Berbagi Sebening Hati

Monday, 2 May 2016

Awal Mula Munculnya Partai Komunis di Indonesia


Belakangan ini di negeri kita sedang ramai diperbincangkan mengenai munculnya tuntutan agar Presiden Jokowi menyampaikan permintaan maap kepada korban pelanggaran Ham pasca-1965. Tuntutan itu muncul dari kelompok pegiat hak asasi manusia, termasuk juga lembaga Komnas HAM. Bahkan baru-baru ini telah diselenggarakan sebuah simposium terkait hal itu.

Tragedi yang bermula dengan peristiwa pembantaian tujuh perwira TNI-AD, yakni enam perwira tinggi dan satu perwira pertama itu selama ini dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September, dan di belakangnya selalu ditambah dengan tulisan PKI (Partai Komunis Indonesia).

Sejarah Orde Baru menulis apabila peristiwa tersebut memang terkait dengan PKI yang selama awal kemerdekaan negara ini sampai tumbangnya rezim Orde Lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dilegalkan di Indonesia. Bahkan termasuk parpol yang memiliki basis massa lumayan banyak.

Terlepas dari pro dan kontra tuntutan permintaan maap pemerintah terhadap para korban pasca peristiwa G30S/PKI itu, penulis mencoba mencari tahu awal mula munculnya partai politik yang sejak rezim Orde Baru sampai sekarang dinyatakan terlarang itu.


Awal mula terbentuknya PKI  tak bisa dipisah dari untaian Sarekat Islam (SI) dan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Sedikit banyak rekam jejak Sarekat Islam sudah diulas dalam serial sebelumnya. Kini, giliran ISDV... 

Majalah De Indier, pimpinan Dr. Tjipto Mangunkusumo edisi Mei 1914 memuat berita lahirnya ISDV. Berikut cuplikannya: 

Dengan dipersiapkan terlebih dahulu oleh Tuan Reeser, seorang pemuda dari kaum sosial demokrat Hindia, pada hari Sabtu tanggal 9 Mei 1914 telah berlangsung di Gedung Marine Surabaya, rapat pertama kaum sosial demokrat Hindia di mana dihadiri oleh lebih dari 30 orang, sementara yang bertempat tinggal jauh mengirimkan telegram dan surat persetujuannya.

Sejak lahir, ISDV merumuskan 8 pasal programnya; 
1. Memperjuangkan kemerdekaan atas kehancuran kapitalisme. Kaum buruh dan tani karena senasib harus bersatu melawan.
2. Mempersatukan rakyat, buruh dan tani segala bangsa dan agama atas dasar perjuangan kelas. 
3. Mendidik rakyat dengan pengetahuan sosialisme.
4. Membangun koperasi untuk kaum tani.
5. Membangun serikat-serikat buruh.
6. Menerbitkan surat kabar-surat kabar.
7. Menyiarkan buku-buku sosialisme.
8. Turut memilih dalam pembentukan badan-badan perwakilan dan berjuang dalam badan-badan perwakilan ini.

"Dengan program 8 pasal tersebut, ISDV berusaha mengadakan persatuan dengan Sarekat Islam, Budi Utomo dan Indische Party," tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965)

Usaha ISDV membuahkkan hasil. Para jurnalis dari kelompok-kelompok tersebut bersatu membangun Inlandse Journalisten Bond (IJB) pada 1914. Sekadar catatan, masa itu sebuah organisasi normlanya punya surat kabar. 

Dalam kepemimpinan IJB, terdapat nama Dr. Tjipto Mangunkusumo dari Indische Party, Agus Salim dari Sarekat Islam, dan Marco dari ISDV.
Nama Tjiptomangunkusumo dan Haji Agus Salim cukup familiar. Bagaimana dengan Marco dari ISDV? 

Si Tajam Pena
Nama panjangnya Marco Kartodikromo. Bila Anda googling nama tersebut, maka akan didapat informasi bahwa dia adalah jurnalis dan penulis. 

Ada kisah Marco yang belum banyak diketahui orang, dan agaknya mbah gugel juga belum tahu. Khusus buat pembaca sekalian, kita akan ceritakan (sebenarnya ini rahasia)...

Marco anak nakal dari Cepu. Sangat nakal. Dia pandai main pisau. Lempar pisau memang keahliannya. Nah, suatu waktu dia dititipkan ke Tirto Adhi Soerjo, pemimpin redaksi Medan Prijaji--sekaligus pendiri Sarekat Dagang Islam, kemudian berganti Sarekat Islam (SI).

Di tangan Tirto, Marco yang tadinya si tajam pisau, berubah menjadi si tajam pena. Tirto menempahnya jadi jurnalis di Medan Prijaji. Saat Medan Prijaji digulung pemerintah Hindia Belanda, dia menulis untuk Sarotomo, korannya SI cabang Solo. Kemudian Marco menerbitkan Doenia Bergerak

Karena penanya yang tajam, tokoh IJB ini kerap keluar masuk penjara kolonial, terkena delik pers. 
Di ranah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, anak didik Tirto ini pernah menjadi pimpinan teras SI Solo, ISDV dan kemudian PKI. Dia ikut dibuang ke Boven Digul ketika meletus pemberontakan PKI 1926-1927.

Kongsi Para Jurnalis

Angin Revolusi Rusia 1917 sampai pula ke Hindia Belanda. Tjipto Mangunkusumo menaikkan tulisan Sneevliet, dedengkot ISDV tentang kemenangan Lenin dan kaum Bolshevik di surat kabar yang dipimpinnnya, De Indier

"Lonceng kemerdekaan kini terdengar di mana-mana...apakah suara lonceng kegembiraan juga sampai di kota-kota dan desa-desa negeri ini?..di sini hidup rakyat yang menghasilkan kekayaan yang telah berabad-abad mengalir ke lemari besi kaum yang berkuasa di Eropa Barat, terutama di negeri kecil yang menjalankan kekuasaan politik di sini..." --begitu cuplikan tulisan Sneevliet di De Indier, 19 Maret 1917. 

Seiring berjalan waktu, kongsi kaum pergerakan dari berbagai aliran tak lagi hanya di ranah jurnalistik. Sebab memahami bahwa organisasi hanyalah alat perlawanan, maka, tak sedikit aktivis yang rangkap organ dan rangkap jabatan.

Hal ini tercermin dalam perdebatan kubu Semaoen, Ketua SI Semarang dan kubu Hartogh, Ketua ISDV saat kongres VII ISDV di Semarang, 23 Mei 1920. 

Semaoen bersikeras merubah ISDV menjadi PKI. Sementara Hartogh menolak. Berikut cuplikan ringkas perdebatan kedua kubu tersebut, sebagaimana dilansir dari majalah ISDV, Het Vrije Woord, 25 Juni 1920: 

Semaun, Bergsma, csBanyak orang menamakan dirinya sosialis, tetapi sebetulnya mereka pengkhianat-pengkhianat sosialis. Di Hindia juga terdapat sosialis-sosialis palsu. Sosialisme palsu mematahkan kepercayaan-kepercayaan proletariat akan kemampuan dirinya sendiri dan terpaksa menggantungkan diri pada kapitalisme

HartoghSudahkah kita siap sekarang? Pergerakan sosialisme di Indonesia baru tumbuh. Masih ada orang yang merangkap keanggotaan Budi Utomo dengan ISDV dan sebagainya. Dan usul perubahan ini baru kemauan dari beberapa orang saja, belum kemauan anggota yang luas.
Pendeknya, kubu Semaoen berhasil memenangkan gagasannya. Itulah kongres terakhir ISDV, karena selanjutnya organ ini berganti nama jadi PKI.

PARTAI Komunis Indonesia lahir dari "persekawinan" Sarekat Islam (SI) dan Indische Societal Democratishe Veereniging (ISDV). Mari kita telusuri rekam jejak dua organ tersebut. Dimulai dari Sarekat Islam...

Pemimpin redaksi Medan Prijaji, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo mendirikan Sarekat Dagang Islamiah--kemudian menjadi Sarekat Dagang Islam--di Bogor, pada 1909. Tirto adalah kakek buyut dari penyanyi Dewi Yull.

"Maka R.M Tirto Adisuryo berkelilinglah seluruh Jawa tapi yang dikunjunginya hanya kota-kota besar saja. Di kota-kota besar itu masing-masing dianjurkan mendirikan Sarekat Dagang Islam. Akhirnya dia sampai di Solo," papar Dr. Moh. Hatta dalamPermulaan Pergerakan Nasional.
Apa yang diceritakan Bung Hatta berkesesuian dengan surat rahasia Residen Surakarta, F.F. van Wijk pada Gubernur Jenderal Idenburg, 11 Agustus 1912: 

Perhimpunan Sarekat Dagang Islam didirikan di sini (Solo--red) beberapa bulan yang lalu oleh redaktur kepala Medan Prijaji yang terkenal itu; Raden Mas Tirtoadisurjo. Juga di Buitenzorg sudah berdiri perhimpunan seperti itu juga pada 1909. Dalam waktu dekat jumlah anggota membengkak cepat.

Sekadar catatan, penulisan nama Tirto di atas berbeda-beda sesuai sumber rujukan literatur. 
Nama Sarekat Dagang Islam (SDI) tidak lama. Merujuk pasal I Peraturan Dasar yang disusun Tirto tanggal 9 November 1911, "Perkumpulan Sarikat Islam akan didirikan pada tiap-tiap tempat di mana terdapat anggota sekurang-kurangnya 50 orang...kalau anggotanya kurang dari 50 orang, tidak diadakan."

Setahun kemudian, persisnya 10 September 1912, Sarekat Islam dicatatkan di notaris. "Sifat perkumpulan itu disebutnya nasional demokratis. Ini berbau politik," kata Bung Hatta. 
Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dalam Naar Aanleiding van de Relletjes, menulis, "Tirto gaf de leiding over aan H. Samanhoedi van Solo. (Tirto menyerahkan kepemimpinan (SI--red) ke H. Samanhudi dari Solo."

Lima tahun lamanya Haji Samanhudi memegang tampuk kepemimpinan SI, "kemudian tersingkir sama sekali oleh Tjokroaminoto setelah ia membuat Central SI tandingan," tulis Pramudya Ananta Toer dalam Sang Pemula.

Tjokroaminoto kakek buyut penyanyi Maia Estianty. Di bawah kepemimpinannya, SI meluas. Dia tokoh legendaris SI. 

SI Merah

 Kongres SI V diadakan di Yogyakarta, 2 hingga 6 Maret (versi Semaoen 1921 dan versi Lembaga Sejarah PKI 1920. Keduanya menggunakan tanggal yang sama. Hanya beda tahun).   

Dalam kongres itu, dua kader terkemuka SI, Semaoen dan Haji Agus Salim menyusun dasar baru organisasi. Disimpulkan bahwa kapitalisme-lah pangkal bala penjajahan di lapangan kebangsaan dan perekonomian. Dan ini harus dilawan.   

Mengusung semangat yang sebetulnya sama, sama-sama melawan kapitalisme, Semaoen, Komisaris SI Daerah Jawa Tengah yang berkedudukan di Semarang, mendirikan dan terpilih menjadi ketua PKI pada 23 Mei 1920.

Ini membuat Abdul Muis, tokoh SI Bandung berang. Dia menyoal masalah rangkap keanggotaan. Maka pada Kongres SI VI, 10 Oktober 1921 di Surabaya, setelah melampui perdebatan sengit, diputuskan anggota SI yang komunis dan pro komunis keluar dari SI.

Kubu komunis tidak begitu saja menyerah. Mereka membentuk SI Merah dan mempengaruhi kongres SI 1923 di Madiun. Ratusan bendera merah bergambar palu arit bergantungan di dinding dan di meja podium. 


"Kongres ini berjalan dalam suasana ribut dan kacau, di mana podium digulingkan," tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah PKI (1920-1965).

Share: