Berbagi Sebening Hati

Saturday, 23 April 2016

Dasar-Dasar Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)

Menyadari begitu pentingnya informasi bagi seseorang, seharusnya setiap manusia memiliki akses yang cukup memadai terhadap sumber-sumber informasi. Kualitas hidup seseorang akan amat ditentukan oleh kualitas informasi apa saja yang diaksesnya. Kualitas informasi (dan juga data) merujuk kepada akurasi dan ketepatan waktu informasi itu didapatkan.
Informasi yang tidak valid, tidak benar, bahkan menyesatkan, akan berdampak pada kesalahan pengambilan “keputusan hidup” bagi seseorang dan masyarakat. Sebaliknya, dengan didukung oleh informasi dan data yang benar, akurat, dan tersedia tepat pada saat diperlukan, kehidupan masyarakat akan meningkat. Pada sisi lain, setiap orang mempunyai kebutuhan dan ketertarikan yang berbeda terhadap informasi. Seorang insinyur akan lebih tertarik untuk membaca rubrik tentang rancang bangun gedung pencakar langit. Sementara seorang juru masak justru lebih memilih bacaan tentang masakan-masakan tradisional Dayak. Oleh karena itu, ada beberapa kalangan yang membangun media komunikasi massa yang hanya diperuntukan bagi kalangan internal komunitasnya.
Penyediaan dan sirkulasi informasi yang “steril” dari kepentingan pihak-pihak tertentu, benar, jujur dan faktual, tidak tendensius serta tidak bersifat provokatif-negatif, adalah hal yang mutlak. Untuk memenuhi kebutuhan informasi yang sesuai dengan kriteria ini, diperlukan kejujuran dari semua pihak, terutama sumber-sumber dan pelaku jurnalisme. Agar kondisi ini tercapai, seluruh komponen masyarakat perlu diberdayakan (bukan diperdayai) sebagai subyek informasi; penyedia informasi, pengolah dan pengguna informasi, sehingga berlaku idealisme demokrasi media: dari warga masyarakat, oleh warga masyarakat, dan untuk warga masyarakat. Pada poin penting inilah, keberadaan citizen reporter atau pewarta warga menjadi amat fundamental. Setiap orang difungsikan dan memfungsikan diri sebagai pemberi informasi yang sekaligus juga pengguna informasi itu sendiri. Warga masyarakat tidak lagi sebagai konsumen informasi belaka, tetapi juga sebagai penyedia informasi (produsen info) bagi orang lain.
Orang mungkin bertanya, bagaimana itu bisa terjadi? Mampukah warga masyarakat biasa menghasilkan sebuah tulisan yang memenuhi standar jurnalistik yang baku? Bagaimana pula mengontrol peredaran informasi yang mungkin saja bisa simpang-siur karena banyak pihak yang memberitakan sesuatu dengan versinya masing-masing? Bagaimana dengan validitas dan pertanggungjawaban informasi yang diberikan oleh seorang citizen reporter? Dan pertanyaan lanjutan lainnya.
Pewarta warga tidaklah dimaksudkan untuk membuat segalanya bebas tak terhalang apapun dalam mengekspresikan informasi yang dimiliki. Namun sistim ini lebih bertujuan untuk memberikan akses sepada masyarakat biasa, bukan profesional, kepada media massa dari mulai pencarian informasi, penyajian, hingga kepada penggunaannya. Oleh karena itu, dalam pengelolaannya, setiap individu memikul beban tanggung jawab terhadap semua informasi yang dimiliki dan dibagikannya melalui tulisan di media massa. Dalam tanggung jawab tersebut terkandung tugas-tugas untuk menghasilkan tulisan yang benar, jujur, informatif, serta bermanfaat bagi orang banyak. Para pekerja pers mengetahui prinsip ini: “suatu tulisan disebut berita jika ia memenuhi syarat kebermanfaatan bagi masyarakat”.
Menghasilkan sebuah tulisan yang benar, sesuai fakta, jujur, tanpa tendensi negatif, tidak provokatif-negatif, dan seterusnya, dapat dilakukan oleh semua orang tanpa harus memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan tertentu. Bertugas sebagai citizen reporter justru akan menjadi wadah strategis bagi setiap orang untuk menjadi pewarta warga yang jujur, berdedikasi, memiliki jiwa sosial yang tinggi, serta melatih diri untuk bertanggung jawab. Seluruh tulisan atau berita yang disampaikan kepada publik, tanggung jawab sepenuhnya berada pada si penulis pribadi. Karena redaksi setiap media pewarta warga manapun tidak bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari sebuah hasil karya para pewarta warga.


Share:

Blog Archive