Berbagi Sebening Hati

Monday, 18 April 2016

Mata yang Tergoda Daun Muda


Usia saya tak muda lagi. Awal tahun ini tepat kepala 5 plus 3. Sudah tua memang. Secara fisik, garis-garis yang menegaskan saya telah tua semakin jelas kelihatan. Rambut di kepala sudah hampir memutih semuanya. Kulit pun mulai tampak keriput. Dan vitalitas pun pelan-pelan mulai terasa berkurang. Bahkan sejak setahun lalu, sudah ada yang  memanggil: Kakek pada saya - yaitu cucu pertama dari anak perempuan saya.

Demikan juga secara mental-spiritual, saya tak lagi binal. Sebagaimana dulu di masa muda, saya akui banyak berbuat hal-hal maksiat. Tapi sejak menginjak usia 40,  saat anak-anak telah mengerti alif bata, saya mulai mulai merubah gaya hidup 'urakan' itu, saya mulai belajar bertobat, sekaligus menjauhi segala macam yang kelak akan membuat saya sengsara di akhirat.

Tapi sebagai manusia normal, semangat untuk hidup lebih lama di muka bumi ini masih tetap berkobar. "Aku mau hidup seribu tahun lagi"-nya Chairil Anwar masih tetap melekat kuat. Apalagi sejak sembilan bulan lalu, gairah untuk hidup kian membumbung tinggi. Ada perubahan yang sedemikian drastis dalam diri saya, memang

Hal itu membuat orang di sekitar saya keheranan.

Sungguh. Saya sendiri tidak menyangka dengan munculnya gairah yang berpendar-pendar bak bunga api itu.

Betapa tidak. Setiap saat, dalam sadar maupun tidak, saya selalu merindukan daun-daun muda! Seperti kerinduan seorang jejaka kepada gadis pujaannya. Hati saya berdebar kencang, bila daun-daun muda tampak di depan mata. Dan tanpa ada kompromi, saya langsung terus memetiknya.

Seakan tak kenal waktu lagi. Sekalipun hendak berangkat ke kantor, atau sebaliknya, begitu tampak ada daun muda, tak pernah saya biarkan dia tumbuh berkembang lagi.

Dengan nyinyir, sering istri saya menyindir, "Tuh, mata Bapakmu sekarang suka jelalatan kalau melihat daun-daun muda." Itu dikatakannya pada anak kami yang bungsu.

Begitu juga dengan tetangga, "Si akang sekarang sudah berubah, " bisik-bisiknya pada yang lain.
Malahan seorang kolega, dengan sedikit bergurau, menuduh i saya telah kemasukan arwah binatang. "Barangkali kamu telah kerasukan roh kambing bandot, ya?"
Saya tak menanggapinya, saya justru mengajaknya, untuk mengikuti 'jejak' yang sedang dijalani oleh saya.
"Daripada duduk melamun tidak karuan, mending seperti saya ini. Ada aktivitas. Paling tidak sebagai obat awet muda tokh?" kata saya dengan percaya diri yang tinggi.

Kalau sudah dijawab begitu, paling mereka bilang, "Ya nantilah..."

Saya pun semakin tidak mempedulikan mereka.

Terus terang, dalam memburu daun-daun muda  saya masih memiliki tanggung jawab moral. Setidaknya saya tidak asal petik sembarang petik. Etika tetap dikedepankan. Tokh saya masih tetap mengingat, bahwa saya masih ingin selamat di akhirat kelak. Sehingga dalam menjalankan kegiatan memburu daun-daun muda ini dapat berjalan mulus dan lancar.

Misalnya kalau daun-daun muda itu, ada di halaman rumah orang, dan tampak ranum menggairahkan, maka saya minta ijin dulu pada pemiliknya. Sementara jika daun-daun muda itu saya temui di tepi jalan, atau di tanah lapang, kenapa tidak, sudah pasti langsung disikat.

Sudah seminggu ini semangat memburu daun-daun muda terasa kian menggila.  Bahkan bagaikan sudah lupa segalanya.

Semua itu  karena piaraan saya jadi bertambah dua. Semuanya jadi empat, setelah kambing betina melahirkan dua ekor anaknya yang lucu-lucu... ***


(Selain menulis, kegiatan saya jadi bertambah. Saya memelihara kambing peranakan etawa. Selain untuk klangenan, siapa tahu ada penghasilan tambahan. Lumayan, 'kan.)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/arsudradjat/mata-yang-tergoda-daun-muda_550b8ff6813311ef17b1e48b

Sumber gambar Ilustrasi
Share:

Blog Archive