Berbagi Sebening Hati

Monday, 18 April 2016

Life Begins at Forty


Konon yang mempopulerkan pameo: Hidup dimulai di usia 40, adalah Walter B. Pitkin, yang mengarang buku Life Begins at Forty (Amazon, 1932). Lalu pentolan group band legendaris The Beatles, John Lennon pun menulis dan menyanyikan lagu:

Life Begins At 40

They say life begins at 40
Age is just a state of mind
If all that's true
You know that I’ve been dead for 39
And if life begins at 40
Well, I hope it ain't the same
It's been tough enough without that stuff
I don't wanna to be born again

Well, I tried to sweep the slate clean
With a new broom every day
If that don't work
I'll jerk around until my next birthday
Yeah, life begins at 40
Age is just a state of mind
Well, if all that's true
You know that Ive been dead for 39

Ya, kehidupan dimulai di usia 40. Tapi bukan berarti usia sebelumnya orang belum bernyawa, atawa sebagaimana dikatakan almarhum suaminya Yoko Ono, bahwa di usia 39 dirinya sudah mati. Bukan. Melainkan kematangan dalam sikap dan perilaku.

Akan tetapi jauh sebelum Walter B. Pitkin maupun John Lennon menulis hal tersebut, sebagaimana yang saya baca dalam status di wall Facebook anak saya beberapa hari lalu, bahwa sekitar 13 abad yang lalu, Muhammad SAW telah menyampaikan firman Allah SWT yang berbunyi:

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

Ya, membaca firman Allah SWT, saya menjadi bergidik dibuatnya. Sungguh. Usia saya sudah tua. Dan sudah lama melewati usia 40. Andaikan saja merujuk pada angka harapan hidup rata-rata bangsa Indonesia di tahun 2014 ini yang bisa mencapai usia 72 tahun, maka kesempatan saya untuk menghirup udara di dunia ini tinggal 15 tahun lagi.

Padahal saya merasa, sikap dan perilaku saya sehari-hari acapkali masih goyah. Belum ajeg. Atawa Istiqamah, seperti dulu pernah dikatakan guru ngaji saya. Belum lagi memang. Terkadang ego yang mengarah pada sifat kekanak-kanakan pun masih juga muncul.

Kalau saja diamsalkan dengan buah mangga, bisa jadi saya ini tidak matang dipohon. Sementara rasanya tidak manis, alias masih kecut dan keras pula.

Akan tetapi, terlepas dari hanya usia saja yang sudah tua, dan sikapnya masih seperti bocah yang tidak jelas juntrungannya, di sisa umur saya yang entah akan sampai mencapai 72 – atau berharap seperti yang dikatakan Chairil anwar: Ingin hidup seribu tahun lagi, semoga saya dapat memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya. Agar betul-betul matang seperti disebutkan Walter B. Pitkin, juga sebagaimana disabdakan Allah SWT. Paling tidak di sisa hidup ini saya dapat memiliki arti bagi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekitar.


Sumber Ilustrasi
Share:

Blog Archive