Berbagi Sebening Hati

Sunday, 17 April 2016

Orang Tasikmalaya Ini Pernah Jadi Presiden di Korea


TUHAN tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali oleh dirinya sendiri. Demikian pesan guru ngaji yang masih terngiang di telinga Haris Pratama Ibrahim (40), tatkala kenyataan di depan matanya bagai sebuah tembok besar yang menghalangi langkahnya, saat itu. Tahun 1999 lalu.

Betapa tidak. Hidupnya telah menanggung beban tanggung jawab, saat akad nikah dengan Rita, gadis pilihan hatinya baru saja dilangsungkan. Sementara pekerjaan tetap sebagai sumber kehidupan seorang kepala rumah tangga, belum pula jelas. Dengan selembar ijasah SMA, paling banter ya hanyalah bisa jadi buruh pabrik.

Iklim lapangan pekerjaan di Indonesia hingga saat ini belum menjanjikan, memang. Ada terbersit untuk berwiraswasta. Namun itupun hanyalah impian belaka. Adik-adiknya masih membutuhkan perhatian Ibunya yang telah berstatus single parent, yang hanya mengandalkan pensiunan peninggalan almarhum ayahnya, menjadi pertimbangan lain untuk tidak jauh berpikir ke  arah sana.

Padahal Haris ingin membahagiakan istri tercinta. Dengan hidup layak, sebagaimana mimpi-mimpi pasangan muda yang baru mulai mengarungi bahtera rumah-tangga.

Tak ada pilihan lain. Untuk menggapai mimpinya, Haris pergi ke kota Metropolitan. Yang bagi sebagian besar warga kampungnya banyak memberi harapan. Berbekal tekad kuat ia memulai petualangan di rimba metropolitan untuk mencari lowongan pekerjaan, dengan melamar ke perusahaan-perusahaan besar. Hingga ahirnya terdampar di daerah Cakung - Bekasi.

Sebuah perusahaan otomotif , memberinya kesempatan untuk memulai langkahnya. Dan ia ditempatkan sebagai tenaga las, dengan gaji yang tidak cukup untuk hidup satu bulan. Namun dengan sedikit ‘kabisa’-nya sebagai tukang las, menjadi modal kelak yang akan membawa langkah hidupnya ke negeri ginseng.

Memang, di Bekasilah Haris berkenalan dengan sebuah perusahaan PJTKI, sehingga mimpinya kian melayang jauh.  Demi masa depan yang cerah, berpisah jauh dari istri tercinta pun mesti dilakoni, bisik hatinya.  Ya, Haris telah tergiur dengan gaji yang ditawarkan PJTKI.

Berpisah selama dua tahun, tidak mengapa, asal pulangnya kelak dapat membawa uang yang lumayan untuk dijadikan modal, tokh untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan harus ada pengorbanan, demikian kata hatinya.

Dan meski berat hati, sang istri tercinta pun akhirnya melepas kepergian Haris.  Saat itu, 12 Nopember 1999, sekitar dua minggu menjelang masuk bulan Ramadhan, Haris terbang menuju Korea selatan. Dan tiba di tujuan, disambut cuaca musim dingin yang menggigit sampai  tulang sum-sum.

Oleh agen Haris ditempatkan di Kota Chonju, dekat dengan perbatasan Korea utara, dan dipekerjakan sebagai tenaga welding sections (pengelasan) di Hyundai Industrial complex, dengan gaji pertama senilai Rp 3,5 juta.

Di sela-sela waktu luang, Haris aktip memperdalam agama yang dianutnya, Islam. Hal itu ia lakukan, selain untuk mempertebal keimanannya, juga untuk membendung godaan dari hal-hal yang dianggap bisa membuyarkan impiannya.

Di samping itu, selama kurun waktu kontrak kerjanya, Haris pun berhasil mengikuti tes bahasa Korea dengan baik. Sehingga tanpa terasa, setelah tiga tahun ia bergulat dengan pekerjaan dan berbaur dengan kerinduan , akhirnya Haris kembali ke pelukan istri tercinta.



Dengan modal dari hasil  bekerja selama itu, Haris membuka usaha ayam potong di kota Bandung. Dalam waktu singkat, omsetnya dapat mencapai Rp 10 juta per hari. Dan itu membuatnya semakin bersemangat untuk menggapai mimpinya yang belum semuanya terwujud.

Menginjak tahun ke tiga sebagai pengusaha ayam potong, ternyata takdir berkata lain. Wabah flu burung  menjungkir-balikan keadaan. Usahanya yang baru saja melesat naik, tiba-tiba secara drastis langsung anjlok ke titik nadir. Sampai modal pun secara perlahan mulai habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tak ada pilihan lain. Haris yang dilahirkan  22 Maret 1971 itu akhirnya kembali menjadi TKI, dan terbang menuju Korsel, di tahun 2005 itu. Kali ini ia ditempatkan di kota Ansan, yang masuk Propinsi Seoul.

Dengan bekal pengalaman kontrak yang pertama, mejalani kehidupan sebagai pekerja migrant de negeri orang tidaklah sesulit sebagaimana kali pertama.

Bahkan tak lama tinggal di sana, Haris mendapat kepercayaan menjadi Presiden ICC (Indonesian Community in Corea), atau komunitas warga Indonesia di Korea,  khususnya yang berada di propinsi Seoul, dan tercatat sebanyak 33.000 pekerja migrant asal Indonesia menjadi tanggung jawabnya.

Ada pengalaman yang menarik, ungkapnya, pejabat BNP2TKI yang menjadi mitranya, selain pejabat kedubes dan konsulat di Seoul, tentu saja, untuk mendapatkan informasi seputar situasi dan kondisi pekerja WNI, cukup menghubungi pihaknya saja.

Begitu pula ketika ada rekan TKI yang bekerja di perusahaan pelayaran, yang meninggal dunia akibat kecelakaan, sebagai pucuk pimpinan Komunitas Warga Indonesia, Haris bahu-membahu mengurus segala hak almarhum rekannya itu hingga mayatnya dapat kembali ke tanah air.

Sementara pihak BNP2TKI dan pejabat kedubes, hanya sebatas mendapat informasinya saja. Lucunya, kepada media, diklaim segala urusan terkait, merekalah yang mengurusnya.

Berkat aktifitas sebagai Presiden ICC itu pula, Haris memperoleh penghargaan dari Wali kota Ansan, sebagai tenaga kerja migrant teladan. Sehingga saat dia dianugrahi penghargaan itu, istri dan putra tercintanya mendapat kesempatan untuk datang menghadirinya, dengan biaya ditanggung pemerintah Korsel. Dengan itu juga, Wali kota Ansan memberik

Dengan itu juga, Wali kota Ansan memberikan fasilitas gedung untuk kegiatan ICC khususnya, dan seluruh WNI yang ada di wilayah Seoul, sehingga aktifitas mereka di luar jam kerja dapat terpantau dengan baik.

Adapun kegiatan yang rutin dilakukan para pekerja migrant di luar jam kerja, mereka dapat menyalurkan minat dan bakatnya, baik di bidang olah raga, seni, maupun hal yang lainnya. Seperti yang dilakukan Haris sendiri, ia membuka sebuah warung makan khas Indonesia, dan dikelola bersama beberapa orang temannya, secara bergantian.

Saat ini Haris, bapak dari dua orang anak ini telah kembali berkumpul bahagia dengan keluarganya di Desa/Kecamatan  Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dan aktifitas sehari-harinya ia memberikan les privat bahasa Korea kepada para pemuda yang berminat sebagai buruh migrant di negeri ginseng itu.

“Salah satu syarat utama untuk menjadi pekerja migrant di Korsel,” ungkapnya, “ Mereka harus menguasai bahasa Korea. “

Haris berani memberi pelajaran bahasa tersebut, akunya, karena sertifikat tingkat lanjutan (Intermediate) bahasa Korea telah dimilikinya.

Selain member les privat, ia pun membuka konsultasi bagi calon TKI di Korsel dari A hingga Z, sehingga mereka diharapkan, apabila telah  lolos tes, tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam menjalani kehidupan di negeri orang. ***


Dapat dibaca juga di: Kompasiana
Share:

Blog Archive