan kebudayaan tradisional yang sekarang ini telah hampir dilupakan,” cetusnya dengan wajah sumringah.

Mendengar panjang lebar penuturan Jang Ridwan, terutama pada kalimat terahirnya, sungguh saya jadi malu sendiri. Sekarang ini jarang sekali mendengar orang yang merasa bangga dengan warisan leluhurnya. Mereka malah lebih tertarik dengan kebudayaan yang datang dari luar, padahal belum tentu sesuai dengan kepribadiannya.



Sungguh. Saya malu sekali dengan anak muda yang satu ini. ***

Postingan ini menjadi pemenang lomba Blog Figur Inspiratif di: https://indonesiana.tempo.co/lomba/figur-inspiratif/pemenang
dan menjadi headline di: http://www.kompasiana.com/arsudradjat/calon-ustadz-yang-berubah-haluan_56b93ce38e7a6163048b4570
Share: