Berbagi Sebening Hati

Tuesday, 1 March 2016

Ustadz dan Proposal


Sebuah Avanza hitam berhenti tepat di depan warung kopi. Semua mata di dalam warung pun langsung mengarah pada mobil itu. Ketika kaca pintu di samping pengemudi terbuka, hampir serempak mereka mengucap salam.

Assalamu’alaikum, Pak Ustadz...”

Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh... Masih pada begadang nih ?” sahut pengemudi yang ternyata Ustadz Salim, pimpinan pondok pesantren di kampung kami.

“Iya, Pak Ustadz. Sekalian siskamling. Supaya kampung kita aman, tidak kemasukan maling,” kata Mang Udin sambil tertawa. “Habis dari mana malam-malam begini,Pak Ustadz. Apa tidak ngopi bareng dulu ?”

“Biasa, dari pengajian di masjid DKM Al Ikhlas,” jawab ustadz sambil tangannya tak hemti mengusap-usap pintu mobilnya. “Terima kasih. Sudah malam. Lain kali saja.”

Ustadz Salim menyalakan mobilnya. Lalu pamitan sebelum berjalan. Ketika Ustadz  dan mobilnya ditelan tikungan, suasana di warung pun ramai kembali. Dan kali ini justru Ustadz yang baru saja lewat tadi dijadikan bahan gunjingan.

“Hebat ya ustadz kita itu. dalam satu tahun ini sudah tiga kali ganti kendaraan. Pertama dia membeli sedan tua. Tak lama kemudian sedan itu dijualnya. Lalu diganti dengan mobil Kijang. Eh, sekarang sudah diganti lagi dengan Avanza...” Mang Udin ternyata yang memulainya.

“Itu artinya ustadz Salim termasuk orang yang sukses, Mang!” kata pemilik warung.

“Tapi selama ini kita semua tahu. Ustadz itu tidak punya pekerjaan lain selain mengajar ngaji para santri, dan memberi tausyiah di majelis taklim saja. Di luar itu paling menggarap sawah wakaf yang luasnya tidak seberapa. Hasil panennya pun hanya cukup untuk makan sekeluarga sampai musim panen berikutnya.”

“Siapa tahu setiap menerima infaq, shodaqoh, dan zakat selalu ditabungkannya.”

“Bisa jadi begitu. Tapi kabar angin yang aku dengar, karena  ustadz kita itu  belakangan ini sering mengirim proposal ke Pemda, dan Kantor Kemeterian Agama. Bukankah pondok pesantrennya yang santrinya anak-anak kampung kita saja, dan tak pernah mondok karena memang belum ada pondoknya itu sudah berbentuk yayasan...”

“Memangnya kenapa kalau sudah jadi sebuah yayasan ?”

“Katanya sih, kalau sudah berbentuk yayasan, maka akan gampang untuk dapat bantuan.”

“Masak pemerintah mau memberi bantuan untuk membeli kendaraan pribadi. Ah, yang benar saja, Mang ?”

“Memang sih, masih katanya, dalam proposal itu dicantumkan permintaan bantuan untuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan misalnya, atawa ada pula untuk sarana keagamaan.”

“Tapi mengapa kenyataannya malah digunakan untuk membeli mobil ?”

“Entahlah... Eh, tapi kendaraan pun setidaknya menjadi penunjang ustadz kita itu untuk berdakwah.”


“Tapi di proposalnya tidak tercantum untuk membeli kendaraan ‘kan ?!” ***

Selengkapnya: http://www.kompasiana.com/arsudradjat/ustadz-dan-proposal_56bb703d23afbd890bc66e2d
Share: