Berbagi Sebening Hati

Monday, 30 May 2016

Karena Tak Ada Lagi Cinta di Hatinya



"Jangan katakan lagi I love you,  dan segala tetek-bengeknya. Mendingan kita nikmati malam indah ini dengan bersenang-senang,” kata perempuan muda itu sambil mengedikkan bahunya, kemudian menjentikkan abu rokok di tangannya pada asbak di atas meja.

“Tapi sungguh, Vey, aku terlanjur menyayangimu…” kata lelaki setengah tua itu dengan suara yang sedikit parau.

“Kalau memang abang sayang sama Vey, ya terima kasih. Berarti abang mau menuruti segala permintaanku,” kata perempuan itu sambil mengerling manja.

Kemudian tangan kirinya meraih gelas yang isinya tinggal setengahnya. Wine berwarna merah dalam gelas itu perlahan diminumnya hingga tandas. Sambil kembali meletakkan gelas yang telah kosong, bibir yang bergincu merah itu dijilati dengan lidahnya.  Sementara lelaki setengah baya itu meraih botol wine, kemudian menuangkan isinya ke dalam gelas milik Vey.

“Ya dengan atas nama cinta dan sayangku padamu, aku akan menuruti segala keinginanmu…”

Belum tuntas lelaki itu bicara, telunjuk tangan Vey ditempelkan di bibirnya.

 “Sssttt… Lagi-lagi cinta. Sudahlah jangan katakan lagi cinta. Aku sudah muak mendengarnya. Malam ini berapa abang sanggup membayarku untuk menemanimu ?” bisik Vey di telinga lelaki setengah tua itu.

Tanpa menunggu lagi lelaki setengah baya itu mengambil dompet dari saku belakang celananya. Kemudian dompet yang cukup tebal itu diletakkannya di atas meja,

“Ambillah seluruh isinya. Bahkan kalau perlu seluruh kartu ATMnya pun boleh kamu ambil pula,” katanya sambil menyeringai.
Sementara telunjuknya mencolek pipi Vey yang memerah oleh pulasan bedak, dan efek dari wine yang telah dua gelas dihabiskannya.

“Serius nih ? Tapi nggaklah… Berilah aku seperti biasanya saja,” kata Vey sambil bangkit dari kursi. Lalu beranjak menghampiri lelaki setengah tua itu. Dengan manjanya Vey duduk dipangkuan lelaki setengah tua itu.

***
Alunan musik dangdut memenuhi ruangan itu. Di kursi tampak Vey duduk seorang diri sambil mematut-matut riasan wajahnya pada cermin kecil yang dipegang sebelah tangannya lagi. Dan sebentar-sebentar matanya berpaling ke arah pintu yang tertutup.

Tiba-tiba handphone di tasnya berdering. Vey meletakkan cermin di atas meja. Lalu meraih handphonenya dari dalam tas yang tergeletak di sampingnya.

Sebuah SMS diterimanya. “Sayang, aku lagi di jalan…” Begitu pesan yang dibacanya. Lalu Vey mengetik balasan pada nomor itu, “ Yupz, aku sudah menunggu.”

Hari ini Vey ada janji. Dengan pria langganan lamanya, yang biasa merangkap tukang ojek. Vey minta diantar untuk pergi ke orang pintar yang biasa dipanggilnya “Eyang”.
 
Vey ingin Eyang menambah aura kecantikannya agar lelaki setengah tua yang sudah beberapa kali menemuinya itu semakin menyayanginya. Sehingga dengan demikian dirinya akan semakin mudah untuk mendapatkan lembaran uang dari lelaki setengah tua itu. Dan yang paling penting, Vey tidak perlu repot-repot lagi melayani lelaki tua itu di atas ranjang. Kalau memang lelaki setengah tua itu betul-betul mencintai dirinya, tokh dirinya bisa berkelit dengan segala macam alasan.

“Kalau memang abang mencintaiku, nanti pun buat siapa lagi diriku ini kalau bukan untuk abang seorang,” Vey mereka-reka.

***
Semakin hari hubungan Vey dengan lelaki setengah tua pemilik bengkel sepeda motor itu semakin dekat saja. Dan memang lelaki setengah tua yang sudah memiliki isteri dua orang itu merasakan semakin mencintai Vey. Sehingga segala permintaan Vey selalu dipenuhinya. Mulai dari kebutuhan sebagaimana biasanya perempuan untuk mempercantik penampilannya, untuk kebutuhan sehari-hari Vey bersama tiga orang anaknya, bahkan sebuah sepeda motor matik pun yang diminta Vey dibelikannya. Dengan begitu mudahnya. Hanya dengan mengatakan, “Masa setiap kali untuk menemui abang, Vey harus minta diantar tukang ojek. Bagaimana kalau nanti tukang ojek itu bikin gossip, bisa-bisa hubungan kita ini didengar isteri abang,” katanya di suatu ketika.
Setelah memiliki sepeda motor, Vey semakin leluasa pergi kemana ia suka. Terutama untuk mencari pria lain yang tebal dompetnya, tentu saja.

***
“Jangan katakana cinta, aku sudah muak mendengarnya. Lebih baik kita nikmati saja malam ini sesuka kita berdua, “ bisik Vey kepada seorang lelaki yang kesekian orang yang menjadi mangsanya.

 “Berilah aku uang, aku akan berikan kehangatan buat abang seorang.” ***


Share: